Sebelum membahas lebih dalam tentang korelasi forex dengan komoditas, izinkan saya mengantarkan Anda untuk berkenalan terlebih dahulu sama si komo (komoditas-red) ini. Komoditas atau komoditi adalah benda yang dapat diperdagangkan dalam bentuk fisik untuk disimpan dalam jangka waktu tertentu sampai nanti digunakan pada saat yang dibutuhkan. Para trader, baik forex maupun jenis perdagangan lain, mengenal komoditas ini dengan sebutan futures. Komoditas secara umum merupakan benda-benda yang berasal dari sumber daya alam (hasil bumi) yang terbagi ke dalam berbagai jenis. Selayaknya Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Utang Negara (SUN), komoditas pun dapat diperdagangkan melalui sebuah bursa berjangka dan setiap bursa berjangka hanya memperdagangkan barang yang memiliki kriteria atau unsur-unsur komoditas saja. Artinya, bursa yang memperdagangkan komoditas hanya melayani perdagangan yang berunsurkan barang-barang komoditi saja, tidak boleh ada unsur lain seperti unsur finansial, properti, dll, apalagi unsur SARA dan pornografi, #eh? Pokoknya cuma unsur komoditi deh.

Perdagangan komoditas (juga dikenal sebagai perdagangan berjangka) sudah ada sejak zaman Yunani kuno (Abad ke-5 sebelum masehi) namun perdagangan berjangka yang modern baru dikenal pada awal abad ke-18 di Chicago. Jaraknya yang dekat dari Midwest (sebuah kota di Amerika Barat) menjadikan Chicago sebagai pusat transportasi, distribusi, dan perdagangan hasil pertanian pada saat itu. Midwest merupakan pusatnya hasil pertanian dan perkebunan sehingga banyak orang dengan segala kepentingan mendatangi tempat ini. Hingga akhirnya, pada tahun 1848, dibentuklah bursa perdagangan berjangka pertama di dunia yaitu Chicago Trade Board (CTB). Awalnya perdagangan berjangka hanya dilakukan pada hasil pertanian dan perkebunan. Namun, seiring berkembangnya zaman dan besarnya kebutuhan suatu negara–yang tidak hanya berasal dari hasil pertanian dan perkebunan–maka masuklah berbagai jenis komoditas lain untuk diperdagangkan. Banyaknya jenis komoditas yang masuk ke bursa seperti produk energi dan logam memaksa otoritas untuk membentuk bursa berjangka baru yang khusus memperdagangkan jenis komoditas ini. Pada akhirnya, di tahun 1874, otoritas menciptakan bursa berjangka lainnya yang bernama Chicago Produce Exchange (CPE). Kemudian pada tahun 1898, karena pertimbangan tertentu, bursa tersebut berganti nama menjadi Chicago Mercantile Exchange (CME). Dengan terus berputarnya waktu, banyak bursa berjangka lain yang dibentuk untuk memenuhi keperluan perdagangan komoditas lainnya tidak hanya di Amerika tapi menjalar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Menurut data yang dihimpun oleh tim kami, paling tidak, ada lima jenis utama komoditas yang diperdagangkan dilihat dari bentuknya, yaitu: hasil pertanian, hasil ternak, bahan bakar dan fosil, logam mulia, dan logam industri. Berikut sebagian datanya:

  • Hasil Pertanian
  • KOMODITI SATUAN MATA UANG NAMA BURSA
    Gandum 100 Kg GBP (£) London Exchange
    Beras Ton USD ($) Chicago Board of Trade
    Coklat Ton GBP (£) New York Board of Trade
    Kedelai Gantang USD sen (¢) Chicago Board of Trade

 

  • Hasil Ternak
  • KOMODITI SATUAN MATA UANG NAMA BURSA
    Sapi 1 Pon USD ($) Chicago Mercantile Exchange
    Babi 1 Pon USD ($) Chicago Mercantile Exchange
    Pakan Ternak 1 Pon USD ($) New York Board of Trade

 

