Elliot Wave atau Gelombang Elliot adalah sebuah teori yang ditemukan dan dikemukakan oleh seorang trader jenius bernama Ralph Nelson Elliot. Teori ini merupakan bahasan lanjutan dari bab sebelumnya, Chart Patterns. Landasan pada teori inipun sama seperti landasan pada Chart Patterns, yaitu anggapan bahwa manusia mempunyai perasaan atau emosi yang sama terhadap suatu situasi dan kondisi tertentu. Seperti yang sudah Saya jelaskan, bahwa landasan tersebut dapat mengakibatkan suatu pola terus terulang sehingga bisa diprediksi—atau paling tidak dipelajari kebiasaannya.

Barangkali Elliot Wave ini dapat dikatakan sebagai bentuk yang lebih luas dari pola-pola grafik atau chart patterns. Hal ini dikarenakan pada teori Elliot Wave terdapat aspek penting berupa pattern yang berfungsi sebagai gambaran formasi atas pergerakan harga yang terjadi di pasar. Tidak hanya itu, rasio dan waktu pun menjadi aspek penting dalam pembentukan Elliot Wave. Meskipun demikian, aspek-aspek tersebut dirasa lebih cocok jika diterapkan pada kondisi pasar saham, bukan pasar forex. Sehingga aspek-aspek tadi tidak akan Saya titik beratkan pada pembahasan kali ini.

Oh ya! Biarpun teori ini dirasa lebih cocok dilakukan pada kondisi pasar saham, namun tak jarang pola-pola dasar dari Elliot Wave dapat sangat membantu para trader forex dalam memprediksi harga. Perlu diketahui, sebetulnya secara mendasar forex trading dan stocks trading (saham) tidaklah memiliki perbedaan. Keduanya sama-sama termasuk jenis perdagangan (trading) yang menyertakan psikologi dalam prakteknya. Sehingga apapun yang dapat diterapkan pada salah satu jenis perdagangan tadi, dapat pula diterapkan pada jenis perdagangan lainnya. Hanya saja, mungkin (memang) ada aspek-aspek tertentu—yang lebih spesifik—yang memiliki perbedaan, seperti aspek Elliot Wave tadi di atas.

Secara umum, Elliot Wave memiliki ritme-ritme yang terdiri dari 5 ayunan (wave) yang bergerak searah dengan trend yang sedang berlangsung dan 3 ayunan yang berlawanan dengan arah trend. Ritme-ritme tadi biasa disebut gelombang 5-3, yang mana 5 gelombang pertama (gelombang yang searah dengan trend) berperan sebagai impulse waves, dan 3 gelombang berikutnya (gelombang yang berlawanan arah trend) berperan sebagai corrective waves.

Di atas adalah gambaran umum dari sebuah pola Elliot Wave. Setiap gelombang (wave) memiliki penjelasannya masing-masing terkait dinamika pasar yang sebenarnya. Seperti yang sudah Saya singgung, bahwa ini adalah gambaran dari perasaan atau emosi manusia, sehingga setiap gelombangnya dapat dijelaskan secara psikologis. Berikut masing-masing penjelasannya:

    Gelombang 1
    Harga saham atau mata uang yang rendah mendorong aksi beli yang dilakukan trader ataupun investor pada gelombang ini. Mereka menganggap harga sedang sangat menguntungkan sehingga sayang untuk dilewatkan. Alhasil, terjadilah pergerakan naik suatu saham atau mata uang.

    Gelombang 2
    Pada gelombang ini biasanya diwarnai dengan aksi ‘ambil untung’ atau biasa dikenal dengan ‘profit taking’. Sebagian trader maupun investor menganggap harga sudah bergerak terlalu tinggi dan tidak ingin mengambil resiko dalam menahan sahamnya lebih lama. Sehingga terjadilah penurunan harga saham atau mata uang dikarenakan berkurangnya demand dan lebih besarnya supply. Hal ini wajar mengingat setiap linier baik saham maupun mata uang tidaklah selalu bergerak searah. Namun, perlu dicatat dan barangkali ini sudah menjadi syarat daripada gelombang ini, bahwa lazimnya penurunan atau koreksi yang terjadi pada gelombang 2 tidak boleh menyentuh titik awal (titik dimana awal terjadinya gelombang 1). Ini dikarenakan tidak semua trader ataupun investor yang melakukan aksi ‘ambil untung’, sehingga tekanan beli pun masih menjadi perlawanan terhadap pergerakan bearish.

