Home ยป Sistem Standar Emas dan Upaya Rusia Membawanya Kembali
Rusia nampaknya ingin membawa kembali sistem standar emas sebagai sistem moneter global.
Rusia nampaknya ingin membawa kembali Sistem Standar Emas sebagai sistem moneter global.

Dunia nampaknya akan sekali lagi menyaksikan bagaimana sistem standar emas bekerja sebagai sebuah sistem moneter. Sikap yang Rusia ambil sebagai respons atas berbagai sanksi yang mereka terima selama operasi khusus militer mereka di Ukraina cukup jelas untuk dijadikan atribut. Mulai dari mewajibkan penggunaan mata uang rubel sebagai alat pembayaran komoditasnya hingga mengumumkan pembelian emas berkelanjutan pada harga tetap.

Kepercayaan diri untuk mengambil sikap demikian tentu bukan tanpa perhitungan. Rusia memiliki sumber daya alam yang melimpah, khususnya minyak dan gas, yang banyak negara bergantung kepadanya. Gas alam yang dimiliki negeri beruang merah itu tercatat sebanyak 1.688 triliun kaki kubik, menyumbang 24% dari seluruh cadangan dunia. Logis saja jika kemudian hal tersebut menjadi setali tiga uang untuk menyerang rival-rivalnya, seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Dengan terus menambah emas di brankasnya dan membelinya pada harga tetap, Rusia berpotensi besar mengalihkan cadangan devisanya dari mata uang utama dunia seperti dolar AS dan euro ke logam kuning tersebut. Jelas ini adalah ciri khas dari sistem standar emas yang dulu pernah diadopsi sebagai sistem moneter global.

Mengingat mungkin tidak semua orang menyadarinya, ada baiknya kita ulas singkat terlebih dahulu tentang sistem moneter yang dimaksud.

Sistem Standar Emas Klasik

Sebuah literatur menyebutkan bahwa emas telah menjadi mata uang internasional setidaknya sejak abad keenam sebelum masehi sejak masa pemerintahan Raja Croesus dari Turki. Di awal abad ke-17, Inggris menciptakan uang kertas yang disokong oleh emas dengan harga tetap. Di tahun 1832, AS mulai mencetak satu troy ons koin emas yang disetarakan sekitar $20 pada saat itu.

Sistem standar emas (gold standard system) pada dasarnya menunjukkan penggunaan emas sebagai uang. Adapun alat tukar yang digunakan berupa uang kertas atau semacamnya itu hanyalah sebagai media perantara dan tidak mengubah esensi bahwa nilai dari emaslah yang menjadi acuannya.

Periode tahun 1870 sampai dengan 1914 adalah masa-masa keemasan dalam sejarah penggunaan emas sebagai uang, dimana inflasi hampir tidak ada sama sekali. Bahkan, deflasi yang tidak berbahaya terjadi di negara-negara yang lebih maju sebagai hasil inovasi teknologi yang meningkatkan produktivitas industri dan standar hidup tanpa meningkatkan pengangguran.

Giulio Gallarotti, seorang ahli teori dan sejarawan ekonomi dalam tulisannya The Anatomy of an International Monetary Regime menyebutkan bahwa sistem standar emas terbukti mampu membawakan banyak keunggulan ekonomi yang sifatnya lebih stabil, adil, dan jangka panjang. Bank sentral AS, the Federal Reserve Bank di St. Louis, pun mengonfirmasi bahwa kinerja ekonomi AS dan Inggris lebih superior di bawah rezim sistem standar emas ketimbang rezim sistem setelahnya.

Tak mengherankan jika saat itu banyak negara yang tertarik bergabung dan menerapkan emas sebagai acuan mata uangnya. Negara-negara itu termasuk Jerman dan Jepang di tahun 1871, Perancis dan Spanyol di 1876, Austria di 1879, Argentina di 1881, Rusia di 1893, dan India di 1898. Kumpulan negara ini kemudian dikenal dengan sebutan Klub Emas (The Gold Club).

Daya tarik terbesar dari sistem standar emas sebetulnya adalah kesederhanaannya. Dengan sistem ini, bank sentral bisa saja berguna untuk menjalankan fungsi tertentu namun tidaklah terlampau diperlukan untuk dibentuk sehingga akan lebih menyederhanakan proses operasi moneter dan menghemat anggaran fiskal. Itulah yang terjadi di AS selama masa standar emas klasik berlangsung.