  • Bahan Bakar & Fosil
  • KOMODITI SATUAN MATA UANG NAMA BURSA
    Sweet Crude Oil Barel USD ($) Chicago Mercantile Exchange
    Light Crude Oil Barel USD ($) Chicago Mercantile Exchange
    Brent Crude Oil Barel USD ($) Chicago Mercantile Exchange
    Batu Bara Metrik USD ($) Global Coal Exchange

 

  • Logam Mulia
  • KOMODITI SATUAN MATA UANG NAMA BURSA
    Emas Troy Ons USD ($) New York Board of Trade
    Silver Troy Ons USD ($) New York Board of Trade
    Paladium Troy Ons USD ($) New York Board of Trade
    Platinum Troy Ons USD ($) New York Board of Trade

 

  • Logam Industri
  • KOMODITI SATUAN MATA UANG NAMA BURSA
    Tembaga Metrik Ton USD ($) London Metal Exchange
    Metal Metrik Ton USD ($) London Commodity Exchange
    Alumunium Metrik Ton USD ($) London Commodity Exchange
    Seng (Zinc) Metrik Ton USD ($) London Commodity Exchange
    Nikel Metrik Ton USD ($) London Commodity Exchange
    Germanium 1 Kg USD ($) London Commodity Exchange
    Silicon 1 Ton USD ($) London Commodity Exchange

Dari tabel di atas, kita bisa melihat komoditi apa saja yang banyak diperdagangkan namun bukan berarti hanya komoditi di atas saja yang dapat diperdagangkan, masih banyak komoditi dan bursa perdagangannya yang tidak saya cantumkan. Hanya saja, memang pada konteks kita saat ini tidak semuanya akan kita bahas namun ada baiknya jika Anda mengetahui sebagian jenis komoditas tadi karena ada kalanya Anda akan mendapati keadaan dimana salah satu jenis komoditas tersebut menjadi isu hangat yang dapat memicu terjadinya kenaikan nilai suatu mata uang.

Lalu, komoditi apa saja yang dapat mempengaruhi pergerakan harga mata uang? Berdasarkan data dari berbagai sumber, minyak dan emas menjadi yang paling rentan terhadap pergerakan harga mata uang khususnya mata uang Amerika, USD.

 

Minyak & Forex

Sampai berapa lama lagikah Bumi masih menyimpan minyak?
Minyak adalah komoditi paling vital yang pernah ada di dunia ini. Komoditi ini menjadi faktor utama penunjang kinerja / operasional suatu negara. Negara mana sih yang tidak memakai minyak sebagai sumber tenaga mereka? Jawabannya jelas: none of them! TIDAK ADA! Semua negara PASTI membutuhkan minyak dalam menyelenggarakan segala kegiatan di negaranya masing-masing. Eh, ada sih negara yang gak butuh minyak, namanya Negeri di Awan namun negeri ini hanya bisa Anda lihat dalam film animasi Doraemon. Hehehe! Just kidding, bro.Yang pasti, semua negara yang letaknya di atas permukaan Bumi, pasti membutuhkan komoditi ini sebagai penunjang, baik itu negara yang mudah dicari dalam peta maupun yang sulit dicari.

Masing-masing negara memiliki kebutuhan akan minyak yang berbeda-beda. Ada negara yang membutuhkan minyak dalam jumlah sangat besar setiap harinya, ada pula negara yang membutuhkan minyak dalam jumlah yang biasa-biasa saja. Biasanya kebutuhan ini disesuaikan dengan kegiatan-kegiatan domestik yang ada dan cadangan minyak yang dimiliki negara yang bersangkutan tentunya. Negara dengan keperluan domestik yang besar dan banyak tentu akan membutuhkan minyak dalam jumlah yang lebih besar dibanding negara yang memiliki keperluan domestik yang kecil dan sedikit. Keperluan domestik besar-besaran biasanya dimiliki negara maju seperti Amerika Serikat dan Rusia. Sedangkan untuk negara berkembang pesat, keperluan seperti itu dipegang oleh China, Jepang, dan India. Berikut data yang saya dapat dari U.S. Central Intelligence Agency (CIA) mengenai 20 negara dengan konsumsi minyak paling banyak:

