Jangan Gagal Paham soal Laporan Arus Kas dan Laporan Laba Rugi, Bosque!

“Arus kas kita negatif. Itu artinya pendapatan kita lebih kecil daripada beban pengeluaran kita,” begitu kira-kira yang saya dengar dari mulut seorang petinggi sebuah perusahaan. Ucapan si bosque ini tidak salah kok, selama pembicaraannya itu mengarah pada uang yang mereka dapat dan keluarkan, bukan kepada pendapatan dan beban yang secara holistis. Hanya saja, ketidaktertataan ucapannya itu berisiko menimbulkan kesalahpahaman dan membuat “gagal paham” orang-orang awam di lingkungannya terkait Laporan Arus Kas dan Laporan Laba Rugi.

Mereka yang paham akuntansi sudah tentu tidak menginginkan hal tersebut dan akan lebih bisa menata ucapannya. Bagaimanapun, konteks pendapatan-beban dan penerimaan-pengeluaran sedikit sukar dibedakan oleh orang-orang awam (para non-akuntan) dikarenakan kerangka berpikir yang ada.

Mereka cenderung berpikir dalam kerangka konsep cash basis yangmana menjadi konsep yang lebih lazim bagi keseharian mereka. Padahal prinsip akuntansi yang berlaku umum berkata lain.

Sekilas tentang Pencatatan
Cash basis (dasar kas) adalah satu dari dua metode akuntansi dimana pencatatan pendapatan dan beban dilakukan ketika uangnya sudah ditunaikan. Dalam metode ini, pendapatan/beban dan penerimaan/pengeluaran uang sering diinterpretasikan sama karena pencatatannya yang dilakukan bersamaan.

Sementara metode yang satunya lagi, yakni accrual basis (dasar akrual), merupakan metode dimana pendapatan dan beban dicatat ketika ukuran-ukuran kepuasannya sudah terpenuhi, meskipun uangnya belum ditunaikan. Dalam metode ini pendapatan/beban jelas tidak dapat diinterpretasikan sama dengan penerimaan/pengeluaran uang mengingat waktu pencatatannya yang berbeda.

Lebih jelasnya, ketika [kondisi 1] sebuah perusahaan menjual barang dagangan dan mengirimkan tagihan (invoice) kepada pelanggannya, tidak ada keharusan mencatat apapun pada tahap ini dalam kerangka metode cash basis. Sementara menurut metode accrual basis, tahap ini harus dicatat dengan akun Pendapatan Usaha di sisi kanan dan Piutang Usaha di sisi kiri.

Selanjutnya, ketika [kondisi 2] pelanggan melakukan pembayaran atas penjualan barang tadi, barulah cash basis menghendaki pencatatan berupa akun Pendapatan Usaha di sisi kanan dan Kas di sisi kiri. Sementara accrual basis akan mencatat tahap ini dengan akun Piutang Usaha di sisi kanan dan Kas di sisi kiri.

Dengan demikian, kita tahu letak perbedaannya, yakni pendapatan dalam cash basis dicatat pada kondisi kedua, sementara accrual basis pada kondisi pertama. Silakan simak gambar di bawah.

Aktivitas di atas lebih dikenal dengan sebutan menjurnal. Sisi debet dan kredit adalah konsekuensi dari adanya sistem pembukuan rangkap (double-entry system) yang mengharuskan setiap jurnal memiliki minimal dua akun yang bersanding. Dengan adanya sistem ini, nantinya bukan hanya satu jenis laporan keuangan yang bisa terpengaruh, namun bisa juga dua.

Literatur memang mengatakan terdapat empat jenis laporan keuangan, yaitu Laporan Posisi Keuangan (Statement of Financial Position), Laporan Laba Rugi (Income Statement), Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows), dan Laporan Perubahan Ekuitas (Statement of Changes in Equity). Akan tetapi secara penyajian, double-entry system hanya akan berpengaruh secara langsung pada dua jenis laporan, yaitu Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi.

Penjurnalan akun temporer (temporary account) akan mempengaruhi Laporan Laba Rugi dan akun permanen (permanent account) akan mempengaruhi Laporan Posisi Keuangan. Jika kita gunakan contoh jurnal tadi, menjurnal akun Pendapatan Usaha berarti mempengaruhi Laporan Laba Rugi mengingat akun itu merupakan jenis akun temporer dan menjurnal akun Kas atau Piutang Usaha berarti mempengaruhi Laporan Posisi Keuangan mengingat akun itu merupakan jenis akun permanen.

Lalu bagaimana dengan Laporan Arus Kas, tipe akun apa yang akan mempengaruhinya? Pada dasarnya laporan ini dibangun oleh satu saja akun permanen, yaitu Kas. Bedanya dengan akun Kas pada Laporan Posisi Keuangan terdapat pada aspek penyajiannya.

