Hal-Hal dalam Ilmu Ekonomi yang Kita Semua Perlu Ketahui

(Imgkid.com)

Ekonomi merupakan satu aspek penting dalam kehidupan umat manusia. Banyak, jika tidak semua, keputusan yang dalam proses pertimbangannya terdistorsi oleh urusan-urusan ekonomi, tak hanya dalam skala kehidupan bermasyarakat namun juga bernegara. Dalam hal bernegara, ekonomi bahkan menjadi salah satu pilar utama yang menjadi fokus suatu pemerintahan. Itulah mengapa isu-isu seputar ekonomi sering merajai kolom topik utama (headline) di berbagai media cetak maupun elektronik.

Semua orang pasti sepakat kalau urusan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Selama manusia masih memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhannya, prinsip-prinsip ekonomi akan selalu memainkan perannya. Ketika Anda bertransaksi, apapun bentuknya, Anda telah menjalankan prinsip-prinsip ekonomi. Prinsip-prinsip ekonomi pun telah Anda jalankan bahkan ketika Anda memilih untuk membaca artikel ini.

Dalam prakteknya, ekonomi masih banyak dianggap tak ubahnya sebuah bidang keilmuan yang tak mengandung kewajiban untuk dipelajari sehingga banyak hal seputar ekonomi yang luput dari perhatian masyarakat umum. Pandangan tersebut sebetulnya sah-sah saja, selama maksudnya hanya untuk tidak memparipurnakan ilmunya. Akan tetapi, keadaan akan menjadi berbeda jika yang dikaitkan adalah hal-hal yang mendasar, yang menjadi bagian dalam keseharian kita. Oleh karenanya, saya berpendapat hal-hal tersebut perlu untuk kita semua ketahui.

Lantas, apa saja hal-hal mendasar yang dimaksud? Berikut ikhtisarnya:
 

1. Dua Cabang Utama dalam Ekonomi

Gambar: keydifferences.com
Gambar: keydifferences.com

Secara garis besar, ekonomi terbagi ke dalam dua cabang, yaitu: mikro dan makro. Ekonomi mikro (microeconomics) berkenaan dengan perilaku pasar (market behavior) yang meliputi berbagai entitas (individu dan/atau perusahaan): bagaimana keputusan-keputusan berbagai entitas tersebut mempengaruhi penawaran dan permintaan, yang kemudian akan mempengaruhi harga barang dan jasa, yang kembali mempengaruhi penawaran dan permintaan, begitu seterusnya. Sementara ekonomi makro (macroeconomics) berfokus pada hal-hal yang lebih luas — yang secara umum akan mempengaruhi pengambilan keputusan di tingkat mikro — seperti inflasi, tingkat suku bunga, tingkat pengangguran, tingkat pertumbuhan ekonomi atau PDB (produk domestik bruto), dan lain-lain.

Simpelnya, dikatakan mikro karena fokusnya yang hanya pada segmen-segmen yang kecil atau spesifik dalam ekonomi dan dikatakan makro karena fokusnya yang mencakup ekonomi secara keseluruhan.
 

2. Hukum Penawaran & Permintaan

Hukum penawaran dan permintaan (supply and demand) memberikan gambaran bagaimana harga suatu barang atau jasa terbentuk dengan mekanisme pasar (oleh karenanya hukum ini sering juga disebut hukum pasar).

Hukum penawaran menyatakan hubungan positif antara harga dengan kuantitas barang atau jasa yang ditawarkan: jika harga barang atau jasa meningkat, ceteris paribus, kuantitas barang atau jasa yang ditawarkan akan meningkat, begitupun sebaliknya. Sedangkan hukum permintaan menyatakan hubungan negatif antara harga dengan kuantitas barang yang diminta: jika harga barang atau jasa turun, ceteris paribus, kuantitas barang yang diminta akan naik, begitu juga sebaliknya. Grafik di bawah akan menjelaskan semua hal tersebut.

Dengan menggabungkan kedua kondisi di atas, kita akan tahu bagaimana penawaran dan permintaan terhadap suatu barang atau jasa jika ditentukan pada titik harga (P) ataupun kuantitas (Q) tertentu. Selain itu, kita pun akan mendapatkan titik keseimbangan pasar atau yang biasa disebut titik ekuilibrium, seperti terlihat di bawah ini.


 

3. Elastisitas Penawaran & Permintaan

Dengan memahami hukum penawaran dan permintaan, kita bisa dengan mudah memprediksi bagaimana kecenderungan perilaku entitas-entitas dalam menanggapi gejolak pasar. Grafik penawaran dan permintaan di atas menjelaskan kepada kita bagaimana, ketika harga naik, konsumen cenderung membeli lebih sedikit dan produsen cenderung menawarkan lebih banyak. Dan, ketika harga turun, konsumen cenderung membeli lebih banyak dan produsen cenderung menawarkan lebih sedikit. Perubahan kuantitas permintaan dan penawaran yang disebabkan berubahnya harga suatu barang atau jasa ini dapat membantu kita dalam menilai elastis tidaknya permintaan dan penawaran tersebut.

