Investor Angkatan Covid-19, Tolong Dengarkan Apa Kata Jurnalis CNBC Indonesia

Ilustrasi grafik harga dan covid-19 (civitascapital.com)

Saya sering dibuat senyum-senyum sendiri oleh tim CNBC Indonesia. Untuk portal berita yang sebagian besarnya bersegmen bisnis, gaya tulisan mereka sangat unik dan terkadang sedikit nyeleneh menurut saya. Salah satunya berita mereka yang berjudul “Dear Investor Angkatan Covid-19, Bursa Saham Bukan Meja Judi.” Judul berita tersebut sampai membuat saya tertawa, hingga-hingga tergelitik ingin membuat tulisan ini.

Tentu saja saya mengerti sebutan itu bukanlah ditujukan untuk mengolok-ngolok mereka yang menjadi korban atau terpapar wabah yang saat ini sedang melanda dunia dan negeri ini, melainkan sebatas penekanan terhadap fenomena meledaknya jumlah investor ritel baru selama masa pandemi Covid-19. Sayangnya, seperti yang dikatakan dalam berita itu, tak sedikit dari mereka yang memiliki pengetahuan investasi yang minim.

Di berbagai kesempatan, saya selalu katakan bahwa dalam berinvestasi di bursa saham, seseorang mesti memahami dua metodologi analisis, yakni analisis fundamental dan teknikal. Dua metode tersebut wajib dijadikan dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan jual ataupun beli. Jika tidak, maka apa yang ia lakukan bukanlah aktivitas investasi melainkan sebatas spekulasi. Aktivitas ini yang tidak diharapkan berlarut-larut karena berisiko menciptakan gelembung yang berdampak buruk bagi perekonomian (baca: gelembung ekonomi).

Saya memandang boom investor ritel domestik selama pandemi ini hampir sama dengan boom trader / penambang (miners) di masa-masa awal tenarnya bitcoin cs. Persamaan yang sangat mencolok yang saya jumpai adalah pada motif psikologisnya, yaitu prilaku ingin coba-coba (heuristic) dan ikut-ikutan (herd behavior). Dengan kondisi dunia yang seakan tanpa sekat seperti sekarang ini dan penggunaan teknologi informasi yang belakangan semakin gencar, masyarakat menjadi sangat mudah memperoleh informasi apapun, termasuk seputar investasi. Motif-motif psikologis tadi nampaknya sangat efektif dimanfaatkan dalam menjaring perhatian dan minat masyarakat akan suatu saham, apalagi jika dilakukan oleh figur publik atau orang yang memiliki pengikut dan pengaruh yang cukup besar (baca: influencer), seperti yang belum lama ini terjadi.

Saya sama sekali tidak ingin berfokus pada para influencers (saya lebih senang menyebutnya cheerleaders) saham itu. Biarlah mereka melakukan pompa-pompa (pom-pom) saham sesuka hati mereka, toh Undang-Undang  (UU) Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal sudah sangat jelas mengatur terkait hal tersebut, khususnya di pasal 91, 92, dan 93. Fokus saya hanya untuk mengingatkan para investor pemula agar terlebih dahulu membekali diri dengan pengetahuan dan berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Kita tidak sebaiknya menggantungkan keputusan investasi kita hanya pada ajakan-ajakan yang dilakukan para cheerleaders saham. Kita perlu juga tahu bagaimana kondisi fundamental perusahaan yang akan kita eksekusi: apakah keuangannya dalam keadaan sehat, apakah sahamnya masih murah, dan apakah dia dapat memberikan imbal hasil yang baik (untuk dasar analisis fundamental, bisa juga baca di sini). Syukur-syukur bila apa yang dipom-pom para cheerleaders itu sudah dilakukan dengan kajian yang prudent dan sejalan dengan analisis kita, kita tinggal berharap kecipratan cuannya saja. Namun jika pom-pom dilakukan dengan cara yang tidak berdasar, tidak prudent, dan terkesan serampangan, sebaiknya kita abaikan saja mereka.

Selebihnya, saya hanya ingin kembali mempertegas pesan yang diberikan oleh tim CNBC Indonesia pada link berita di atas, bahwa mari cari tahu dulu profil investasi kita guna menentukan manajemen risiko yang pas untuk diterapkan. Hindari menggunakan “uang panas” seperti uang hasil menggadaikan surat-surat berharga, utang, uang keperluan primer, ataupun uang yang bukan hak kita dan diperuntukkan lain sebagai modal berinvestasi. Gunakanlah modal secukupnya melalui uang tabungan pribadi yang sifatnya senggang (idle) dan tidak mengganggu kebutuhan yang lain.

Tambahan dari saya, tidak perlulah kita iri apabila mendengar teman kita atau siapapun yang berhasil memperoleh untung dari saham dalam waktu yang singkat sehingga kita menjadi grasak-grusuk dan gegabah untuk coba-coba dan ikut-ikutan. Jangan lupa bahwa ada juga lho orang-orang yang buntung dari saham dalam waktu yang singkat. Bursa saham itu dua arah, bung. Artinya, ia bisa memberikan keuntungan, bisa juga memberikan kerugian. Ketika ia bisa menghasilkan uang secara singkat, berarti bisa juga menghanguskannya secara singkat. Ubah dulu mindset kita bahwa bursa saham itu bukan tempat bermain-main. Jadi apa yang akan terpatri dalam pikiran kita bukanlah sedang “main saham,” namun berinvestasi saham. Dan, sejatinya investasi adalah yang dilakukan dalam jangka waktu yang panjang, bukan waktu yang singkat.

_________________________________________________________________________________________________________________
Apa pendapat Anda terkait artikel di atas?

Loading spinner

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.