Home » Menggali Logika Retorika 11.000 Triliun Persen
11.000 triliun persen adalah ketidaklogisan secara matematis bagi sebuah keyakinan.

Meyakinkan orang lain bisa dilakukan dengan beraneka cara, termasuk mengatakan “Saya yakin 11.000 triliun persen,” seolah tingkat keyakinan 100 persen tak lagi bermakna.

Seperti yang mungkin Anda juga tahu, frasa itu belakangan kembali mencuat dari beberapa tokoh yang sedang bertentangan di kasus tertentu. Tokoh di kubu tertentu mengemasnya dengan argumentasi sehingga terkesan ilmiah, sementara yang satu lagi murni beretorika.

Intinya, masing-masing tokoh yakin bahwa diri atau kubunya yang paling benar.

Ngomong-ngomong, angka 11.000 triliun memang sempat menjadi trending topic di X (dahulu Twitter) karena, katanya, uang warga negara kita yang sebanyak itu “terparkir” di luar negeri.

Entah, apakah itu yang menginspirasi para tokoh tadi menggunakannya kembali. Yang jelas itu adalah angka yang sangat fantastis — terlalu fantastis bagi diri ini untuk membayangkannya sebagai tumpukan uang.

Tapi, mari tidak membahasnya sebagai sebuah tumpukan, melainkan sebagai tingkat keyakinan.

Dan mari berteoretis, alih-alih berpolitis.

“11.000 Triliun Persen” dalam Teori

Kita semua tahu bahwa keyakinan “11.000 triliun persen” itu adalah retorika, dan retorika pada hakikatnya bukan sesuatu yang buruk — ia hanyalah seni meyakinkan orang lain.

Bahkan filsuf Aristoteles pun mendukung retorika, hanya saja dengan batasan yang jelas.

Sebagaimana di Aristotle on Rhetoric (Kennedy, 1991), retorika disebut sah jika memenuhi elemen persuasi berikut:

  • Logis (Logos)
  • Disampaikan oleh orang yang kredibel (Ethos)
  • Menyentuh emosi audiens (Pathos)

Meskipun di tulisan aslinya ketiga elemen itu tidak diurutkan secara hirarkis, wajar jika logos ditaruh pertama: elemen ini menjadi satu-satunya elemen yang dapat dievaluasi secara objektif.

Agar kita tahu retorika itu logis atau tidak, kita perlu melibatkan konsep-konsep lain, dan probabilitas jadi konsep yang paling relevan.

Dalam konsep ini, sebuah keyakinan hanya bisa berada di rentang 0 sampai 1, atau 0% sampai 100%. Ini adalah aksiomanya — siapa pun yang terbiasa dengan konsep ini mestinya tahu betul (apalagi seorang peneliti).

Maka keyakinan di atas 100 persen adalah tidak mungkin secara matematis.

Melontarkan keyakinan hingga 11.000 triliun persen sama saja dengan mengatakan, “Saya tak mungkin salah, bahkan secuil pun!”

Menurut Teori Falsifiabilitas, ketidakmungkinan semacam itu justru sesuatu yang tidak mungkin karena di ranah ilmiah, klaim ilmiah harus bisa berpotensi salah (Popper, 1959).

Artinya harus ada kondisi yang, kalau terjadi, akan membuatnya gugur. Pertanyaannya: apa yang bisa menggugurkan keyakinan setinggi triliunan persen?

Secara hipotetis, tidak ada!

Kalau pun ada, itu hanya akan membuat retorika tadi semakin tidak logis. Dan pastilah itu mahal bagi reputasi pemiliknya.

Kesimpulannya, jika tiga elemen Teori Retorika Aristoteles harus dianggap sebagai satu kesatuan, pijakan logika retorika keyakinan “11.000 triliun persen” menjadi sangat lemah.

Teori Probabilitas hanya memberi ruang antara 0% hingga 100% bagi keyakinan, dan Teori Falsifiabilitas mensyaratkan bahwa klaim ilmiah harus terbuka untuk dipertentangkan.

Sehingga retorika tadi tidak berarti apa-apa selain rapuh secara logika — meskipun dilontarkan oleh seseorang yang kredibel dan mampu menyentuh emosi audiensnya.

Maka sangat disayangkan apabila retorika ini digunakan di ruang publik — yang seharusnya mendidik — oleh orang-orang yang justru mengaku terdidik — namun malah saling menghardik.

Suatu klaim ilmiah mungkin saja belum bisa dibantah, tetapi ia tidak boleh dianggap tidak bisa dibantah. Jika tidak, itu bukan lagi sebuah keyakinan analitis, melainkan keyakinan dogmatis.

Dengan mengatakan yakin benar hingga 11.000 triliun persen, di ruang publik pula, seseorang sebetulnya sedang mengunci diri pada posisi tertentu. Maka, pertanyaannya bukanlah “Seberapa yakin dirinya?” — melainkan “Seberapa kuat buktinya?”

Jika tidak bisa membuktikan, ia harus siap reputasinya hancur berantakan.

Tapi konyol sih kalau keyakinan sefantastis itu tidak dibarengi bukti yang sama fantastisnya. Lebih konyol lagi kalau ia malah tiba-tiba “membuktikan” yang sebaliknya.

Namun demikian, pembuktian hanyalah persoalan lainnya. Persoalan utamanya tetap di basis logis retorikanya.

Retorika keyakinan 11.000 triliun persen tidak memiliki pijakan logika yang memadai sehingga patut dipertanyakan keabsahannya.

Apa penilaian Anda tentang artikel ini?
+1
0
+1
0

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.