Jika di Laporan Posisi Keuangan akun Kas disajikan hanya dalam satu baris dan dengan nilai gelondongan, di Laporan Arus Kas disajikan secara lebih detail sehingga terlihat arus kas masuk dan keluar untuk setiap aktivitasnya. Tiga aktivitas yang ada, yakni aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan, membuat Laporan Arus Kas menjadi sangat powerful untuk dijadikan dasar penilaian atas kondisi keuangan riil sebuah perusahaan.

Laporan Arus Kas Vs. Laporan Laba Rugi

Meskipun sangat powerful menggambarkan kondisi keuangan riil, Laporan Arus Kas sama sekali tidak bisa memberikan gambaran tentang pertumbuhan ekonomi suatu perusahaan. Sebuah perusahaan yang Laporan Arus Kasnya menunjukkan kas positif atau mengalami kenaikan bersih (net increase) di akhir suatu periode, tidak otomatis bisa dikatakan nilai ekonominya pun bertumbuh di periode itu.

Begitupun sebaliknya, perusahaan yang menunjukkan kasnya negatif atau mengalami penurunan bersih (net decrease), tidak otomatis bisa dikatakan nilai ekonominya pun turun. Ini yang mesti dipahami oleh pengguna laporan keuangan.

Untuk mengukur kinerja ekonomi sebuah perusahaan, kita membutuhkan laporan jenis lain, yaitu Laporan Laba Rugi, dan untuk mengetahuinya kita hanya perlu lihat bagian terbawah (bottom line) dari laporan ini. Sebuah perusahaan dikatakan bertumbuh ekonominya apabila bottom line-nya bernilai positif (baca: laba). Sementara, dikatakan turun apabila bottom line-nya bernilai negatif (baca: rugi).

Angka yang tersemat di bottom-line ini adalah hasil dari perhitungan pendapatan (revenue) dikurangi beban (expenses). Di sinilah manifestasi dari metode accrual basis yang akhirnya membuat orang-orang awam gagal paham. Tak sedikit juga yang berpikir tumbuh/turunnya kinerja ekonomi suatu perusahaan adalah sama halnya dengan naik/turunnya kas yang perusahaan tersebut peroleh. Nyatanya sama sekali tidak demikian.

Seperti yang saya singgung di atas, dalam kerangka metode ini pendapatan dan beban tidak bisa diinterpretasikan sama dengan penerimaan dan pengeluaran kas karena pencatatannya dilakukan ketika ukuran-ukuran kepuasan terpenuhi (atau sederhananya ketika penyerahan barang/jasa dilakukan), meskipun uangnya belum kita terima atau keluarkan.

Tidak seperti metode cash basis yang pendapatan/bebannya dicatat berbarengan dengan penerimaan/pengeluaran kasnya. Ini perlu saya tekankan lagi karena interpretasi laba dan rugi akan terpengaruh juga karena adanya perbedaan kerangka berpikir tadi. Laba/rugi bisa saja diinterpretasikan sama dengan kenaikan/penurunan kas dalam kerangka berpikir cash basis.

Saya akan coba buktikan. Mari kita buat ilustrasi sebelumnya menjadi lebih nyata namun tetap sederhana untuk memudahkan pemahaman. Anggap PT. XYZ adalah sebuah perusahaan teknologi yang membuat dan menjual aplikasi.

[Kondisi 1: Mengirim dan menerima tagihan]

  • 2 Januari 20X1, perusahaan mengirimkan tagihan kepada pelanggan atas pembuatan aplikasi sebesar Rp80.000.000 yang jatuh temponya 30 hari (atau di 1 Februari 20X1);
  • 15 Januari 20X1, perusahaan menerima tagihan dari pengelola gedung atas pemakaian listrik dan airnya sebesar Rp10.000.000 yang juga memiliki tempo 30 hari (atau di 14 Februari 20X1).

[Kondisi 2: Menerima dan mengeluarkan uang pembayaran tagihan]

  • 1 Februari 20X1, perusahaan menerima pembayaran atas transaksi tanggal 2 Januari 20X1;
  • 14 Februari 20X1, perusahaan membayarkan uang atas transaksi tanggal 15 Januari 20X1.

Sekali lagi, untuk memudahkan pemahaman, kita anggap saja dulu bahwa hanya itu transaksi yang terjadi. Untuk contoh pekerjaan akuntansi yang lebih lengkap, akan saya buatkan di kesempatan berikutnya.

Maka, dengan mengesampingkan unsur-unsur perpajakannya, Akuntan PT. XYZ akan menjurnal transaksi-transaksi di atas sebagai berikut:

Sekarang, mari kita lihat bagaimana jadinya apabila jurnal-jurnal di atas disajikan ke dalam Laporan Laba Rugi dan Laporan Arus Kas:

Kita saksikan bagaimana perbedaan metode akuntansi berdampak pada berbedanya Laporan Laba Rugi. Di sisi cash basis, Laporan Laba Rugi periode Januari 20X1 belum memperlihatkan nilai apapun karena perusahaan sama sekali tidak mencatat pendapatan dan bebannya pada saat peristiwanya terjadi, melainkan saat pembayarannya dilakukan, yaitu di Februari 20X1. Sementara di sisi accrual basis, Laporan Laba Rugi periode Januari 20X1 memperlihatkan angka pendapatan dan beban karena memang peristiwanya terjadi saat itu. Inilah yang diistilahkan beda waktu (time difference) dalam pelaporan keuangan.

