Seperti yang kita ketahui bahwa pergerakan harga, baik itu saham, mata uang, ataupun komoditas tidaklah selalu bergerak naik terus-menerus ataupun turun terus-menerus, melainkan  bergerak naik-turun secara berulang-ulang sehingga akan menyerupai gerakan zig-zag. Di dalam pergerakan yang zig-zag tersebut pastilah akan kita temui berbagai puncak (top/high) dan lembah/dasar (low) yang tinggi dan rendahnya berbeda-beda.

Pada bullish trend (uptrend/naik) misalnya, puncak dan lembah yang ada seharusnya semakin lama akan semakin tinggi. Begitupula dengan bearish trend (downdtrend/turun), puncak dan lembah yang terbentuk harusnya semakin lama akan semakin rendah. Sedangkan pada keadaan sideways (trendless/menyamping) puncak dan lembah yang terbentuk relatif akan sama tinggi dan rendahnya.

Gambar 1. Contoh Uptrend / Bullish Trend: "Puncak-puncak" dan "lembah-lembah" yang terbentuk semakin lama semakin tinggi.
Gambar 2. Contoh Pada Downtrend / Bearish Trend: "Lembah-lembah" dan "puncak-puncak" yang terbentuk semakin lama semakin rendah.
Gambar 3. Contoh Pada Sideways Trend: Setiap "puncak" dan "lembah" semakin lama relatif sama.
Gambar 4. Uptrending charts pada pergerakan Dow Jones pertengahan tahun 2009.
Gambar 5. Downtrending charts pada pergerakan Dow Jones awal tahun 2008.
Gambar 6. Sideways charts pada pergerakan mata uang USDJPY akhir tahun 2011.

 

Menggambar Garis Trend (Trendline)
Garis trend atau trendline adalah garis yang dapat menunjukkan kecenderungan arah harga dan berfungsi sebagai panduan untuk menentukan arah trend. Trendline dapat dibentuk dengan cara menghubungkan titik-titik tertentu pada riwayat pergerakan harga dalam charts. Titik-titik yang dapat dijadikan acuan pembentukan trendline tidak lain dan tidak bukan adalah titik-titik harga tertinggi (high) dan terendah (low) yang tercipta pada pergerakan harga.

Pembentukan bullish trendline dapat dilakukan dengan cara menghubungkan titik nilai harga terendah pada lembah-lembah yang terbentuk (titik L1 – L3 pada gambar 7). Sedangkan pembentukan bearish trendline dapat dilakukan dengan menghubungkan titik nilai harga tertinggi pada harga puncak-puncak yang terbentuk (H1 – H3 pada gambar 8).

Ingat, yang menjadi poin pada penarikan trendline adalah “puncak-puncak” dan “lembah-lembah” yang terbentuk. Bullish trendline menggunakan titik harga pada lembah-lembah yang terbentuk sedangkan bearish trendline menggunakan titik harga pada puncak-puncak yang terbentuk.

Gambar 9. Contoh Up-trendline pada mata uang GBPUSD.
Gambar 10. Contoh Down-trendline pada mata uang EURUSD.

Pembentukan trendline tak hanya bisa dilakukan pada trend bullish dan trend bearish, melainkan bisa pula dilakukan pada trend sideways, yaitu dengan menghubungkan titik nilai tertinggi pada puncak-puncak yang terbentuk (untuk garis atas), serta menghubungkan titik nilai terendah pada lembah-lembah yang terbentuk (untuk garis bawah). Seperti gambar di bawah ini:

Gambar 12. Contoh trendless pada pergerakan mata uang EURUSD pada April hingga Juli 2008.
Gambar 13. Contoh trendless pada pergerakan mata uang USDJPY pada periode November 2011 s/d Januari 2012

 

Pada nantinya, setiap garis trend yang Anda tarik akan cenderung diuji terus menerus oleh harga sehingga seolah-olah garis-garis tersebut dapat menjadi penahan pergerakan harga. Dengan kata lain, trendline tidaklah berbeda dengan garis psikologis yang akan dibahas pada bab SUPPORT & RESISTANCE.