Rank NEGARA BAREL (bbl) PER HARI
1 Amerika Serikat 20.150.000
2 China 9.159.000
3 Jepang 4.452.000
4 India 3.182.000
5 Rusia 2.937.000
6 Brazil 2.654.000
7 Saudi Arabia 2.643.000
8 Jerman 2.495.000
9 Korea Selatan 2.251.000
10 Kanada 2.209.000
11 Mexico 2.078.000
12 Perancis 1.861.000
13 Iran 1.845.000
14 Inggris 1.622.000
15 Italia 1.528.000
16 Spanyol 1.441.000
17 Indonesia 1.292.000
18 Singapura 1.080.000
19 Belanda 1.009.000
20 Taiwan 1.002.000

Nb: Data berdasarkan laporan intelijen tahun 2010

Nah, terlihat jelas kan, negara mana yang membutuhkan minyak paling banyak? Yes! It’s United States of America! (Sok inggris banget ya?). Amerika lagi, Amerika lagi! Gak bosen apa ya tu negara? Tapi, ya mau gimana lagi, sudah kenyataannya seperti itu. Amerika menjadi negara yang paling mendominasi dunia ini. Lihat saja dari segi kebutuhan minyaknya. Kebutuhan negara liberalis itu memiliki jumlah yang dua kali lebih besar dari negara dengan status berkembang pesat seperti China dan Jepang. Bahkan jika kita gabungkan sekalipun, jumlah total kebutuhan minyak China dan Jepang belum bisa menyamai rekor kebutuhan minyak Amerika. Itu berarti kegiatan operasional negeri Paman Sam tersebut sangat jauh di atas China dan Jepang. Jangankan cuma China dan Jepang, kalau India dan Rusia ikut digabungkan pun itu masih belum bisa menyamai rekor konsumsi minyak Amerika. Ueeedyaaan tenaaaan! Gelpis, Gelo pisan! Warganya minum minyak kali ya? Heueheu. Isu terakhir yang berkembang sih (belum valid) menyebutkan bahwa China telah melampaui rekor Amerika dalam kebutuhan minyak ini. Wah, mungkin warga China gak mau kalah sama Amerika yah dalam meminum minyak? Ehehehe, biasa, just kidding!

Lucunya, Amerika, sebagai konsumen minyak terbesar dunia, tidak memiliki jumlah produksi minyak yang sepadan dengan tingkat konsumsinya. Kebutuhan minyak suatu negara idealnya dapat ditopang dari hasil produksi minyaknya sendiri sehingga negara tersebut tidak perlu terlalu bergantung pada negara lain dalam menjalankan aktivitas kenegaraannya khususnya yang berkaitan dengan minyak. Rusia saja—yang luas wilayahnya hampir dua kali lipat luas wilayah Amerika Serikat—hanya memerlukan 1/6 dari total kebutuhan minyak Amerika per harinya. Lebih hebatnya, Rusia mampu menutupi kebutuhan minyaknya tersebut dengan produksi minyaknya sendiri yang hampir lima kali lipat besarnya dibanding tingkat konsumsinya. Keadaan seperti inilah yang disebut ideal: produksi lebih besar atau paling tidak sepadan dengan konsumsinya. Kondisi serupa terdapat di belahan Bumi lain yaitu Arab Saudi. Arab Saudi memiliki cadangan minyak yang luar biasa melimpah. (Lebih dari 50% cadangan minyak dunia tersimpan di negeri Raja Abdullah ini). Tingkat produksi per harinya pun merupakan yang terbesar di dunia. Arab Saudi mampu memproduksi minyak mencapai 10,5 juta barel per hari. Walau demikian, Arab Saudi memiliki tingkat konsumsi minyak per hari yang jauh lebih rendah ketimbang tingkat produksinya, dan tentu saja jauh lebih rendah dari tingkat konsumsi minyak Amerika (lihat tabel konsumsi di atas). Berikut data yang saya himpun dari CIA mengenai negara dengan produksi minyak terbesar:

