Istilah “trend” dalam kehidupan sehari-sehari sering digunakan untuk mengungkapkan keadaan dimana suatu hal sedang digemari atau sedang menjadi perhatian kebanyakan orang. Selain kaitannya dengan fashion, trend pun memiliki kaitan erat dengan market business khususnya forex trading. Berbagai ungkapan seperti “Don’t fight the trend”, “Follow the trend”, dan “Trend is friend” menggambarkan betapa pentingnya pemahaman akan trend ini. Ketika mendapati keadaan dimana suatu hal sedang menjadi trend (istilahnya sedang trendy), kebanyakan orang pasti berlomba-lomba untuk memilikinya. Bukan semata-mata untuk kebutuhan, tapi tau sendirilah, supaya gak dibilang ketinggalan zaman atau katro. Gak usah munafik, Anda juga salah satunya kan? Saya juga sama kok hehehe! Begitupula dalam forex trading, jika Anda tidak ingin dikatakan katro (baca: rugi) maka Anda wajib mengikuti trend yang terjadi. “Pak, interupsi, pak!” | “Ada apa ya?” | “Jelasin dong, pak. Emangnya seperti apa sih trend yang dimaksud dalam forex?” | “Sabar dong! Ini baru mau saya jelasin kaleee. Mau, kamu tak kasih nilai E?!”. #BasedOnTrueStoryDialogue

Trend dalam forex berarti suatu kecenderungan atau kondisi dimana terdapat satu jenis pergerakan yang mendominasi chart dan cederung berlanjut. Atau bisa dikatakan pula sebagai pergerakan harga secara menyeluruh (dilihat dari pojok kiri menuju pojok kanan chart). Di semua instrumen perdagangan, harga bisa bergerak secara trending dan trading. Pergerakan trending adalah harga yang bergerak menurut kecenderungan tertentu (bullish / bearish) sedangkan pergerakan trading adalah harga yang bergerak pada kisaran yang sempit dan berlangsung relatif lama. Terdapat dua jenis trend menurut arah pergerakannya yaitu bullish trend dan bearish trend. Bullish trend adalah trend (kecenderungan) yang menunjukkan pergerakan–secara menyeluruh–mengalami kenaikan sedangkan bearish trend adalah trend (kecenderungan) yang menunjukkan pergerakan harga–secara menyeluruh–mengalami penurunan. Ribet bacanya? Yaudah, nih gampangnya: bullish = naik, bearish = turun. Udah ngarti kan? | “Pak?” | “Apa lagi, ya?” | “Kenapa naik disebut bullish dan turun disebut bearish, pak?” | “Boleh juga pertanyaannya, tapi jangan harap saya luluh ya!” | Hahaha! #HanyaDialogFiktifBelaka. Memang belum ada penjelasan ilmiah terkait hal ini namun menurut Wikipedia bull dan bear ini diambil dari etimologi yang berasal dari Jerman. Bull mengistilahkan suatu keadaan yang dapat dikatakan sempurna (excellent) sedangkan bear adalah keadaan sebaliknya yang menggambarkan kondisi yang tidak baik.

Trend pada kenyataannya tidak melulu bergerak searah, ia akan selalu dibayangi oleh lawannya. Dalam perjalanannya, bullish tidak berarti selalu naik namun ia akan mengalami pergerakan korektif atau bearish sebagai pelengkapnya. Begitupula dengan bearish, ia akan selalu ditemani oleh si bullish selama perjalanannya, itu pasti. Pergerakan seperti itu merupakan gambaran dari dinamika pasar (market) yang sebenarnya. Ia tidak melulu mengalami masa indah, namun juga adakalanya pasar mengalami masa sulit dimana ia akan terjatuh. Seperti halnya manusia, akan selalu mendapat cobaan dan rintangan dari Yang Maha Kuasa.

Trend (kecenderungan) bisa berbeda-beda jika kita lihat dari sudut pandang yang berbeda pula. Misalnya saja, ketika kita melihat pergerakan harga emas pada timeframe satu jaman / H1 (seperti gambar di bawah), boleh dikatakan emas sedang mengalami bearish trend.

Namun, bagaimana jika dilihat dari timeframe mingguan / W1? (Lihat gambar di bawah) Terlihat trend yang terjadi berbeda dengan trend yang tadi kita lihat pada timeframe satu jam-an. Trend pada timeframe mingguan menunjukkan emas sedang mengalami bullish trend.

