Home » Sulit Mengatasi Dilema? Coba Putuskan dengan Angka

Seringkali kesulitan kita dalam memilih bukan dikarenakan ketidaktahuan kita tentang alasan dari setiap opsi yang ada, tapi justru dikarenakan ada banyaknya alasan dari setiap opsi yang sama-sama masuk akal di benak kita. Itulah dilema.

Kita memang akan lebih sulit memilih jika semua opsi yang ada tampak bagus secara merata ketimbang jika salah satunya berbeda kualitas secara nyata.

Meski begitu, apa yang tampaknya bagus terkadang tidak sebagus yang dibayangkan ketika kita melihatnya lagi lebih dalam. Begitupun sebaliknya: apa yang tampaknya buruk terkadang tidak seburuk yang dibayangkan ketika kita melihatnya kembali.

Kita manusia memiliki keterbatasan kognitif ketika harus menimbang banyak opsi sekaligus secara akurat. Keterbatasan inilah yang disebut Bounded Rationality oleh Herbert Simon, ekonom peraih Hadiah Nobel. Sehingga, keputusan sehari-hari kita, sebetulnya, lebih sering diambil berdasarkan kesan dominannya saja.

Itulah keterbatasan inheren kita. Dan itulah mengapa cara kita memilih menjadi penting.

Bagaimanapun, menurut saya, teorinya Simon itu baru menyentuh cara kerja otak manusia pada situasi normal, yang sifatnya implisit. Jadi, kita mungkin tetap bisa memproses berbagai opsi sekaligus secara akurat apabila dilakukan secara eksplisit.

Untungnya ada banyak cara untuk membantu kita mengatasi dilema secara eksplisit, salah satunya dengan menerjemahkan opsi yang tersedia ke dalam angka.

Konsepnya adalah kita menentukan skor akhir dari masing-masing opsi dengan memperhitungkan kriteria-kriteria penilaian yang telah dibobotkan (weighted criteria).

Kerangka kerjanya: pertama, perjelas opsi; kedua, menentukan kriteria penilaian; ketiga, membobotkan masing-masing kriteria penilaian; dan terakhir, skoring.

Kita bisa terapkan metode ini untuk mengatasi hampir semua bentuk dilema.

Misalnya, yang nyata pernah saya alami: saya dilema tentang moda transportasi yang harus saya gunakan untuk berangkat dan pulang kerja.

Sesuai kerangkanya, pertama-tama saya harus perjelas dulu opsinya. Saat itu opsi yang tersedia adalah mengendarai motor saya sendiri sebagai Opsi A dan menggunakan layanan ojek online (ojol) sebagai Opsi B.

Selanjutnya, saya beralih ke tahap kedua, yaitu penentuan kriteria penilaian. Ini adalah tahap yang cukup tricky karena akurasi skor akhir sangat bergantung pada kerangka ini.

Di sini, bukan saja kita harus memastikan seluruh kriteria penting sudah kita libatkan dengan jujur, melainkan pula memberikan persentase bobot seobjektif mungkin (tidak asal tembak) untuk setiap kriteria agar bias personal bisa ditekan seminimal mungkin.

Saya harus tekankan dengan frasa “jujur” karena penentuan kriteria tidak dibatasi hanya pada hal-hal teknis, melainkan juga psikologis (“gengsi”, misalnya). Kita tidak perlu malu mengakuinya jika ingin skor akhir yang komprehensif.

Ada metode yang cukup bagus untuk meminimalkan bias dalam pembobotan kriteria, yang dinamakan Pairwise Comparison—metode yang sederhana. Namun mari kita petakan dulu kriteria-kriteria penilaian yang lazim untuk contoh kasus ini.

Coba bayangkan, jika Anda dalam posisi harus memilih antara mengendarai motor Anda sendiri (Opsi A) atau menggunakan ojol (Opsi B) untuk mobilitas kerja sehari-hari, kira-kira faktor penting apa saja yang bisa mempengaruhi pilihan Anda?

Bagi saya, itu adalah:

  1. Biaya per bulan (bensin+parkir+perawatan motor vs total ongkos ojol harian)
  2. Waktu tempuh (termasuk nunggu ojol datang vs langsung jalan pakai motor sendiri)
  3. Fleksibilitas jadwal (bisa berangkat/pulang kapan saja tanpa menunggu vs tergantung ketersediaan ojol)
  4. Keamanan & risiko kecelakaan (mengemudi sendiri vs dibonceng orang lain)
  5. Kenyamanan fisik (kelelahan mengemudi sendiri vs bisa main HP di jok belakang)
  6. Praktikalitas untuk keperluan lain (motor bisa digunakan untuk keperluan mendadak di luar jam kerja/kerjaan sampingan, ojol tidak available on-demand kalau motor tidak ada)
  7. Wibawa/gengsi (terlihat memiliki otoritas atas motor sendiri vs terlihat di bawah kendali pengemudi ojol)

Jadi, ada total 7 kriteria penting menurut saya.