Rank NEGARA BAREL (bbl) PER HARI
1 Arab Saudi 10.520.000
2 Rusia 10.130.000
3 Amerika Serikat 9.688.000
4 China 4.280.000
5 Iran 4.252.000
6 Kanada 3.483.000
7 Mexico 2.983.000
8 Uni Emirat Arab 2.813.000
9 Brazil 2.746.000
10 Nigeria 2.458.000
11 Kuwait 2.450.000
12 Irak 2.403.000
13 Venezuela 2.325.000
14 Norwegia 2.134.000
15 Algeria 2.078.000
16 Angola 1.988.000
17 Libya 1.789.000
18 Kazakhstan 1.610.000
19 Qatar 1.437.000
20 Inggris 1.393.000
21 Azerbaijan 1.041.000
22 Indonesia 1.030.000

Nb: Data berdasarkan laporan intelijen tahun 2010

Dan berikut data 10 negara dengan cadangan minyak terbesar:

Rank NEGARA BAREL (bbl)
1 Arab Saudi 266.700.000.000
2 Kanada 178.100.000.000
3 Iran 136.200.000.000
4 Irak 115.000.000.000
5 Kuwait 104.000.000.000
6 Venezuela 99.400.000.000
7 Uni Emirat Arab 97.800.000.000
8 Rusia 60.000.000.000
9 Libya 43.700.000.000
10 Nigeria 36.200.000.000

Nb: Data berdasarkan laporan intelijen tahun 2010. Jumlah cadangan minyak yang dimiliki masing-masing negara akan berkurang setiap tahunnya untuk keperluan produksi.

Masih kaitannya dengan Amerika. Selain sebagai konsumen Amerika pun tercatat sebagai negara produsen minyak terbesar ketiga setelah Rusia dan Arab Saudi. Namun, hasil produksinya tersebut tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak per harinya. Boro-boro untuk diekspor, untuk kebutuhan domestiknya saja gak cukup. Tercatat bahwa kebutuhan minyak AS per hari mencapai 20,1 juta barel sedangkan AS hanya mampu memproduksi minyak sebesar 9,6 juta barel per hari. “Gak bisa lebih, Mang?” | “Harga pas, Bu!”. Mengapa? Itu karena Amerika harus menjaga cadangan minyaknya agar tidak terpakai secara berlebihan dan dapat terjaga dalam jumlah yang aman. Hal tersebut memaksa pemerintah Amerika untuk melakukan impor dari negara-negara yang memiliki minyak berlimpah seperti Arab Saudi, Kanada, Rusia, dan Mexico. Aktivitas inilah (impor-red) yang nantinya dapat saling mempengaruhi antara harga minyak dengan mata uang Amerika, USD.

Kondisi saling mempengaruhi di atas tadi disebut sebagai korelasi. Secara harfiah, korelasi didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana terdapat dua buah linier atau lebih yang masing-masing linier dapat mempengaruhi keadaan linier lainnya. Korelasi dibagi ke dalam dua jenis berdasarkan arahnya: korelasi positif dan korelasi negatif. Korelasi positif akan mengakibatkan linier-linier yang ada mengalami pergerakan yang searah sedangkan korelasi negatif akan membuat satu sama lain linier bergerak berlawanan arah. Lalu, korelasi seperti apa yang terdapat pada minyak dan USD? Sebelum saya jawab, coba Anda lihat gambar di bawah ini dan bandingkan!

Pergerakan EURUSD pada pertengahan tahun 2011

Pergerakan harga minyak pada pertengahan tahun 2011

Pergerakan dolar Amerika terhadap dolar Kanada pada periode yang sama dengan pergerakan minyak di atas

Well, Apa yang bisa Anda ambil dari dua gambar di atas? Eh, siapa tuh yang nyeletuk “ambil hikmahnya”? Coba, yang nyeletuk tunggu di luar aja biar gak mengganggu! #SedikitCurhatMasaLalu. Hehehehe, becanda kok bro. Udah sini masuk lagi, di dalem lebih enak daripada di luar. Hihihi.

