Home » Akuntansi Itu Pondasi, Bukan Renovasi
Akuntansi harus diposisikan sebagai pondasi, bukan renovasi.
Ilustrasi informasi dari data akuntansi.

Mungkin memang sudah jalannya bagi seorang akuntan seperti saya untuk banyak bertemu usahawan-usahawan penuh ambisi tapi abai dengan akuntansi. Dianggapnya akuntansi itu sebatas renovasi, bukan pondasi.

Sepertinya mereka berpikir pondasi usaha itu hanya sebatas modal, produk/jasa, dan legalitas, sembari lupa bahwa semua itu perlu pertanggungjawaban.

Modal bisa habis tanpa ketahuan dipakai untuk apa, produk/jasa bisa laku tanpa pernah jelas apakah menguntungkan atau tidak, dan legalitas cuma menjamin usaha itu boleh berjalan, bukan jaminan ia akan bertahan.

Semua itu adalah faktor yang harus bisa dibuktikan, bukan sekadar diyakini. Dan membuktikannya perlu pertanggungjawaban yang bersandar pada data/informasi yang andal.

Lantas dari mana kita bisa mendapatkan informasi semacam itu? Apakah cukup dengan mengandalkan laporan mutasi/rekening bank saja?

Sayangnya tidak bisa sepolos itu!

Pemangku kepentingan tidak akan mendapati apa pun dari mutasi rekening selain data total debit-kredit dan saldo bank tersebut — bukan informasi yang andal. Mereka butuh yang lebih dari itu.

Mereka — pemegang saham/pemilik, para mitra usaha, calon investor, kreditur, hingga regulator — butuh informasi tentang seberapa sehat dan menguntungkannya bisnis yang dijalankan. Lebih lanjut, pemilik sebagai pemangku kepentingan utama perlu mendapatkan informasi untuk memenuhi kewajiban perpajakan bisnisnya.

Informasi-informasi itu hanya bisa didapat jika sebuah bisnis telah memiliki laporan keuangan, dan itu tidak mungkin dihasilkan dengan mengabaikan akuntansi!

Perhatian terhadap akuntansi harusnya bukan sesuatu yang “muncul tiba-tiba”. Setiap pemilik bisnis seyogyanya sudah memikirkan akuntansi sejak pertama memulai bisnis karena, logisnya, mereka sudah sedari awal berpikir tentang pengembalian atas modal yang mereka tanamkan (return on investment — ROI).

Memikirkan ROI tapi tidak menaruh perhatian pada akuntansi sedari dini, disebut apa kalau bukan ironi?

Di tulisan terdahulu, saya sudah sampaikan bahwa akuntansi adalah sebuah bahasa bisnis. Maka bahasa itu harusnya sudah dipelajari sejak lahir, bukan malah baru dipelajari di titik di mana seharusnya kita sudah mahir.

Bisnis harus dipersiapkan untuk melangkah maju, bukan mundur! Mempelajari bahasa (membenahi akuntansi) saat semuanya sudah berjalan sama saja dengan menahan langkah yang seharusnya sudah bisa lebih jauh.

Meskipun tidak ada kata terlambat, membenahi akuntansi di tengah jalan biayanya (baik yang riil maupun biaya peluang) akan lebih mahal dibanding kalau kita sudah mempersiapkannya di awal.

Bayangkan berapa banyak data yang harus diolah sekaligus oleh akuntan untuk sebuah pelaporan keuangan retrospektif (tahun ke belakang)? Ini biasanya menjadi pintu masuk bagi akuntan konsultan untuk menetapkan harga yang tinggi.

Belum lagi soal peluang bisnis — tender atau lelang pekerjaan, misalnya. Apakah ada pemberi kerja yang akan meloloskan bisnis kita kalau kita tidak memiliki laporan keuangan yang andal?

Mendaftar sebagai peserta pada proyek besar biasanya mensyaratkan informasi keuangan seperti likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, hingga bukti lapor perpajakan. Jika bisnis tidak menjalankan akuntansi, peluang seperti itu bisa dipastikan akan hilang.

Ini menegaskan bahwa akuntansi itu harus diposisikan sebagai pondasi, alih-alih renovasi.

Meskipun begitu, saya tetap harus menghargai usahawan-usahawan yang “telat sadar” dalam membenahi akuntansinya — karena telat masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Beberapa klien saya juga termasuk yang telat sadar, tapi keseriusannya dalam “bertobat” — yakni meminta bantuan saya untuk membenahi akuntansinya — patut saya acungi jempol.

Pada akhirnya mereka sendiri yang merasakan manfaatnya: pelaporan pajak menjadi lebih lancar sehingga jauh dari risiko denda, performa keterpilihan dalam berbagai seleksi mitra usaha menjadi lebih baik, dan menggaet investor baru pun menjadi lebih mudah.

Jadi jika Anda calon usahawan, berikanlah perhatian lebih pada akuntansi. Bentuklah mentalitas tertib administrasi sedari dini untuk bisnis yang berdaya saing tinggi.

Dan jika Anda usahawan yang “baru sadar”, segera konsultasikan kebutuhan akuntansi Anda kepada ahlinya. Jangan biarkan penundaan itu berlarut jika ingin bisnis Anda berlanjut. Awalnya mungkin terkesan memposisikan akuntansi sebatas renovasi, tapi lama-lama pasti Anda memposisikannya sebagai pondasi.

Upaya ini mungkin memakan biaya, tapi ingat juga bahwa ongkosnya akan semakin mahal jika Anda terus menunda.

Apa penilaian Anda tentang artikel ini?
+1
0
+1
0

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.