Selain itu, sistem ini memberikan jaminan yang lebih baik atas stabilitas mata uang dan harga barang mengingat operator moneter memerlukan jangkauan ke pasokan emas yang wajar dengan kognisi bahwa dalam sebuah kepanikan pasar ada lebih banyak emas yang bisa segera diperoleh. Stabilitas mata uang bisa terasa mengingat ketika dua mata uang terpaut pada suatu standar berat emas, keduanya juga menjadi terpaut satu sama lain.

Oleh karenanya banyak ekonom berpendapat bahwa sistem ini melambangkan periode kemakmuran sebelum meletusnya Perang Dunia Pertama (PD1) pada tahun 1914 hingga 1918. Sejak saat itu, upaya untuk mengembalikan sistem moneter ini selalu gagal dikarenakan menggunungnya utang negara-negara utama pascaperang dan berbagai kebijakan dagang internasional yang tak lagi seharmonis masa-masa praperang.

Sistem Moneter Setelahnya

Meletusnya PD1 membawakan konsekuensi utang yang menggunung, bukan hanya pada pihak-pihak yang kalah namun juga yang menang. Hal ini seiring dengan bergesernya komitmen negara-negara pelaku perang dalam menerapkan sistem standar emas. Kebutuhan yang membeludak untuk membiayai perang membuat mereka mencetak uang secara masif tanpa mempedulikan fungsi emas yang menyokongnya.

PD1 berakhir dengan sebuah kesepakatan damai yang dikenal luas dengan Perjanjian Versailles (Treaty of Versailles). Segala bentuk penyelesaian utang dan perbaikan atas kerusakan akibat perang diatur di situ. Akan tetapi hal itu tak serta merta menyelesaikan masalah, meskipun animo perang telah usai.

Lepasnya negara-negara utama dari sistem standar emas memulai era dimana inflasi secara perlahan terus meningkat. Masyarakat yang sadar bahwa negara mereka terlilit utang akibat perang dan tidak akan mampu membayarnya sebagaimana telah dinyatakan dalam perjanjian di atas mulai memagari aset-aset mereka, membuat perekonomian lesu seolah kekurangan darah dan memaksa bank-bank sentral menyuntikkan uang yang lebih banyak ke dalam sirkulasi ekonomi.

Jerman, sebagai salah satu negara yang terlibat perang, bahkan harus merasakan dampak yang lebih mengerikan daripada itu: hiperinflasi. Masyarakat Jerman sadar bahwa utang yang negara mereka pikul sebagai bagian dari reparasi perang hampir pasti tak akan terbayar. Mata uangnya, mark, menjadi tidak diminati karena bank sentral mereka saat itu, the Reichsbank, gagal memenuhi tuntutan atas klaim emas yang terjadi.

Saking parahnya, hingga para pebisnis di Jerman tidak mampu menyediakan jutaan uang kembalian untuk barang-barang yang ditransaksikan dalam satu perak mata uang asing. Restoran-restoran pun sampai harus menagih pembayaran didepan kepada para pengunjungnya karena harga akan menjadi jauh lebih tinggi ketika mereka telah selesai bersantap. Bahkan di tahun 1923, karena terlalu banyaknya uang kertas yang harus dicetak, the Reichsbank sampai harus menghemat tinta dengan mencetak mata uang mark hanya di satu sisi dan satu sisinya lagi dibiarkan polos.

Kondisi sulit pun dirasakan oleh negara-negara pelaku perang lainnya seperti Italia, Inggris, dan Perancis, meskipun tak separah Jerman. Ketiga negara itu memiliki utang kepada AS, yangmana sangat jauh dari mungkin untuk terbayar. Dengan ditandatanganinya Perjanjian Versailles, utang-utang tersebut dapat diselesaikan dengan suatu mekanisme dan membuka ruang bagi negara-negara utama dunia untuk kembali kepada sistem standar emas.

Sistem Standar Nilai Tukar Emas

Keinginan untuk membawa kembali sistem moneter itu kemudian diangkat di dalam Konferensi Genoa di tahun 1922, sebuah konferensi tingkat tinggi yang diinisiaikan oleh Perdana Menteri Inggris David Lloyd dan Presiden AS Warren G. Harding. Akan tetapi yang disepakati justru sebuah sistem baru, yaitu sistem standar nilai tukar emas (gold exchange standard system). Meskipun tersamarkan dengan kata “emas,” nyatanya sistem ini berbeda dari sistem standar emas klasik.

