Sebelum saya bahas, saya ingin mengutip pertanyaan teman saya yang arahnya berkaitan dengan margin dan leverage. Kira-kira begini pertanyaannya:

“Apa bertransaksi di forex itu sama seperti kita bertransaksi di sebuah money changer? Kalau ingin beli dolar, kita harus kasih rupiah terlebih dahulu?”

Pertanyaan seperti ini memang seringkali muncul ketika seseorang masih belum betul-betul mengerti mengenai mekanisme forex. (Istilah umumnya: masih ijo). Secara harfiah, definisi forex dan money changer tidaklah berbeda yaitu tempat untuk bertransaksi valas atau menukarkan uang yang kita miliki ke mata uang lain dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari perbedaan harga yang sedang dan akan terjadi. Hmm.. Terus apa bedanya? Perbedaannya ada pada mekanismenya. Mekanisme bertransaksi di forex bertumpu pada margin dan leverage. Tumpuan inilah yang tidak akan kita temui di money changer manapun.

 

Margin

Dalam bertransaksi forex, kita tidak akan mengalami kontak fisik dengan siapapun dan transaksinya pun tidak akan pernah terwujud dalam bentuk fisik seperti di money changer. Ketika Anda membeli 1 lot EURUSD misalnya, secara fisik, Anda tidak benar-benar menggunakan dolar Anda untuk mendapatkan 100.000 euro tadi. Melainkan hanya meneken kontrak transaksi pembelian yang sebesar 1 lot. Kontrak ini akan terus berjalan (floating) selama Anda tidak memutuskan untuk melepasnya atau istilah lainnya ‘melikuidasi’.

Pergerakan yang sesuai arah kontrak Anda tadi (beli 1 lot EURUSD-red) akan memberikan hasil positif atau profit ketika Anda berhasil melikuidasinya di harga yang lebih tinggi. Lalu, bagaimana jika pergerakannya berlawanan arah? Tentu ini akan mengurangi nilai kontrak Anda (negatively floating/mengalami kerugian). Dan kontrak ini akan terus berkurang sampai batas ketahanan atau kemampuan Anda menahan kontrak yang bergerak negatif tadi.

Seberapa kuat ketahanan Anda tadi bergantung pada uang kepemilikan atau uang jaminan yang terdapat pada akun forex Anda. Uang jaminan inilah yang kita kenal sebagai margin. Dengan kata lain, margin memiliki fungsi sebagai tolok ukur atau toleransi broker dalam menahan pergerakan yang berlawanan arah dengan kontrak. Jika nantinya margin Anda tidak mampu menahan pergerakan lebih jauh lagi, maka secara otomatis kontrak akan diputus oleh broker (margin call) sehingga Anda pun dinyatakan “kalah” atau keluar dari dunia forex. Kalau udah gini, mau ga mau ya nyetor lagi.. Hehehe!

 

Leverage

Jika tadi kita sudah membahas margin, sekarang kita akan membahas pasangannya, leverage. Seperti halnya dua sejoli, leverage ini selalu berkaitan dengan margin dan saling membutuhkan satu sama lainnya. Margin yang berfungsi sebagai penahan jika terjadi kerugian atau negatively floating (pergerakan yang berlawanan dengan arah kontrak) ini dapat diperbesar daya gunanya dengan menggunakan suatu daya ungkit yang disebut leverage.

Memperbesar daya guna margin sama artinya dengan memperkecil nilai leverage. Dengan menggunakan leverage kita bisa melakukan transaksi yang nilainya 1000 kali lipat lebih besar daripada margin itu sendiri. Artinya, untuk melakukan transaksi 1 lot atau 100.000 pada mata uang tertentu kita hanya memerlukan margin yang sebesar 100 satuan mata uang.

Ketentuan leverage ini tidak bisa kita pilih seenaknya karena pilihan leverage sudah diatur oleh setiap broker. Dan masing-masing broker memiliki ketentuan leverage yang berbeda-beda. Umumnya, broker memberikan pilihan leverage mulai dari 1:1, 1:10, 1:50, 1:100 s/d 1:500. Namun karena ketatnya persaingan, sekarang bahkan ada broker yang berani memberikan pilihan leverage hingga 1:1000.

            Wah! Asyik dong yah kalo begitu?

Jangan Ge Er dulu, bos! Leverage ini sering dianggap sebagai pedang bermata dua, lho! Mengapa? Jawaban simple-nya: ya, karena di forex itu ada untung dan ada buntung alias rugi. Betul ga?! Setuju/tidak setuju, Anda harus tetap setuju! Hohoho! Ingat bos: This is the high risk-high return business. Please don’t show your weaknesses out. Hihihi. Intinya, sebesar apapun probabilita keuntungan Anda, probabilita kerugiannya akan tetap sama; 50:50 (fifty-fifty).

Contoh kasus:

#1

Rifi—yang memiliki nama asli Rifa’i—memiliki modal sebesar $2.000 dan memutuskan untuk bertrading forex dengan menggunakan leverage 1:500. Lalu, ia membeli 1 lot atau 100.000 EURUSD di harga 1,4240. Itu artinya, untuk bertransaksi 1 lot EURUSD, Rifi tidaklah perlu menggunakan seluruh modalnya melainkan hanya perlu menggunakan 10% dananya atau sebesar $200 [1/500 x 100.000 = 200]. Dalam waktu kurang dari satu jam, harga ternyata mampu mencapai target profit yang ditentukan Rifi di level 1,4290. Dengan demikian Rifi memperoleh keuntungan sebesar 50 pips atau sebesar $500 (ingat perhitungan pip) atau juga setara dengan 250% dari 10% dana yang digunakannya tadi.

Dari kasus di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa dengan adanya leverage, Rifi sangat dimungkinkan melakukan transaksi yang berlipat jauh lebih besar dari dana yang dimiliki sesungguhnya. Lalu, bagaimana jika ternyata pergerakan harga tidak sesuai dengan ekspektasi? Saya beri contoh lagi:

 

#2

Masih menggunakan data yang sama seperti pada kasus #1, tapi ternyata harga malah anjlok ke level 1,4200 atau sebesar 40 pips dari harga entry-nya. 40 pips tadi sama nilainya dengan $400. Jika Rifi hanya menggunakan $200 atau 10% dari modal awalnya untuk bertransaksi, maka kerugian sebesar 40 pips ini tidaklah memungkinkan untuk ditahan/hold karena kontrak Rifi sudah secara otomatis diputus oleh broker pada saat kerugian mencapai nilai 20 pips saja atau setara dengan dana yang dipakainya tadi yang sebesar $200. It means Margin Call!

Contoh kasus #2 ini menguatkan anggapan bahwasannya leverage dapat dikatakan sebagai pedang bermata dua. Dia dapat menjadi seperti sahabat yang menyemangati sekaligus seperti musuh yang menyakiti. Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapinya saja. Bijaksanalah!