Selanjutnya saya akan gunakan metode Pairwise Comparison agar pembobotan kriteria bisa meminimalkan bias personal dan dilakukan dengan lebih bertanggung jawab (daripada hanya menebak-nebak “kriteria ini bobotnya segini, kriteria itu segitu, dst”).

Caranya sederhana, kita hanya perlu menandingkan tiap kriteria di atas satu lawan satu dan ulangi untuk semua pasangan kriteria. Ini bertujuan untuk mengetahui kriteria mana yang lebih penting di tiap pasangan. Dengan demikian bobot yang didapat lebih terukur.

Mari kita simulasikan versi saya:

NoPasanganPemenang
11 vs 2 — Biaya vs Waktu tempuh?2
21 vs 3 — Biaya vs Fleksibilitas jadwal?3
31 vs 4 — Biaya vs Keamanan?1
41 vs 5 — Biaya vs Kenyamanan fisik?1
51 vs 6 — Biaya vs Praktikalitas lain?6
61 vs 7 — Biaya vs Wibawa?1
72 vs 3 — Waktu tempuh vs Fleksibilitas jadwal?2
82 vs 4 — Waktu tempuh vs Keamanan?2
92 vs 5 — Waktu tempuh vs Kenyamanan fisik?2
102 vs 6 — Waktu tempuh vs Praktikalitas lain?2
112 vs 7 — Waktu tempuh vs Wibawa?2
123 vs 4 — Fleksibilitas jadwal vs Keamanan?3
133 vs 5 — Fleksibilitas jadwal vs Kenyamanan fisik?3
143 vs 6 — Fleksibilitas jadwal vs Praktikalitas lain?6
153 vs 7 — Fleksibilitas jadwal vs Wibawa?7
164 vs 5 — Keamanan vs Kenyamanan fisik?4
174 vs 6 — Keamanan vs Praktikalitas lain?6
184 vs 7 — Keamanan vs Wibawa?7
195 vs 6 — Kenyamanan fisik vs Praktikalitas lain?6
205 vs 7 — Kenyamanan fisik vs Wibawa?7
216 vs 7 — Praktikalitas lain vs Wibawa?6

Setelah semua kriteria ditandingkan, kita bisa merekapnya seperti ini (diurutkan dari pemenang terbanyak):

KriteriaMenangBobot
2. Waktu tempuh6/2128,5%
6. Praktikalitas lain5/2123,8%
1. Biaya per bulan3/2114,3%
3. Fleksibilitas jadwal3/2114,3%
7. Wibawa/gengsi3/2114,3%
4. Keamanan & risiko kecelakaan1/214,8%
5. Kenyamanan fisik0/210%

Kriteria yang paling banyak menang akan mendapatkan bobot terbesar. Persentase bobot pun dihitung dengan cara yang terukur, yaitu membagi jumlah kemenangan masing-masing kriteria dengan total keseluruhan pertandingan (contoh: waktu tempuh = 6 ÷ 21 = 28,5%).

Tahap ini adalah tahapan favorit saya karena ini adalah sumber dari fakta-fakta menarik. Kita bisa lihat kriteria “Kenyamanan fisik” sebagai contohnya.

Di awal, subjektivitas saya mengatakan bahwa faktor kenyamanan adalah kriteria penting yang harus diperhitungkan. Akan tetapi, ketika diadu head-to-head dengan kriteria lain, ternyata nilainya tidak sepenting yang dibayangkan.

Setelah dipikir-pikir kekalahan kriteria ini bukan hanya persoalan teknis di pairwise, tetapi secara substansi tidak material (kenyamanan fisik antara membawa motor sendiri dengan duduk dibonceng tukang ojek tidak berbeda signifikan bagi saya).

Hasil semacam ini sering juga muncul di kasus yang lain.

Karena “Kenyamanan fisik” tidak memiliki bobot sebagai kriteria, kita tidak perlu lagi melibatkannya di tahap berikutnya—tahap terakhir, yaitu skoring.

Dengan skoring, kita akan tahu berapa sebetulnya nilai terukur dari persepsi kita terhadap masing-masing opsi, ditinjau dari masing-masing kriteria.