Dalam hal ini, negara-negara partisipan sepakat bahwa cadangan devisa bisa disimpan tidak hanya dalam bentuk emas tapi juga berbagai mata uang asing. Sementara, sebagian besar mata uang asing tersebut akan mengacu kepada pound sterling dan dolar AS yang nilainya telah ditentukan dengan suatu standar ons emas. Dengan kata lain, nilai mata uang tetap mengacu kepada emas namun dengan perantara pound sterling dan dolar AS.

Tidak mengherankan kemudian jika disebut “gold exchange standard.” Hanya saja agak menggelitik ketika mendengar fakta bahwa nilai suatu mata uang mengacu kepada nilai emas namun dengan perantara mata uang yang lain. Inilah cikal bakal sistem moneter yang saat ini kita alami.

Sistem Bretton Woods

Sistem proxy mata uang itu kemudian mengalami “penyempurnaan” melalui sebuah konferensi di New Hampshire pada Juli 1944. Konferensi ini lebih dikenal dengan sebutan Bretton Woods Conference, yang lagi-lagi digagas oleh Inggris dan AS. Sejumlah aturan, norma, dan institusi moneter internasional dibentuk dalam konferensi ini.

International Monetary Fund (IMF) merupakan produk unggulan dari konferensi ini. Dana moneter ini menjadi sangat sentral hingga berbagai kebijakan moneter yang akan diambil oleh negara anggotanya mesti melalui persetujuannya. IMF pun menyusun sistem moneter dimana emas tetap berperan sebagai acuan namun kali ini hanya dolar AS yang menjadi proxynya dengan nilai disetarakan $35 per ons emas.

Dalam perjalanannya, Sistem Bretton Woods ini mengalami dinamika yang sangat menarik untuk dipelajari. Meskipun pada awalnya sistem ini mendapat dukungan dari negara-negara sekutu AS dan Inggris, di Februari 1965 Presiden Perancis Charles de Gaulle menunjukkan sikap kritisnya terhadap praktik sistem moneter ini melalui sebuah pidato. Ia menyoroti ketidakadilan terselubung yang ada di dalam sistem ini dan mengumumkan keinginannya untuk menghempaskan dolar AS sebagai cadangan devisanya.

Tak lama setelah itu, Perancis benar-benar melakukannya dan membawa kembali emasnya yang setara $150 juta pada saat itu. Aksi ini menarik perhatian Spanyol, yang kemudian mengikuti langkah Perancis membuang dolar AS untuk ditukar kembali dengan emasnya yang setara $60 juta. Tentu angka tersebut akan jauh lebih tinggi apabila kita hitung menggunakan harga emas saat ini.

Ketika negara-negara seperti AS, Inggris, dan Eropa (atau yang saat ini kita sebut Barat) sepakat dengan Sistem Bretton Woods, dimana dolar AS menjadi proxynya, mereka memang dapat diartikan sepakat untuk menitipkan cadangan emas mereka ke AS. Mata uang dolar AS yang mereka pegang itu tak ayalnya sebuah jaminan bahwa emas mereka tersimpan dengan baik dan dapat mereka tarik kembali dari tempat penampungannya (Gold Pool) sewaktu diperlukan.

Itulah mengapa ketika Perancis dan Spanyol menarik kembali emas mereka angkatan laut negara-negara itu sampai harus dikerahkan untuk mengamankan perjalanannya. Langkah ini sempat dikhawatirkan dapat memicu kembali Perang Dunia Ketiga. Apalagi pada tahun 1966, Perancis memutuskan mundur dari NATO, sebuah organisasi militer yang dibentuk pasca-Perang Dunia Kedua.

Dinamika nyatanya semakin menjadi-jadi setelah itu. Sistem Bretton Woods memang terus berjalan namun dengan animo penarikan emas yang semakin tinggi oleh negara-negara anggotanya. Langkah ini telah menjadi epidemi, dimana pada Maret 1968, arus emas yang keluar dari penampungannya tercatat berada di tingkat 30 metrik ton per jam.

Itu kemudian membuat dolar AS secara teknis bernilai terlampau tinggi (overvalued) yang pada akhirnya harus didevaluasi sebesar 9 persen. AS menjadi sangat dirugikan oleh situasi ini mengingat devaluasi yang diambil di sisi lain meningkatkan nilai tukar mata uang asing terhadap dolar AS.