Coba perhatikan dengan seksama grafik pergerakan EURUSD dan Crude Oil di atas. Kedua linier ini tampak seperti memiliki pergerakan yang searah yaitu turun (bearish). Padahal, jika kita teliti lebih detil, Crude Oil dan USD pada grafik tadi memiliki arah pergerakan yang berlawanan atau bisa disebut berkorelasi negatif. Lho, kok begitu? Bukannya kedua gambar menunjukkan arah pergerakan yang sama yah? Ya arah pergerakannya memang sama, namun jika pergerakan EURUSD itu kita terjemahkan maka artinya nilai euro sedang melemah terhadap dolar atau bisa diartikan sebaliknya: nilai dolar yang sedang menguat terhadap euro. (Ingat yang sudah kita pelajari pada subbab “Membaca Pasangan Mata Uang” di bab “DASAR-DASAR FOREX”). Jadi, intinya, mata uang USD berkorelasi negatif dengan harga minyak (Crude Oil). Dimana harga minyak menguat (bullish) maka USD akan melemah (bearish) atau sebaliknya: USD menguat, harga minyak akan melemah. Kondisi berlawanan seperti itulah yang dinamakan korelasi negatif: salah satu linier bergerak naik, linier lainnya bergerak berlawanan (turun), begitupula sebaliknya.

Contoh lain bisa Anda lihat pada pergerakan Crude Oil dan USDCAD (dolar Amerika terhadap dolar Kanada). Contoh ini menguatkan penjelasan di atas bahwa USD dan Crude Oil memiliki korelasi negatif satu sama lainnya. Pada USDCAD ini, USD menempati posisi di depan pada pair alias sebagai base-currency sedangkan CAD yang merupakan mata uang dari salah satu negara produsen minyak terbesar berperan sebagai counter-currency. Jika kita terjemahkan pergerakan USDCAD ini, hasilnya akan sama seperti EURUSD tadi: USD menguat terhadap CAD atau CAD melemah terhadap USD. Dari sudut manapun Anda menterjemahkan, hasilnya akan tetap sesuai dengan yang lazimnya terjadi: ketika minyak melemah, USD akan menguat dan ketika minyak menguat, USD akan melemah. Keadaan seperti itu akan semakin jelas terlihat jika pair yang Anda gunakan merupakan pair yang mengandung mata uang negara penghasil minyak seperti USDCAD tadi.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa ketika harga minyak naik, USD malah melemah, dan ketika USD naik, minyak melemah? Kembali ke permasalahan impor minyak yang dilakukan Amerika tadi. Ketika pemerintah AS ingin mencukupi kebutuhan minyak negaranya yang mencapai 20,1 juta barel per hari sedangkan produksi minyak negeri teroris tersebut hanya sebesar 9,6 juta barel per hari, otomatis pemerintahnya akan menggelontorkan uang untuk membeli sisanya yang sebesar 10,5 juta barel. (Ini sudah menjadi rutinitas Amerika setiap tahunnya). Hitung-hitung sedikit, jika harga minyak dunia sedang berada di level $99,5/bbl (asumsi per Maret 2011) maka anggaran yang harus disiapkan pemerintah Amerika untuk membeli minyak adalah sebesar 10.600.000 x $99,5 = $1.054.700.000 atau satu milyar lima puluh empat juta tujuh ratus ribu dolar. Jangan melongok dulu! Itu kan baru kebutuhan minyak AS per hari sedangkan yang sedang kita bicarakan sekarang adalah rutinitas tahunannya. Kalau gitu, hasil yang tadi dikalikan lagi dong dengan 365 hari? Ow ya jelas dong! Yuk kita hitung lagi! $1.054.700.000 x 365 = $384.965.500.000 (tiga ratus delapan puluh empat milyar sembilan ratus enam puluh lima juta lima ratus ribu dolar) per tahun. Apa sekarang udah boleh melongok? Bolehlah, sedikit! Masih belum tuntas nih permasalahannya. Hehehe.