    Gelombang 3
    Pasca terjadinya penurunan (gelombang 2), biasanya mulai banyak trader yang kembali ‘masuk’ ke pasar. Hal ini normal terjadi ketika sentimen melihat harga bergerak turun dan sudah terlalu rendah. Pada gelombang inipun terdapat syarat, yaitu gelombang ini tidaklah boleh lebih pendek dari gelombang sebelumnya (gelombang 2). Gelombang 3 memang seringkali menjadi gelombang paling panjang dan paling kuat pada Elliot Wave, terlebih ketika titik tertinggi sebelumnya (titik akhir pada gelombang 1) yang mana merupakan sebuah resistance tertembus oleh harga. Hal ini dikarenakan banyaknya massa yang berbondong-bondong masuk ke pasar terlebih ketika resistance tertembus, sehingga mengakibatkan pergerakan pada gelombang ini sangat kuat.

    Gelombang 4
    Pergerakan yang kuat dan cepat pada gelombang 3 membuat sebagian trader khawatir akan investasinya. Mereka mulai menganggap harga akan kehilangan momentumnya untuk terus bergerak naik. Ditambah lagi tak sedikit yang melakukan aksi ambil untuk pada gelombang ini. Sehingga mengakibatkan harga melemah dan bergerak turun untuk sementara waktu. Pergerakan turun seperti ini (yang diakibatkan aksi ambil untung) adalah pergerakan yang wajar yang biasa disebut normal corrective movements.

    Gelombang 5
    Sama seperti unsur psikologis pada gelombang 3, pada gelombang inipun banyak trader yang masuk ke pasar dikarenakan momentum. Momentum yang terjadi pada gelombang 4 membuat banyak trader memanfaatkannya untuk melakukan aksi ‘buy on dip’ atau ‘beli ketika murah’. Namun, pada gelombang ini biasanya sudah tidak banyak lagi trader yang melakukan aksi beli secara rasional. Mereka cenderung melakukannya dikarenakan faktor emosional atau bisa dikatakan hanya ikut-ikutan agar tidak tertinggal “kereta”. (Padahal kalo ketinggalan kereta, apa salahnya sih naik bus?! Ya gak?). Sikap emosional tadi menandai bahwa tak sedikit trader yang mulai pesimis akan keberlanjutan si bullish, dan mulai menyadari bahwa harga sudah mulai mengalami “obesitas” atau ‘overpriced’ (kemahalan). Hal inilah yang memicu terjadinya sebuah reversal (gelombang 1-3 pada corective waves).

Perlu saya tegaskan: pola tersebut di atas adalah gambaran umum yang diilustrasikan berdasarkan sudut pandang yang menyeluruh dari suatu pergerakan yang lebih spesifik. Dengan kata lain, pola di atas hanyalah sebuah justifikasi. Pada pergerakan yang sebenarnya mungkin saja pola Elliot Wave yang terbentuk memiliki fluktuasi yang tinggi dan menyerupai “zig-zag” yang tak beraturan. Berikut adalah contoh pola Elliot Wave jika diilustrasikan dengan pengembangan atau lebih spesifik:

Pada prakteknya, Elliot Wave sangat berguna bagi para trader dalam memprediksi harga. Bagaimana caranya? Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan pola ini, pastinya mereka sudah bisa membayangkan atau memperkirakan seperti apa pergerakan yang akan terjadi selanjutnya. Misalnya saja, jika terlihat pada charts pola Elliot Wave yang belum sempurna alias baru sebagian wave yang terbentuk, maka wave yang ada dapat dijadikan acuan untuk memprediksi wave yang akan terbentuk berikutnya. Tentunya akan lebih mantap jika dibarengi dengan pemahaman fundamental (baca bab ANALISIS FUNDAMENTAL) dan konfirmasi indikator teknikal yang ada. (Indikator akan Saya kupas tuntas pada bab Indikator Teknikal).