Home » Integritas: Mahal, tapi Tak Ternilai Sebenarnya
A piece of money lying on a street full of pedestrians. Form of integrity. Integritas.

Di dunia yang tampaknya lebih menghargai nilai-nilai material daripada karakter, integritas mungkin terlihat seperti komoditas yang langka. Namun, apa sebetulnya integritas itu, dan apakah itu benar-benar sesuatu yang dapat diperjualbelikan, atau apakah itu sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang?

Mendefinisikan integritas membutuhkan banyak usaha sebenarnya karena terdapat banyak sekali hal yang harus dikaitkan di situ, mulai dari kejujuran, keadilan, konsistensi, dan banyak lagi. Namun, bagaimanapun itu didefinisikan, manifestasinya akan tertuju pada cara-cara yang benar dalam bertindak.

Meskipun begitu, integritas bukan hanya tentang bersikap jujur dan melakukan hal yang benar, tetapi juga tentang membangun hubungan yang kuat dan menjalani kehidupan yang sejalan dengan nilai-nilai kita. Ini yang masih banyak luput dari perhatian kita.

Membangun integritas dapat menjadi tantangan, tetapi juga dapat menghasilkan suatu kepuasan yang melampaui hal-hal yang bersifat materi. Ketika harus berbeda sikap dari kebanyakan orang untuk mempertahankan nilai-nilai kebenaran, di situlah kita diuji, apakah tetap ingin berpegang teguh pada pendirian atau berkompromi dengan keadaan.

Harus saya akui bahwa ini bukanlah hal yang mudah. Banyak yang harus kita pertimbangkan, yang tujuan akhirnya adalah win-win solution bagi kita dan pihak luar kita. Bahkan untuk hal yang sifatnya sepele. Ya, integritas bukan hanya tentang hal-hal yang bersifat luar biasa, namun juga hal-hal sepele dalam kehidupan kita.

Tak usah terlalu jauh ke hal-hal besar seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Mari kita gunakan contoh yang sepele saja dulu. Bagaimana sikap Anda ketika Anda diberikan uang kembalian yang lebih banyak dari yang seharusnya saat Anda berbelanja di sebuah toko, misalnya? Katakanlah kelebihannya hanya senilai 500 perak.

Atau mari bergerak ke level lebih tinggi lagi. Bayangkan Anda sedang bekerja dan membuat kesalahan dalam sebuah proyek. Anda melihat celah untuk menutupinya atau bahkan menyalahkan orang lain atas kesalahan itu. Apa yang akan Anda lakukan?

Sepele sepertinya ya? Dari segi moneter, mungkin nilainya tidak seberapa, tapi akan sangat mahal, bahkan tak ternilai, bagi nama baik Anda dalam jangka panjang.

Saya jadi teringat kasus di kehidupan saya sendiri. Suatu ketika teman-teman satu divisi di tempat kerja saya mencanangkan untuk merayakan penerimaan uang restitusi pajak yang telah cair dari kas negara. Dan, perayaan itu hanya diperuntukkan bagi divisi saya saja, divisi keuangan.

Anda bisa melihat dimana letak masalahnya? Jika Anda pikir itu adalah tentang penyalahgunaan aset perusahaan (asset misappropriation), Anda keliru karena pengajuan penggunaan dana dilakukan melalui prosedur yang berlaku di perusahaan.

Saya malah dapat katakan bahwa tidak ada satupun dari tiga klasifikasi kecurangan seperti yang ditentukan oleh the Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) yang dilakukan di situ. Sekilas info saja, ACFE adalah organisasi yang terhormat yang sangat perhatian terhadap segala bentuk kecurangan di dunia, dan tiga klasifikasi kecurangan yang mereka tentukan adalah korupsi, manipulasi laporan keuangan, dan penyalahgunaan aset.

Kasus tersebut tidak dapat dikatakan sebagai manipulasi laporan keuangan mengingat ini tetap akan dicatat di akun yang sesuai dan tidak berdampak material terhadap pengambilan keputusan oleh pemegang saham. Juga tidak bisa dikatakan korupsi karena tidak memperkaya diri sendiri atau sekelompok orang dan tidak merugikan uang negara dan perekonomian negara (UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi).

Jadi dimana letak masalahnya? Anda tidak akan bisa melihatnya selain dari segi moral. Ya, integritas terkadang menyangkut hal-hal yang samar seperti ini.

Mari kita perjelas. Pertama, restitusi pajak lebih merupakan indikasi kegagalan perusahaan di masa lalu daripada sebuah prestasi. Jadi, ini bukanlah hal yang harus dirayakan sebetulnya.

Kedua, kalaupun harus dirayakan, seharusnya seluruh karyawan berhak merasakannya, bukan hanya satu divisi tertentu. Bagaimanapun semua pihak di perusahaan memiliki kontribusi terhadap proses bisnis perusahaan dan berhak mendapatkan perlakuan yang setara dalam hal ini.

Jadi, ini memang tentang moralitas. Kita tidak hanya dituntut untuk mampu membedakan mana yang benar dan yang tidak, namun juga menyikapinya.

Sebagaimana yang sempat saya singgung, manifestasi dari integritas adalah cara-cara yang benar dalam bertindak. Atau dengan frasa yang lebih baik, ini tentang melakukan hal yang benar sekalipun tidak ada yang memperhatikannya (doing the right thing even when no one is watching). Seperti itulah gambaran orang yang berintegritas.

Jika integritas harus diukur dengan satuan moneter, maka tingkat kemahalannya akan sama dengan godaan yang dapat kita tolak. Namun, ditinjau dari sudut pandang yang lebih holistik, itu benar-benar tidak ternilai sebenarnya.

Integritas akan menuntun seseorang terhindar dari perilaku-perilaku yang tidak etis dan menyalahi norma-norma karena, bagi seorang muslim seperti saya, primordial sesungguhnya adalah iman kepada Allah ﷻ.

Sehingga, setiap perbuatan dan ucapan akan senantiasa terjaga karena dilandasi oleh iman kepada Allah ﷻ dan bahwa Allah Maha Melihat (Al-Bashir) lagi Maha Mendengar (As-Sami’).

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.