
Perubahan sikap sejatinya adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Yang barangkali tidak biasa adalah menyadari konsekuensi-konsekuensi dari perubahan ini—yang di sini diistilahkan sebagai biaya inkonsistensi.
Tidak semua perubahan dapat kita kategorikan sebagai inkonsistensi—memang. Namun, ketika perubahan itu tampak terlalu “telanjang,” batas antara keduanya sering kali menjadi sangat tipis.
Yang saya maksud dengan perubahan telanjang adalah perubahan yang:
- Terjadi sangat tiba-tiba dan tajam.
- Tidak dibarengi dengan penjelasan yang proporsional/rasional/bahkan masuk akal.
- Terkesan dipaksakan atau lahir dari tekanan.
Apalagi jika sikap atau pernyataan awalnya diambil dengan cara yang lantang, persisten, dan terdokumentasi dengan baik di ruang publik—itu akan membentuk semacam implicit contract dengan audiens, yang secara tidak langsung mengunci pelakunya pada posisi tertentu.
Dan seperti halnya kontrak pada umumnya, pelanggaran terhadapnya hampir tidak pernah benar-benar gratis.
Dalam beberapa waktu terakhir, kita mungkin pernah menyaksikan bagaimana seseorang yang sangat vokal di ruang publik mengambil posisi tertentu dengan begitu lantang dan gigih—bahkan menjadikannya semacam misi pribadi, yang memberinya identitas sebagai seorang kritisi.
Pernyataan demi pernyataan disuarakan, langkah demi langkah di-konpers-kan, diskursus demi diskursus pun dibukukan. Bahkan tingkat keyakinan “11.000 triliun persen” digunakan sebagai penekanan.
Namun, lantas ia berbalik haluan tanpa pertanggungjawaban dan hilang-kemudian.
Banyak yang menyayangkan—kredibilitasnya diragukan, dan martabatnya pun menjadi bahan olok-olokan.
Semua itu menunjukkan adanya harga mahal dari perubahan sikap atas sebuah perjuangan yang kadung diagung-agungkan—padahal semuanya bahkan belum sampai pada kebenaran.
Ibarat seorang guru yang memberikan pelajaran—ketika ia sendiri membangkang dari apa yang diajarkannya, ia hanya menyisakan kebingungan kepada murid-muridnya, alih-alih pencerahan.
Maka, ia harus siap dengan konsekuensinya: rusaknya reputasi dan tidak lagi dipercaya sebagai guru di masa depan.
Itulah biaya dari sebuah inkonsistensi—sesuatu yang sering luput dari perhatian di awal.
Banyak yang lupa bahwa sebelum bersikap, mereka sebenarnya sedang menentukan salah satu prinsip utama dalam ekonomi, yaitu struktur insentif di masa depan. Dan biaya inkonsistensi adalah bagian darinya.
Struktur insentif memang bisa berubah seiring waktu dan manusia akan selalu meresponsnya—ini sudah hukum ekonominya. Tetapi manusia yang berintegritas akan cenderung konsisten pada sikap awalnya, karena ia memahami insentif yang benar baginya sejak awal, dan hanya menghendaki perubahan yang dilandasi oleh kebenaran.
Jadi, bukan berarti kita tidak boleh mengubah sikap, tetapi perubahan itu harus dilandasi oleh alasan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jika kita sudah mengunci diri pada posisi tertentu—apalagi dengan tingkat keyakinan “11.000 triliun persen”—kita pun harus memiliki alasan logis yang sepadan ketika ingin mengubahnya.
Ngomong-ngomong, dalam matematika probabilitas, kepastian harus bernilai maksimum 1 (atau 100% dalam bahasa sehari-hari). Tidak ada ruang untuk angka di atas itu.
Maka, ketika seseorang memakai angka yang lebih tinggi (atau angka yang jauh melampaui batas kewajaran), yang tampak bukan kepastian sebetulnya, tapi justru kerapuhan diskursus yang berusaha disembunyikan di balik hiperbola.
Namun demikian, itu hanyalah sebuah contoh di tingkat tertentu. Inkonsistensi juga bisa terjadi di tingkatan sehari-hari.
Ketika, misalnya, Anda sering tidak sejalan antara ucapan dan tindakan Anda, sering tidak menepati janji, atau sering plin-plan, Anda harus siap menanggung konsekuensi reputasional berupa:
- Hilangnya kepercayaan.
- Rusaknya kredibilitas.
- Hancurnya integritas.
Ingat, pernyataan pertama menciptakan keterikatan—ini yang dimaksud implicit contract.
Karena itu, sebaiknya pikirkan terlebih dahulu sebelum berbicara. (Bukankah, katanya, itu mengapa kita diberikan dua mata dan telinga sementara mulut hanya satu?).
Jadi, perhitungkan segala sesuatunya lebih dahulu matang-matang sebelum Anda melakukan sesuatu. Bahasa ekonominya, tentukan dulu struktur insentifnya sebelum Anda menentukan pilihan.
Jika Anda seorang figur publik, konsep ini harus Anda genggam lebih kuat karena tindak-tanduk Anda terdokumentasi secara terang benderang di ruang publik—dan biaya inkonsistensinya jadi lebih mahal.
Seiring waktu, insentif mungkin berubah, tetapi orang yang berintegritas akan konsisten pada kebenaran—apa pun risikonya.