Akhirnya pada tahun 1971, Presiden AS Richard Nixon yang tak mau kondisi merugikan itu berlanjut memutuskan untuk menutup pintu bagi penggunaan emas. Dan pada 1973, baik atas dasar itu maupun fakta bahwa Sistem Bretton Woods telah gagal, IMF mengumumkan berhenti mengadopsinya dan beralih ke sistem kurs mengambang yang hingga saat ini kita rasakan.

Sistem Kurs Mengambang (Sistem Saat Ini)

Sistem kurs yang hingga saat ini diadopsi sebagai sistem moneter global tak lain adalah bentuk oposisi dari sistem standar emas. Jika sistem standar nilai tukar emas dan Bretton Woods masih menggunakan emas dalam praktiknya, sistem kurs sama sekali tidak. Nilai tukar mata uang kali ini benar-benar dibiarkan mengambang mengacu pada nilai mata uang yang lainnya.

Lalu, apa yang menjadi acuan akhirnya? Anda mungkin bertanya demikian. Jawaban singkatnya adalah kepercayaan. Kepercayaan akan apa, ini yang mungkin perlu saya bahas secara khusus nanti. Yang jelas, sistem moneter kali ini tidak memiliki acuan fisik (underlying) yang jelas.

Nilai mata uang yang dibiarkan sepenuhnya mengambang mengikuti dinamika pasar ini sejalan dengan doktrin kapitalisnya Adam Smith, ekonom asal Inggris yang mempopulerkan ideologi pasar bebas (free market). Dalam bukunya Wealth of Nations, ia mengatakan bahwa pasar dapat menjalankan perintah tanpa ada yang memberi perintah.

Gagasannya itu memang banyak diacungi jempol hingga membuatnya dijuluki Bapak Pasar Bebas. Akan tetapi, kritik kemudian muncul bahwa keberadaan pemerintah menunjukkan pasar tidaklah benar-benar bebas dan seharusnya memang tidak (dan tidak akan pernah) bebas. Intervensi akan selalu diambil tatkala ekonomi mengarah kepada kondisi yang membahayakan, bukan?

Ini mengantarkan kita pada sebuah ironi dimana sistem kurs saat ini diharapkan dapat sepenuhnya mengikuti dinamika pasar namun dinamika itu sendiri sebetulnya bisa diintervensi. Intervensi ini pada akhirnya akan selalu digunakan untuk meningkatkan kredibilitas mata uang negara yang bersangkutan, sebagaimana yang sedang Rusia lakukan saat ini.

Sayangnya, hal tersebut seperti sebuah zero-sum game, dimana kemenangan satu pihak adalah kekalahan pihak yang lain. Keberhasilan suatu negara meningkatkan kredibilitas mata uangnya cenderung dapat diartikan sebagai kegagalan negara yang lain dalam melakukannya. Ketika nilai suatu mata uang naik, ketika itu pula nilai mata uang yang lainnya turun, begitu kira-kira.

Rusia Ingin Membawa Kembali Sistem Standar Emas

Sejauh ini, Rusia terlihat ingin meningkatkan kredibilitas mata uangnya dengan dua cara. Pertama, memaksa pihak-pihak, terutama rival-rivalnya, yang ingin membeli komoditasnya menggunakan rubel. Kedua, Rusia ingin mengikis dominasi dolar AS sebagai cadangan devisa dengan menambah porsi emas.

Nampaknya kedua langkah tersebut ampuh. Grafik di bawah menjelaskan kondisi tersebut, dimana, saat tulisan ini disusun, mata uang rubel berada di level 81 rubel per dolar AS, sebuah level yang relatif sama seperti saat Rusia belum diserang berbagai sanksi.

Grafik mata uang rubel Rusia per dolar AS pada 15 April 2022.

Bagi saya, cara kedua yang diambil Rusia tadi adalah cara yang angker bagi AS. Alasannya, selama ini dolar AS bisa dipandang sebagai sebuah proxy untuk mendikte dunia dan mentransfer berbagai risiko keuangan internal AS ke pihak eksternal (tak mengejutkan apabila saat krisis keuangan muncul di AS, orang-orang akan menyebutnya sebagai “krisis keuangan global”). Maka dengan hilangnya status dolar AS sebagai mata uang utama dunia, negeri Paman Sam tak akan bisa melakukannya lagi dan berisiko mengalami guncangan dahsyat pada perekonomiannya.

Sistem Standar Emas Rusia, Apa Artinya bagi Dunia?