Sebagai contoh, misalnya kuantitas mobil “Rambogenit” yang diminta turun dari 50.000 unit menjadi 30.000 unit ketika harganya naik dari Rp100.000.000 menjadi Rp130.000.000 per unitnya. Jika dihitung, kondisi tersebut akan memberikan kita angka perubahan (ε) sebesar [absolut] 1,3 — yang menurut teori ekonomi permintaan akan mobil “Rambogenit” itu sensitif terhadap perubahan harga sehingga dikatakan elastis.

Sebagaimana mungkin kita ketahui bersama, teori ekonomi mengatakan kalau suatu barang atau jasa dikatakan: elastis (elastic) apabila memiliki ε di atas 1; elastis uniter (unit elastic) apabila ε sama dengan 1; dan inelastis (inelastic) apabila ε di bawah 1.

Ketentuan di atas juga berlaku untuk kasus elastisitas harga penawaran. Intinya, barang atau jasa dikatakan elastis tatkala perubahan harganya mempengaruhi kuantitas penawaran atau permintaannya secara signifikan (sensitif) dan dikatakan inelastis tatkala perubahan harganya tidak terlalu mempengaruhi kuantitas penawaran atau permintaannya (tidak sensitif). Barang-barang primer seperti beras, bensin, dan garam termasuk barang yang inelastis permintaannya terhadap harga.
 

4. Utilitas Marjinal

Utilitas dalam konteks ini adalah kepuasan, atau imbalan, yang ditimbulkan produk tertentu dibandingkan dengan alternatif-alternatifnya. Maka, utilitas marjinal (marginal utility) bisa kita artikan sebagai tambahan kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi atau menggunakan tambahan satu unit barang atau jasa.

Ada hukum yang kita semua perlu ketahui dalam hal ini, yaitu semakin banyak barang atau jasa tertentu dikonsumsi dalam periode waktu tertentu, semakin berkuranglah kepuasan yang ditimbulkan barang atau jasa tersebut. Hukum ini disebut hukum penurunan utilitas marjinal (law of diminishing marginal utility).

Bayangkan ketika Anda sedang mengidamkan suatu makanan, katakanlah cireng jeletot. Lima sampai sepuluh cireng pertama mungkin akan memberikan Anda kepuasan yang besar. Namun, keterbatasan kemampuan tubuh akan membuat kepuasan Anda berkurang saat mengkonsumsi lebih banyak lagi cireng.

(Economnomnomics.com)

 

5. Biaya Peluang

(Kansas.councilforeconed.org)

Hidup memang penuh pilihan dan dalam memilih, tak jarang kita harus mengorbankan salah satunya. Ketika Anda memilih suatu aktivitas untuk dikerjakan, ketika itu pulalah Anda telah mengorbankan aktivitas lainnya. Ketika Anda melepaskan pekerjaan yang memberikan Anda gaji Rp10 juta per bulan karena lebih memilih untuk membuka usaha sendiri, ketika itu pulalah Anda telah mengorbankan sesuatu senilai Rp10 juta per bulan untuk sebuah peluang lain. Inilah yang dimaksud biaya peluang (opportunity cost). Keputusan Anda untuk berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri memiliki biaya peluang yang nilainya sebesar gaji yang Anda dapatkan per bulannya. Dengan demikian, penghasilan dari berwirausaha itu semestinya dapat menghasilkan nilai yang lebih besar daripada gaji Anda tersebut tiap bulannya.
 

6. Jenis-Jenis Pasar

Ada tiga jenis pasar dalam perekonomian, yaitu pasar barang dan jasa, pasar tenaga kerja, dan pasar keuangan. Sebagaimana kita ketahui, pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli dalam rangka memperdagangkan suatu komoditas. Ketiga pasar tadi memiliki komoditasnya masing-masing, sesuai namanya. Ketiganya pun memiliki variabel penentunya masing-masing. Variabel yang sangat menentukan dalam pasar barang dan jasa adalah harga dan ilmu tentang harga. Sementara dalam pasar tenaga kerja, variabel yang menentukan adalah upah/gaji, dan dalam pasar keuangan adalah yield (tingkat bunga/tingkat pengembalian).
 

7. Inflasi & Deflasi

Masyarakat sekarang pada umumnya mendefinisikan inflasi hanya sebagai sebuah fenomena kenaikan harga-harga tanpa penekanan pada pokok permasalahannya, yaitu penurunan nilai uang yang diakibatkan berlebihnya jumlah uang beredar. Jadi, ketika Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi di Indonesia tahun 2014 sebesar 8,36%, masyarakat lebih mengartikannya sebagai rata-rata barang-barang di Indonesia naik sebesar angka tersebut, alih-alih mengaitkannya dengan kenaikan jumlah uang beredar. Dengan pengertian yang hanya menitikberatkan pada kenaikan harga-harga itu, artinya inflasi memang dihendaki sebagai satu ukuran dalam pertumbuhan ekonomi, tentunya dengan batasan-batasan tertentu. Berbeda dengan deflasi yang benar-benar menjadi fokus negara-negara dunia untuk dihindari.