Bagaimana kalau keadaannya sedang tidak memungkinkan untuk AS dalam membeli minyak dengan harga yang sedemikian besar tadi? Misalnya saja anggaran belanja AS sedang defisit karena isu hutang atau isu lainnya. Jika hal seperti ini benar-benar terjadi, tentu akan berimbas pada melonjaknya harga minyak. Hal ini terkait dengan hukum permintaan seperti yang sudah kita bahas pada bab “SANG PENGGERAK HARGA MATA UANG”. Ketika AS tak lagi memutuskan untuk mengimpor minyak (terlepas dari cukup/tidaknya minyak AS) maka akan terjadi penurunan tingkat permintaan pada minyak secara drastis, sehingga harga minyak menjadi tinggi. Selain itu, ditambah lagi banyak investor yang melepas dolarnya untuk menghindari kerugian karena dampak defisit anggaran tadi. Kalau sudah begini dolar akan secara otomatis bergerak turun atau melemah. Seperti bola salju jadinya, terus bergulir dan bertambah besar. Atau, bisa pula diibaratkan seperti efek domino, salah satunya jatuh maka semuanya ikut runtuh.

Tak hanya itu, harga minyak pun bisa melambung karena faktor lain. Isu lain seperti krisis Timur Tengah yang belakangan terjadi juga dapat memicu naiknya harga minyak. Masih ingat kan krisis politik di timur tengah yang melanda Mesir dan Libya? Terlepas dari apa penyebabnya, krisis politik tersebut mengakibatkan harga minyak dunia melambung. Bagaimana tidak, Mesir dan Libya merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di kawasannya. Di kawasan Afrika saja mereka termasuk lima besar negara pengekspor minyak terbanyak dengan jumlah mencapai lebih dari 900.000 bbl per hari. Ketika dilanda krisis, demonstrasi terjadi di berbagai penjuru negeri sehingga mengakibatkan negara tersebut lumpuh. Aktivitas bisnisnya terganggu, perpecahan dimana-mana, produksi minyak terhenti, dan otomatis ekspor minyaknya pun ikut terhenti. Jika ekspor minyak dari negara-negara tersebut terhenti maka persediaan minyak dunia otomatis akan berkurang sedangkan permintaan pasar masih tinggi. Tingginya permintaan inilah yang mengakibatkan naiknya harga minyak. Produsen minyak seperti Arab Saudi, Rusia, Kanada, dll, tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan menaikan harga minyaknya, Arab Saudi dan negara produsen minyak lainnya akan meraup untung lebih besar dari perdagangan minyaknya. Melonjaknya harga minyak tadi akan membuat pemerintah Amerika kewalahan. Mereka harus memeras otak supaya bisa memenuhi kebutuhan minyak di tengah tingginya harga minyak. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan pemerintah AS adalah dengan menambah anggarannya untuk membeli minyak agar kebutuhan negeri kaya akan hutang itu dapat terpenuhi. Masalahnya, berapa besar anggaran yang harus ditambah pemerintah AS tersebut? Itu bergantung pada harga minyak yang sedang terjadi saat itu. Saya ambil contoh empiris dari harga minyak yang terjadi selama krisis politik melanda Timur Tengah pertengahan tahun 2011. Harga minyak yang idealnya berada di bawah level 100 USD/bbl, pada 25 April 2011 mampu mencapai level 114 USD/bbl. Pemerintah AS yang sebelumnya membeli minyak di harga 99,5 USD/bbl harus menambah 14,5 poin untuk setiap barel yang akan dibelinya. Hitungannya: $14,5 x 20.100.000 = $291.450.000 maka untuk keperluan satu tahun: $291.450.000 x 365 hari = $106.379.250.000 (106,3 Milyar US$). Eitz, jangan lupa, itu baru tambahan anggaran yang harus disiapkan, belum ditambahkan dengan nilai pembelian sebelumnya (lihat paragraf sebelumnya). Jadi totalnya: $384.965.500.000 + $106.379.250.000 = $491.344.750.000 (empat ratus sembilan puluh satu milyar tiga ratus empat puluh empat juta tujuh ratus lima puluh ribu dolar).

