Sama seperti perdagangan pada umumnya, ketika kita melakukan transaksi jual ataupun beli yang selalu muncul di benak kita pastilah return atau pengembalian dari apa yang telah kita berikan. (Pengembalian di sini tidak sama halnya seperti pamrih!). Artinya, tujuan utama dari segala bentuk perdagangan adalah keuntungan/profit. (Cuma yang saklek yang tujuan dagangnya supaya rugi. Hihihi!). Begitupula dalam trading forex, saat sedang melakukan transaksi kita berharap agar harga–mata uang–dapat bergerak sejalan dengan ekspektasi. Ekspektasi menjadi beragam ketika kita memasuki ranah forex. Trader pasti berharap harga akan turun sedalam mungkin ketika sedang mengambil posisi ‘sell’ atau jual. Sebaliknya, ketika yang diambil oleh trader adalah posisi ‘buy’ atau beli, harapan/ekspektasi yang pasti muncul adalah harga terus bergerak naik setinggi-tingginya sampai target harga yang telah ia tentukan. Sekali lagi, cuma yang saklek yang ekspektasinya terbalik! Ketawa saja “hahaha”, mana ada yang “ah..ah..ah”. LOL!

            Berikut contoh perhitungan sederhana dalam forex trading:

Mr. Gozali melakukan aksi beli / ‘buy’ pada pair EURUSD dengan volume transaksi 1 lot atau 100.000 euro pada harga 1,4560. Dengan kata lain, Mr. Gozali harus mengeluarkan dana sebesar $145.600 (100.000 x 1,4560). Ingat, 1,4560 ini adalah harga dari counter-currency atau mata uang pembayarnya yaitu USD (lihat Sub BAB “Membaca Pasangan/‘Pair’ Mata Uang”). Dua minggu kemudian, harga bergerak naik—sesuai dengan ekspektasinya—ke harga 1,5060 sehingga terjadi aksi profit taking di harga tersebut. Maka keuntungan yang diperoleh Mr. Gozali adalah sbb: (100.000 x 1,5060) – (100.000 x 1,4560) = 150.600 – 145.600 = $5.000 atau sebesar Rp42.500.000 (Asumsi Rp8.500,00 per USD).

Sama halnya dalam posisi jual atau ‘sell’, keuntungan diperoleh ketika kita dapat melepas transaksi di harga yang lebih rendah dari harga entry kita. Contoh: Suatu hari, Mr. Gozali mendengar kabar bahwa hutang Eropa akan berdampak krisis terhadap sejumlah negara di kawasan tersebut. Mr. Gozali-pun memutuskan untuk menjual kembali euro yang telah dibelinya tadi dengan size 1 lot atau 100.000 euro di harga 1,5060. Ternyata dampak dari krisis tadi mampu menekan pair EURUSD sampai ke level semula di 1,4560. Artinya, Mr. Gozali kembali memperoleh keuntungan dari penurunan harga tersebut sebesar: (100.000 x 1,5060) – (100.000 x 1,4560) = $5.000 atau sebesar Rp42.500.000 (Asumsi Rp8.500,00 per USD).

*Ketentuan nilai Lot terhadap mata uang bergantung dari jenis akun yang digunakan:

  • Standard Account (Akun Standar):     1 lot = 100.000 satuan mata uang
  • Mini Account (Akun Mini):                  1 lot = 10.000 satuan mata uang
  • Micro Account (Akun Mikro):             1 lot = 1.000 satuan mata uang
(Kedepannya, saya hanya akan menggunakan jenis akun standar sebagai acuan)

            Dari contoh narsis di atas, kita mendapatkan gambaran bagaimana Mr. Gozali meraup keuntungan dari dua arah transaksi. Dan, jika profitnya digabungkan, maka keseluruhan pendapatan Mr. Gozali menjadi Rp42.500.000 + Rp42.500.000 sama dengan Rp85.000.000, angka yang wajar untuk seorang trader jangka panjang dengan modal besar atau biasa disebut trader tipe swinger. (Tipe-tipe trader ini akan kita bahas nanti pada BAB TIPE-TIPE TRADER).