Dari segi Laporan Arus Kas, keduanya memperlihatkan angka yang sama percis di periode Februari 20X1 dan tidak memperlihatkan angka apapun di periode Januari 20X1 karena memang laporan ini mengacu pada saat terjadinya arus kas. Kemudian, kita dapat saksikan pula di akhir periode Februari 20X1 terdapat kenaikan bersih kas perusahaan sebesar Rp70.000.000. Angka ini sama dengan angka Laba Bersih pada Laporan Laba Rugi periode Februari 20X1 di sisi cash basis. Sehingga, secara konteks, laba bersih dan kenaikan kas bersih di sini tidaklah berbeda. Inilah mengapa laba/rugi sering diinterpretasikan sama dengan naik/turunnya kas dalam kerangka berpikir cash basis.

Saya merasa isu ini menjadi penting untuk dipahami karena memang faktanya standar akuntansi, baik internasional (IFRS dari IASB) maupun lokal (PSAK dari IAI), menghendaki penggunaan accrual basis sebagai karakteristik umum penyajian laporan keuangannya. Sehingga seharusnya kerangka berpikir para pemangku kepentingan pun sudah bukan lagi cash basis dan tidak perlu lagi ada kekeliruan dalam membaca laporan keuangan yang disebabkan misinterpretasi tadi.

Poinnya adalah, apa yang dikatakan si bosque di paragraf pertama tadi itu tidaklah tepat jika ditilik dari sudut pandang accrual basis. Pendapatan/beban sama sekali tidak bisa dicampuradukkan dengan arus kas dalam konteks ini. Berbicara pendapatan/beban, berarti berbicara Laporan Laba Rugi, bukan Laporan Arus Kas.

Yang mesti dipahami selanjutnya adalah untuk apa dan kapan harus menggunakan masing-masing laporan itu. Laporan Laba Rugi digunakan untuk mengetahui seberapa banyak suatu perusahaan memperoleh dan mengonsumsi manfaat dari dan untuk penggunaan asetnya, yang akhirnya berguna untuk mengukur kinerja ekonomi suatu perusahaan selama satu periode tertentu.

Jika selisih dari perolehan manfaat (baca: pendapatan) dikurangi konsumsi manfaatnya (baca: beban) menghasilkan angka yang positif (baca: laba), itu berarti perusahaan berhasil memberikan nilai tambah secara ekonomi kepada para pemegang sahamnya. Laporan ini bisa digunakan ketika kita ingin membandingkan kinerja ekonomi antar waktu suatu perusahaan ataupun antar perusahaan dengan skala bisnis yang berbeda.

Laporan Arus Kas digunakan untuk mengetahui seberapa banyak suatu perusahaan menghasilkan dan mengeluarkan uang dari dan untuk kegiatan sehari-harinya selama satu periode tertentu. Adanya kenaikan kas bersih mengartikan perusahaan menghasilkan lebih banyak uang ketimbang mengeluarkannya.

Aktivitas operasi menjadi komponen terpenting dari laporan ini karena aktivitas inilah yang pertama kali ingin kita ketahui, apakah kegiatan operasional perusahaan menghasilkan atau justru menghamburkan uang. Arus kas positif dari aktivitas ini adalah kondisi yang selalu diinginkan setiap perusahaan. Apalagi jika nilai yang dihasilkan sanggup untuk menutupi semua kebutuhan dalam aktivitas investasinya atau dengan kata lain memiliki arus kas bebas (free cash flow) yang besar (perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan seperti ini disebut cash cows).

Sebagai alat analisis, laporan ini biasa digunakan ketika kita ingin menentukan kelangsungan hidup jangka pendek suatu perusahaan, terutama terkait kemampuannya untuk membayar tagihan.

Namun demikian, hal-hal di atas saja tidaklah cukup untuk menilai baik/tidaknya suatu kinerja. Kita perlu analisis yang lebih komprehensif. Angka laba bersih pada Laporan Laba Rugi tentu saja adalah hal yang baik, namun seberapa baiknya bergantung pada teknik analisis lainnya semisal analisis tren dan rasio.

Saldo kas yang naik dari waktu ke waktu pada Laporan Arus Kas, tentu itu juga hal yang baik. Akan tetapi, akan lebih baik lagi jika kita tahu mengapa saldo kas itu naik: apakah dari aktivitas operasi yang menguntungkan atau malah dari penjualan aset tetap. Semua itu harus bisa kita cari tahu demi pengambilan keputusan terbaik. Jadi, pahami dan jangan sampai salah ya, bosque!

______________________________________________________________
Apa pendapat Anda terkait artikel di atas?

(Klik simbol tiga garis di bawah jika Anda menggunakan gawai. Apapun pendapat Anda akan sangat saya hargai.)

Loading spinner

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.