(Generationaldynamics.com)

Pertanyaannya kemudian, mengapa inflasi dihendaki sementara deflasi dihindari? Bukankah (jika secara sederhana diartikan sebagai kebalikan dari inflasi, yaitu penurunan harga-harga) deflasi akan lebih mengenakkan bagi masyarakat? Nyatanya tidak demikian. Deflasi membuat ekonomi lebih sulit karena banyak perusahaan yang akan mengurangi investasinya, bahkan menghentikan bisnisnya, agar terhindar dari kerugian yang lebih besar. Tentu saja, menurut teori ekonomi yang memformulasikan pertumbuhan ekonomi dengan C + I + G + (X – M), hal tersebut tidak baik. Begitupun menurut teori moneter yang memformulasikan pertumbuhan ekonomi dengan M x V, karena perputaran uang (velocity of money — V) pada kondisi deflasi akan sangat lambat.
 

8. Produk Domestik Bruto (PDB)

PDB sering digunakan sebagai sesuatu yang sangat fundamental dalam mengukur ekonomi suatu negara. PDB secara sederhana dapat diartikan sebagai nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh seluruh aktivitas ekonomi di suatu wilayah atau negara dalam periode tertentu. Dengan kata lain, PDB secara konseptual sama dengan jumlah pendapatan dari semua orang di suatu negara atau jumlah dari nilai pasar atas semua barang dan jasa yang diproduksi di negara tersebut. Jika PDB Indonesia tahun 2014 dikatakan telah menembus angka Rp10.000 triliun, artinya berbagai hal yang nilainya lebih dari Rp10.000 triliun telah diproduksi di seantero Indonesia selama tahun tersebut.
 

9. Pertumbuhan Ekonomi

Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terdapat peningkatan nilai pasar pada barang dan jasa yang dihasilkannya. Dikarenakan barang dan jasa yang menjadi ukuran, pertumbuhan ekonomi sering diidentikkan dengan PDB. Sehingga ketika PDB suatu negara naik sekian persen, ekonominya pun dikatakan naik sebesar persentase yang sama.

Dengan demikian, menghitung besarnya pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat dilakukan dengan membandingkan besaran PDB tahun yang bersangkutan dengan tahun sebelumnya. Jika PDB Indonesia tahun 2014 adalah sebesar Rp10.095 triliun sementara PDB-nya di tahun 2013 sebesar Rp9.087,3 triliun, Indonesia dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar Rp1.007,7 triliun atau 11,09%.
 

10. Kebijakan Fiskal & Moneter

Ada dua konsep atau kebijakan yang bisa menentukan arah perekonomian suatu negara, yaitu kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal merujuk pada langkah pemerintah dalam mengelola ekonomi melalui pos pendapatan dan pengeluaran negara. Sedangkan kebijakan moneter merujuk pada langkah pemerintah atau otoritas moneter dalam mengendalikan perputaran uang di suatu negara.

Jadi, ketika Anda mendengar pemerintah akan menaikkan pajak atau harga BBM, Anda sedang bersentuhan dengan kebijakan-kebijakan fiskal. Dan, ketika Anda mendengar sebuah bank sentral di suatu negara akan menaikkan tingkat suku bunga acuannya, Anda sedang bersentuhan dengan kebijakan moneter.
 

11. Siklus Bisnis

(Slideshare.net)

Terdapat empat fase utama dalam siklus bisnis (business cycle). Pertama, fase ekspansi. Beberapa ekonom meyakini kalau fase ini adalah fase yang paling awal dalam siklus bisnis. Fase ini ditandai dengan meningkatnya permintaan secara agregat terhadap produk-produk sebagai akibat dari meningkatnya input yang disebabkan bertumbuhnya kinerja berbagai sektor ekonomi. Oleh karenanya, fase ini juga disebut fase pertumbuhan (growth phase).

Kedua, fase puncak (peak phase). Ini adalah fase dimana berbagai perusahaan ingin mengembangkan bisnisnya secara lebih luas lagi. Dalam fase ini, tak jarang berbagai perusahaan melakukan inovasi dengan memproduksi barang atau jasa di luar lini bisnis yang sudah ada. Permintaan, pasokan, pendapatan, dan pangsa pasar yang tinggi sangat mempengaruhi kondisi tersebut.

Ketiga adalah fase resesi (recession phase), fase dimana penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan terjadi dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Resesi ditandai dengan penurunan permintaan, kerugian dalam penjualan, penghasilan yang menurun, dan hilangnya pangsa pasar dalam dunia usaha. Pertumbuhan PDB yang negatif, penurunan pendapatan, meningkatnya pengangguran, dan turunnya kinerja industri suatu negara adalah konsekuensi yang ditimbulkan fase ini.

Terakhir, fase depresi (depression phase) — titik terendah dalam siklus bisnis. Dalam fase ini, rendahnya permintaan terhadap barang-barang atau jasa menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan, yang berdampak luas terhadap perekonomian.

__________________

Catatan: Gambaran besar ekonomika tidak terbatas pada hal-hal di atas. Segala yang penulis tuliskan dalam artikel ini hanyalah beberapa hal prinsipil yang menurut penulis perlu masyarakat umum ketahui.

3 Komentar

Berikan Komentar