Mari kita simulasikan lagi. Saya akan menggunakan skala penilaian 1-5 sebagai ukurannya, di mana 1 = sangat buruk dan 5 = sangat baik. Silakan simak tabel berikut:

KriteriaOpsi A
(Mengendarai Motor Sendiri)
Opsi B
(Menggunakan Ojol Harian)
2. Waktu tempuh54
6. Praktikalitas keperluan lain53
1. Biaya per bulan42
3. Fleksibilitas jadwal53
7. Wibawa/gengsi43
4. Keamanan & risiko kecelakaan33

Dengan demikian, kita bisa memadukan skor tersebut dengan bobot masing-masing kriteria di atas, sebagai berikut:

KriteriaBobotSkor ATertimbang ASkor BTertimbang B
2. Waktu tempuh28,5%51,4341,14
6. Praktikalitas keperluan lain23,8%51,1930,71
1. Biaya per bulan14,3%40,5720,29
3. Fleksibilitas jadwal14,3%50,7130,43
7. Wibawa/gengsi14,3%40,5730,43
4. Keamanan & risiko kecelakaan4,8%30,1430,14
TOTAL100%4,623,14

Ternyata Opsi A (motor sendiri) menang cukup meyakinkan — 4,62 vs 3,14. Ingat, kemenangan ini dikatakan cukup meyakinkan bukan karena skor Opsi A tinggi semata, melainkan karena selisihnya cukup lebar dari Opsi B (1,48 poin dari skala maksimum 5).

Dengan begitu, semakin jelas bagi saya (pada saat itu) bahwa persepsi tentang mengendarai motor sendiri bernilai lebih baik daripada persepsi tentang menggunakan layanan ojol harian. Maka, semakin berkurang keraguan saya untuk memilih opsi tersebut (nyatanya saya memang memutuskan mengendarai motor sendiri).

Begitulah angka bisa mengatasi dilema saya.

Anda pun bisa menggunakannya untuk mengatasi dilema Anda sendiri di hampir semua konteks kehidupan (kecuali konteks yang berbasis prinsip/nilai mutlak).

Anda hanya perlu sedikit usaha untuk mengubah persepsi Anda ke dalam angka. Setelah itu Anda akan merasa bahwa mengatasi dilema adalah salah satu hal yang cukup menyenangkan dalam hidup (kecuali jika Anda memang lebih suka terlarut dalam dilema).

Bagaimanapun, metode ini tetap punya keterbatasan.

Seperti yang saya singgung sebelumnya, akurasi hasil akhir bergantung pada kriteria yang dipilih di awal. Kalau ada kriteria penting yang terlewat (atau kriteria yang tidak penting malah dilibatkan), hasilnya bisa menyesatkan meski perhitungannya sendiri benar. Istilah kerennya: garbage in, garbage out.

Lalu, meskipun terlihat objektif, bobot dan skor sebetulnya tetap subjektif. Metode ini hanya mengurangi bias personal, bukan mengeliminasinya; dan ini bukan alat untuk menemukan kebenaran objektif, tapi alat untuk membuat penalaran implisit menjadi eksplisit.

Keterbatasan lainnya adalah soal jangka waktunya. Metode ini bersifat statis (cuma menangkap preferensi di satu titik waktu). Kriteria sangat mungkin berubah seiring waktu sehingga metode ini tidak bisa digunakan sebagai tolok ukur berkelanjutan.

Namun, tetap saja metode ini sangat berguna untuk mengatasi dilema daripada cuma mengandalkan tebak-tebakan.

Ngomong-ngomong, metode ini punya namanya sendiri: Decision Matrix Analysis. Kerangka kerjanya mungkin sudah saya modifikasi, tapi konsepnya tetap sama: skoring persepsi.

Pada dasarnya, matriks ini bisa kita gunakan untuk menilai lebih dari dua opsi. Tapi saya lebih menyarankan untuk menggunakannya pada dua opsi saja (lagipula kita sedang membahas mengatasi “dilema”, bukan “trilema” ataupun “polilema”).

Jadi, silakan gunakan matriks ini untuk dilema. Jikapun Anda punya terlalu banyak opsi, tandingkan saja semuanya hingga mengerucut ke dua pilihan terbaik.

Saya sudah buatkan templat Excel-nya supaya Anda bisa menggunakan matriks ini secara lebih mudah. Kalau tertarik, silakan ketikkan alamat email Anda di kolom komentar. Nanti saya kirimkan file-nya.

Selamat mencoba!

Apa penilaian Anda tentang artikel ini?
+1
0
+1
0

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.