The Paradox of Thrift: Teori Ekonomi yang Aneh tapi Nyata

Seorang pria menapak pada Segitiga Penrose sebagai gambaran Paradox of Thrift.
Ilustrasi seorang pria menapak di Segitiga Penrose (unplash.com)

Suatu hal biasanya akan dinilai aneh apabila bertentangan dengan pendapat umum, meskipun mungkin nyatanya hal tersebut mengandung kebenaran. Artikulasi atas kondisi yang demikian itu dapat kita terjemahkan ke dalam terminologi yang sederhana, yaitu paradoks. Terlalu banyak paradoks yang menarik untuk dibahas dalam konteks kehidupan umum. Namun dalam konteks ekonomika, paradoks penghematan (paradox of thrift) menjadi paradoks yang paling menarik sekaligus aneh tapi nyata bagi saya.

Tak bisa dimungkiri kalau sejak kecil kita sudah banyak dijejali nilai-nilai penghematan. Adagium “hemat pangkal kaya” pun seolah sudah menjadi sebuah aksioma, bahkan mungkin dogma, di tengah-tengah masyarakat kita. Belum lagi kalau kita ingat pesan terselubung dari lagu “Bang Bing Bung,” sepertinya perilaku hidup hemat memang adalah sesuatu yang sangat dianjurkan pada masa itu.

Akan tetapi di balik semua itu pula terdapat sebuah argumentasi kontradiktif (contradictory discursus) yang hingga modern ini masih menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas. Argumentasi tersebut mengatakan bahwa kendatipun dengan adagium dan propaganda lagu seperti yang saya singgung tadi, nyatanya penghematan menjadi gelagat yang kurang diharapkan dalam perekonomian.

Di situlah paradoksnya. Sebuah nasihat hidup hemat (thrift), yang tentu banyak orang pikir baik bagi diri mereka sendiri, nyatanya tidak baik bagi perekonomian. Para advokat argumentasi ini kemudian mengistilahkannya dengan paradox of thrift.

Teori paradox of thrift pertama kali dikemukakan oleh ekonom Inggris bernama John Maynard Keyness pada tahun 1936 dalam bukunya “The General Theory of Employment, Interest, and Money.” Di situ ia mengatakan bahwa meningkatnya penghematan atau tabungan yang dilakukan masyarakat (rumah tangga konsumsi dan rumah tangga produksi) akan mengakibatkan berkurangnya tingkat konsumsi yang berdampak pada penurunan permintaan agregat (aggregate demand).

Penurunan permintaan ini pada gilirannya juga akan mengurangi tingkat produksi perusahaan-perusahaan. Ketika produksi turun, perusahaan-perusahaan alamiahnya akan memberhentikan para pekerjanya. Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak pada penurunan pendapatan/penghasilan nasional (national income) secara keseluruhan dan justru mengurangi kemampuan masyarakat untuk melakukan penghematan itu sendiri.

Sekilas memang aneh ketika meningkatnya suatu aktivitas masyarakat justru dapat berdampak pada berkurangnya kemampuan masyarakat untuk melakukan aktivitas itu sendiri. Namun kalau kita kembali kepada persamaan ekonomi Y = C + I + G + (eX – iM), kondisi di atas memang masuk akal, meskipun ada beberapa kritik yang dapat dikemukakan (terkait ini akan saya bahas di kesempatan terpisah).

Diagram di atas memperjelas kondisi tersebut, dimana ketika penghematan/tabungan bergeser dari S ke S1 (bergeser ke atas atau meningkat) maka penghasilan (Y) akan bergeser dari titik A ke titik B (bergeser ke kiri atau berkurang). Esensinya adalah setiap peningkatan penghematan yang dilakukan masyarakat akan berdampak pada berkurangnya penghasilan nasional, dengan asumsi variabel investasi (I) tidak berubah.

Jika variabel investasi bergeser ke atas atau meningkat, tentu penghasilan nasional pun akan ikut meningkat. Oleh sebab itu, tak ayal jika suatu pemerintah mengharapkan kucuran investasi yang besar ketika kondisi ini terjadi, yangmana nyatanya sulit sekali terealisasi.

Jadi, apakah nasihat-nasihat yang selama ini kita dapat tentang hidup hemat dan adagium “hemat pangkal kaya” itu salah? Karena jawabannya akan bersangkutan dengan kritik atas teori yang kita bahas saat ini, saya rasa hal ini perlu diterangkan secara hati-hati dan butuh penjabaran lebih lanjut di kesempatan terpisah.

Yang jelas, salah jika adagium tersebut dipelintir menjadi “Hemat pangkal kaya. Apalagi pelit.”

______________________________________________________________
Apa pendapat Anda terkait artikel di atas?

(Klik simbol tiga garis di bawah jika Anda menggunakan gawai. Apapun pendapat Anda akan sangat saya hargai.)

Loading spinner

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.