Dalam hal ini, pergerakan trend pada timeframe yang lebih kecil biasa dikatakan sebagai minor trend sedangkan pergerakan trend pada timeframe yang lebih besar disebut sebagai major trend. Artinya, trend terbagi lagi menjadi dua jenis jika dilihat berdasarkan jangka waktunya yaitu: major trend dan minor trend. Ini berarti pula, setiap jenis trend bisa kita manfaatkan sesuai dengan trading style kita masing-masing (lihat “TIPE-TIPE TRADER”). Oh iya, beberapa sumber mungkin berbeda dalam pengistilahan minor trend. Ada yang menyebutnya dengan cross trend, corrective trend, dll. Yang jelas, belum ada ketentuan pasti akan hal ini, semua bebas berpendapat selama tidak menyimpang dari maksud dan arti yang sebenarnya.

Ada pula yang berpendapat bahwa trend terbagi menjadi tiga bagian, terlepas dari timeframe berapapun yang digunakan, yaitu: major trend, secondary trend, dan minor trend. Sama halnya seperti penjelasan di atas, major trend dalam hal ini merupakan trend yang utama (yang mendominasi) dalam tampilan chart. Sedangkan secara berurut, secondary trend dan minor trend merupakan trend yang lebih kecil lagi.

Gambar di atas adalah pergerakan saham dari Alcoa Incorporation yang menunjukan major trend dengan garis putih, secondary trend menggunakan garis merah, dan minor trend dengan lingkaran kuning.

Apapun dan bagaimanapun gaya tradingnya, timeframe berapapun yang digunakan, dan apapun jenis grafiknya, setiap trader pasti memiliki cara yang sama dalam menganalisis sebuah trend. Memang kita tidak bisa memastikan kapan dan berapa lama akan terjadinya suatu trend namun paling tidak, secara teknikal kita bisa mempelajari kebiasaannya. Kenapa mesti secara teknikal? Ya, karena trend hanya bisa diidentifikasi secara teknikal, tidak bisa secara fundamental. Menganalisis trend perlu pemahaman akan ciri-ciri trend itu sendiri. Ciri-ciri yang dimaksud adalah berupa fase-fase yang ada pada sebuah trend. Fluktuasi harga yang terjadi akan selalu membentuk sebuah fase. Fase ini pulalah yang pada nantinya dapat memudahkan trader dalam memprediksi kemana harga akan bergerak selanjutnya. Berikut fase-fase yang terdapat pada sebuat trend:

Sedikitnya ada lima fase yang terdapat pada pembentukan sebuah trend. Fase tersebut antara lain: reversal, fase awal, fase (pertengahan) trend, fase akhir, dan diakhiri dengan reversal lagi. Dari kelima fase tadi, fase awal menjadi fase yang paling berharga untuk dimanfaatkan. Fase ini memberikan Anda kesempatan untuk masuk ke dalam situasi pasar pada saat yang tepat. Artinya, perbandingan/ratio loss and profit yang Anda miliki saat masuk pada fase ini sangat bersahabat; batasan stop loss minimalis, dan profit target bisa Anda tentukan dengan ratio yang lebih besar daripada stop loss. Bayangkan saja berapa besar probabiliti profit yang kita miliki jika kita masuk pada fase awal ini sedangkan yang kita tahu, sebuah trend–paling singkat–bisa berlangsung selama dua minggu. Bandingkan trader yang masuk pada fase awal dengan yang masuk pada fase pertengahan. Disaat trader yang masuk di pertengahan tengah berharap profit, trader yang lebih dulu masuk pada fase awal sudah bisa merasakan hasilnya disaat yang sama. Namun, bukan berarti terdapat larangan untuk masuk pada fase pertengahan ataupun fase lainnya, hanya saja alangkah lebih menguntungkannya jika Anda bisa masuk lebih awal ke dalam pasar agar bisa merasakan profit yang bukan sekadar profit melainkan profit yang optimal. #Slogan. Hehehe!

Untuk bisa memanfaatkan fase ini dibutuhkan pemahaman akan ciri-ciri dari setiap fase tersebut. Ya, trend memiliki ciri-ciri berupa fase, fase pun memiliki ciri-cirinya sendiri. Menentukan ciri fase sama halnya dengan mempelajari pola pada grafik. Setiap fase yang membentuk sebuah trend pada dasarnya adalah kumpulan dari setiap pola yang terbentuk yang kita kenal dengan istilah chart pattern. Ini artinya, trend secara tidak langsung terbentuk oleh adanya pola-pola grafik. Ini berarti pula, Anda harus mempelajari pola-pola yang ada guna membantu Anda dalam melakukan analisis teknikal. Chart pattern tidak saya satukan pada bahasan trend ini karena saya tidak mau pemahaman Anda tercampur. Meskipun demikian, chart pattern sangat mudah untuk dipelajari dan setiap trader—-khususnya trader teknikal—akan sangat membutuhkan chart pattern dalam pelaksanaan tradingnya.