
Sampai kapan pun, ekuitas tidak akan pernah melibatkan popularitas pemiliknya. Maka, menganggapnya bisa menjadi modal usaha adalah sesesat-sesatnya sesat pikir.
Siapa pun, terutama yang merasa dirinya populer, harus menyadarinya secara konseptual, bukan secara metafora belaka. Maka, pilihan terbaik bagi mereka sebelum memulai usaha adalah memahami konsep dasar akuntansi.
Kata Warren Buffett, akuntansi itu bahasa sebuah bisnis. Maka, ibarat kehidupan sehari-hari, kita tidak mungkin bisa berinteraksi tanpa sebuah bahasa, kan?
Bahasa sebuah bisnis itu sebetulnya tidak serumit yang dibayangkan. Si populer—atau siapa pun itu—cukup mengerti satu rumus pentingnya dulu, yaitu Aset = Liabilitas + Ekuitas.
Mengapa ini penting? Karena apa yang selebihnya akan mereka lihat dalam akuntansi hanyalah pengembangan dari rumus sederhana—namun brilian—itu.
Tapi saya tidak dalam posisi ingin terlalu rinci soal itu di sini. Anda bisa simak tulisan-tulisan saya terdahulu untuk mengetahuinya (silakan klik di sini, di sini, dan di sini).
Di sini, saya lebih ingin menekankan tentang hakikat ekuitas dalam rumus dasar tadi, yang sepertinya banyak didistorsikan oleh beberapa kalangan, terutama si populer.
Maksudnya, banyak dari si populer yang menganggap ekuitas itu dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh popularitas mereka, sehingga mengaburkan hakikatnya.
Padahal, ekuitas adalah murni apa yang kita siapkan sebagai pengorbanan dalam menjalankan roda usaha, yang nilainya bisa diukur. Itulah hakikat ekuitas atau modal.
Jika Anda membuka usaha dengan modal uang tunai Rp1 miliar, neraca usaha Anda hanya akan menampilkan angka yang sama di bagian ekuitas, tidak lebih dan tidak kurang. Popularitas Anda tidak berhak dilibatkan di situ (lebih tepatnya memang tidak bisa).
Pengorbanan Anda untuk menggapai tangga popularitas adalah hal lain yang tidak bisa dikaitkan dengan angka-angka di neraca usaha Anda, betapa pun populernya Anda. Ini yang perlu Anda pahami dulu.
Kalau pun harus dianggap berpengaruh, mungkin popularitas Anda hanya penting sebagai katalis produk/merk yang Anda jual, bukan sebagai bagian dari ekuitas, apalagi aset tak berwujud, usaha Anda.
Tapi apakah katalis seperti itu bersifat jangka panjang? Yang saya yakini, katalis itu tidak mungkin bertahan lama kalau tidak dibarengi dengan kualitas produknya. Apalagi jika dalam perjalanannya usaha tidak dijalankan dengan pondasi tata kelola dan pengendalian internal yang baik.
Untuk menjalankan semua itu, jelas si populer tidak bisa hanya mengandalkan popularitasnya, melainkan harus dibarengi dengan wawasan manajerial yang memadai.
Jika tidak, kita hanya akan melihat lebih banyak kasus bisnis artis yang akhirnya bubar, entah itu karena salah kelola atau pun penyelewengan yang menggerogoti di dalamnya.
Sudah cukup banyak contoh kasusnya, bahkan bisnisnya Jerome Polin—seleb yang dikenal pintar matematika—pun termasuk. Anda bisa mencari sendiri yang lainnya di Internet.
Ini mempertegas bahwa popularitas pemilik tidak menjamin bahwa sebuah bisnis bisa terus berlanjut. Jadi, mari jadikan ini sebagai pembelajaran, terutama bagi Anda yang tergolong populer.
Selalu ingat, ketika berbisnis, Anda tidak hanya sedang berurusan dengan kepentingan Anda sendiri, melainkan kepentingan banyak pihak. Semua yang terlibat atau memiliki hubungan dengan—dan terpengaruh secara langsung oleh—bisnis Anda, merekalah para pemangku kepentingan (stakeholders) bisnis Anda.
Yang ikut menaruh modal di bisnis Anda (pemegang saham); yang berharap manfaat dari membeli produk Anda (pelanggan); yang berharap dapat terus menyokong operasional bisnis Anda dengan produknya (vendor); hingga yang mendedikasikan waktu dan tenaga bekerja dengan Anda untuk menghidupi keluarganya (pegawai), mereka adalah stakeholders dalam bisnis Anda.
Maka, bisnis harus dibangun dengan sangat serius dan semangat yang bertanggung jawab. Menjaga kelangsungan dan keberlanjutan bisnis adalah salah satu manifestasinya, yang menuntut Anda terampil manajerial.
Sementara, hanya mengandalkan popularitas dalam menjalankan bisnis adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab, yang saya yakin tak satu pun dari pembaca tulisan ini yang seperti itu. Semoga.