Home » Mengapa Bukan Ekonom yang Jadi Orang Terkaya di Dunia?
Ekonom tidak menjadi orang terkaya di dunia karena insentif mereka berbeda dengan pebisnis.

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa bukan ekonom yang menjadi orang terkaya di dunia? Padahal, mereka adalah pakar tentang cara uang dan dunia ini bekerja, kan? Tapi, kenapa tak satupun di daftar orang-orang terkaya dunia tahun 2022 versi Forbes yang berasal dari kalangan ekonom, ya?

Coba saja Anda lihat lagi, semua yang masuk dalam daftar tadi adalah para pengusaha, dan tak seorang pun yang ekonom. Padahal, ekonom adalah orang yang mengajarkan kewirausahaan, dan mereka adalah orang yang tahu cara menjalankan bisnis lebih baik daripada siapapun. Mereka adalah orang yang mengerti bagaimana mengatasi kelangkaan dan mengalokasikan sumber daya yang ada.

Mereka juga mengerti dengan baik bagaimana pasar bekerja di bawah hukum penawaran dan permintaannya. Mereka mengerti (dan seringkali senang memprediksi) bagaimana krisis keuangan terjadi. Seorang ekonom bahkan mampu mengaitkan semua itu dengan aspek moralitas.

Steven Levitt dalam bukunya Freakonomics mengatakan, “Jika moralitas mewakili bagaimana kita ingin dunia bekerja, maka ekonomika mewakili bagaimana dunia sebenarnya bekerja.” Ini menunjukkan betapa luasnya cakupan ilmu yang para ekonom miliki itu, bukan?

Namun sekali lagi, mengapa mereka tidak masuk dalam daftar orang-orang terkaya di dunia, ya? Sesungguhnya, ini adalah paradoks lainnya dalam ekonomika yang disebut paradoks ekonom (economist’s paradox).

Antara Memahami Ekonomika dan Mengumpulkan Kekayaan

Banyak orang berasumsi bahwa ekonom seharusnya kaya karena mereka mengerti bagaimana ekonomi bekerja dan bagaimana memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun, ini salah. Pekerjaan utama seorang ekonom bukanlah menghasilkan banyak uang namun memahami bagaimana ekonomi bekerja dan memastikan itu bekerja untuk semua orang.

Untuk melakukan itu, mereka harus mengorbankan sebagian dari kekayaan materi mereka demi mengembangkan pengetahuan ekonomi mereka. Dan seperti yang kita semua tahu, uang tidak bisa membeli pengetahuan.

Banyak ekonom terkemuka (mulai dari yang klasik seperti Ibnu Khaldun hingga yang modern seperti Paul Krugman) mengabdikan waktunya untuk mengajar orang lain tentang ekonomika dan sebenarnya tidak kaya sama sekali. Beberapa ekonom modern lainnya bahkan menganjurkan bahwa ilmu ekonomi harus diajarkan secara gratis. Ini mindset yang jauh berbeda dari para pengusaha/pebisnis.

Ekonom memang mempelajari hal yang sama dengan yang dilakukan pebisnis sukses — mengelola anggaran, memperkirakan masa depan, dan menghasilkan keuntungan — tetapi mereka lebih menekankan kesejahteraan jangka panjang masyarakat ketimbang keuntungan pribadi mereka sendiri. Inilah tujuan utama para ekonom dan ini juga yang membedakan mereka dengan para pebisnis.

Dalam konteks ekonomika, perbedaan tadi lebih dikenal dengan istilah insentif. Insentif adalah imbalan atau hukuman yang mempengaruhi perilaku seseorang. Ekonom memiliki insentif yang bersifat non-finansial berupa kepuasan atas kontribusi yang telah mereka berikan kepada masyarakat luas, sementara pebisnis memiliki insentif bersifat finansial berupa keuntungan materi.

Namun, itu bukan berarti seorang ekonom tidak bisa/boleh mencari keuntungan materi. Setiap orang tentu melakukannya. Hanya saja, peluang yang mereka miliki teramat sangat berbeda.

Pebisnis memiliki peluang untuk meraup keuntungan materi yang lebih besar daripada ekonom karena memang mereka secara khusus berfokus pada mengidentifikasi dan mengejar peluang bisnis serta menghasilkan uang. Maka tak mengherankan jika tak satupun ekonom yang masuk dalam daftar orang-orang terkaya dunia, selagi ukurannya adalah uang.

Bagaimanapun, bisa saja seseorang melakukan dua peran tersebut sekaligus, namun, menjadi pebisnis sekaligus ekonom adalah hal yang sangat sulit dilakukan menurut saya. Ini menyangkut sifat alami kedua profesi dalam memandang dan menilai risiko, dimana ekonom akan cenderung menggunakan pendekatan yang lebih berbasis data, kuantitatif, dan teoritis, sedangkan pebisnis cenderung lebih fokus pada potensi dampak risiko pada bisnis spesifik mereka, dan mungkin lebih mengandalkan pada pengalaman dan intuisi mereka sendiri ketika menilai risiko.

Itulah mengapa kita jarang mendengar nama-nama tokoh yang sukses dalam menjalankan kedua profesi tersebut secara bersamaan. Jikapun ada, saya yakin profesinya sebagai pebisnis akan lebih menonjol ketimbang sebagai ekonom dalam mengantarkannya kepada kesuksesan.

Maka, sudah jelas sekarang mengapa bukan ekonom yang menjadi orang terkaya di dunia. Itu adalah karena seorang ekonom sulit untuk menjadi seorang pebisnis di waktu yang bersamaan. Mereka memiliki perbedaan yang mendasar. Mindset, toleransi terhadap risiko, dan tujuan mereka teramat berbeda dan itu semua sulit untuk padukan.

Jadi, apakah orang terkaya itu memang harus pebisnis? Faktanya, saat ini memang demikian adanya.

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.