Ketika bank sentral Rusia mengumumkan mereka akan terus membeli emas pada harga tetap di 5.000 rubel per gram selama 28 Maret – 30 Juni 2022, mereka memang belum benar-benar dapat dikatakan kembali kepada sistem standar emas klasik. Namun, melihat kebijakan yang Rusia ambil atas perdagangan komoditasnya dan intensi lama Presiden Rusia Vladimir Putin dan sekutunya Cina menghilangkan dominasi Barat dalam urusan politik dan ekonomi, tentu tindakan ini bisa menjadi gelagat yang mengarahkan kita ke sana.

Belum lama ini, di tengah situasi perang antara Rusia dan Ukraina, Putin dengan tegas mengatakan bahwa AS sudah terlalu lama menguasai dunia dan ia ingin mengubahnya. Cina pun tak bisa dikesampingkan dalam hal ini mengingat fakta bahwa mereka adalah sekutu dekat Rusia dan berhasrat untuk menghilangkan dominasi dolar AS sebagai mata uang utama dunia.

Sekedar mengingatkan saja, Cina telah berhasil menjadikan yuan sebagai salah satu mata uang utama dunia pada Oktober 2016.

Lantas, apa arti semua itu bagi dunia dan mengapa itu penting? Pertama-tama mari kita pahami bagaimana ini akan berdampak pada dunia Barat.

Harga tetap emas yang ditentukan Bank of Rusia adalah 5.000 rubel per gramnya atau jika menggunakan kurs saat ini, itu setara dengan $61 per gram. Penentuan ini, ketika dikaitkan dengan kebijakan Putin soal kewajiban membayar komoditasnya dengan rubel, akan menyuguhkan interpretasi bahwa Rusia telah mematok harga komoditasnya dengan emas namun dengan rubel sebagai proxynya.

Itu artinya Eropa dan AS harus membeli rubel jika ingin membeli gas dan minyak Rusia. Atau jika tidak, mereka bisa membeli komoditas itu langsung dengan emas di harga yang setara 5.000 rubel per gramnya.

Kedua pilihan tadi sama-sama tidak mengenakkan bagi si Barat mengingat apapun yang dipilih, mereka hanya akan mendisrupsi pasar mata uang (forex markets) dengan meninggalkan rubel atau emas sebagai pemenangnya. Itu artinya memperkuat ekonomi Rusia dan menerima bumerang atas sanksi-sanksi mereka sendiri.

Jika itu terjadi, negara-negara lain yang memegang dolar AS dan euro sebagai cadangan devisanya akan menyaksikan betapa kurang berharganya kedua mata uang itu. Ini akan membuka ruang bagi negara-negara tersebut untuk ikut membuang dolar AS dan euro untuk membeli rubel atau emas sebagai penggantinya.

Putin akan sangat senang apabila ini terjadi mengingat ia memiliki kesempatan untuk mengubah status quo dengan mengembalikan dunia ke sistem standar emas atau paling tidak Sistem Bretton Woods versi Rusia. Cina pun akan senang melihat dolar AS kehilangan kekuatannya.

Lebih lanjut, ini akan membuat dolar AS dan euro yang terbuang itu pulang kampung dan mengakibatkan hiperinflasi di kampung halamannya dikarenakan suplay yang berlebih (oversupplied). Inilah yang saya maksud guncangan dahsyat pada paragraf sebelumnya.

Tentu AS dan sekutunya menyadari kemungkinan ini, sebagaimana dikatakan seorang penasihat intelijen dan keamanan AS James Rickards dalam bukunya Currency Wars. AS nampaknya akan melakukan segala cara agar hal tersebut tidak menjadi kenyataan.

Cara apa yang akan dilakukan AS itu adalah apa yang belum berani saya bayangkan. Berbagai teori memang membuat cakrawala terang benderang dalam menerkanya. Namun, mari berdoa supaya ketegangan yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina ini tidak meluas dan segera berakhir.

Saya pribadi condong agar dunia kembali ke sebuah sistem moneter yang berintegritas dan kredibel, yang memang idealnya seperti sistem standar emas. Namun bagaimanapun kelanjutannya, saya berharap semua bisa berjalan dengan halus, damai, dan saling menguntungkan. Tidak masalah sistem standar apa yang nantinya akan digunakan, yang penting bukan sistem standar ganda (double standard system).

Tentang Penulis

______________________________________________________________
Apa pendapat Anda terkait artikel di atas?

(Klik simbol tiga garis di bawah jika Anda menggunakan gawai. Apapun pendapat Anda akan sangat saya hargai.)

Loading spinner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.