Dengan kata lain, anggaran belanja AS membengkak menjadi hampir 500 Milyar US$ per tahunnya. Anggaran sebesar ini dinilai terlalu berlebihan untuk pembelian minyak. Ingat, ini baru untuk belanja minyak, belum ditambah dengan keperluan lainnya. Sedangkan, yang kita tahu, AS masih memiliki banyak kewajiban yang belum terpenuhi seperti pengentasan pengangguran dan penyelesaian hutang. Keadaan seperti ini akan membuat investor skeptis. Investor tentunya tidak ingin mengambil risiko dengan memegang dana dalam bentuk dolar lebih lama. Ujung-ujungnya, terjadi pelepasan dolar secara besar-besaran. Pelepasan secara besar-besaran ini akan mengakibatkan nilai tukar dolar terhadap mata uang lainnya melemah. Jika dolar melemah, Amerika harus mengeluarkan anggaran yang lebih untuk mengimpor barang lainnya. Dan lagi, akan berujung pada defisit anggaran. Hehehe! Nah, jadi jelaslah bagaimana mata uang dolar bereaksi terhadap harga minyak. Ketika harga minyak dunia melambung, dolar akan turun sedangkan ketika harga minyak terpuruk, dolar akan melambung, begitu seterusnya. Begitulah korelasi negatif, selalu berlawanan. Seperti kutub positif dan negatif pada sebuah magnet, tidak pernah bisa menyatu. Jangan coba-coba deh mencari-cari alasan lain tentang korelasi negatif antara minyak dan dolar ini kalau kepala Anda masih ingin dipenuhi rambut. Tapi, bagi yang sudah tidak memiliki rambut, silahkan saja. Huehehe! Lagi-lagi, just kidding.. X_x

Tadi baru reaksi dolar terhadap minyak, lalu bagaimana dengan reaksi harga minyak terhadap dolar? Kurang lebih sama. Hanya saja, pergerakan minyak dipicu oleh isu yang dapat mempengaruhi pergerakan dolar terlebih dahulu. Misalnya saja nih, suatu hari, ternyata Amerika Serikat bisa melunasi semua hutangnya. Isu ini akan menyebabkan dana mengalir deras ke negara adidaya tersebut. Dengan aliran dana yang deras tadi, perekonomian AS akan semakin kuat dan kokoh, nilai tukar mata uangnya pun akan semakin tinggi dikarenakan permintaan terhadap dolar yang melonjak. Dari situ, AS pastinya akan mempunyai kekuatan atau daya beli yang lebih untuk barang-barang impor khususnya minyak. Jika AS menambah kuota pembelian minyaknya maka dapat dipastikan harga minyak akan semakin turun. Mengapa? Ya karena supply (persediaan) minyak akan semakin menipis. (Ingat hukum penawaran). Lho, bukannya kalau stok AS bertambah permintaan minyak akan tinggi dan seharusnya harga minyakpun ikut melambung? Iya, kalau stoknya ada, kalau stok minyaknya entek alias habis, mau jual apa? Tapi, semua itu tergantung pada kebijakan negara-negara produsen minyak dunia, apakah mereka ingin menambah kapasitas produksinya atau tidak. Ibaratnya, ketika ada seorang pedagang kaki lima (PKL) berjualan dan barang dagangannya hampir habis namun nampaknya sudah tidak ada lagi pembeli yang melirik dagangannya. Trik yang bisa dilakukan PKL tersebut adalah menurunkan harga serendah mungkin agar barang dagangan yang tersisa tadi bisa habis terjual pada saat itu juga. Semakin murah semakin banyak pula yang menawar, begitulah gambarannya. Namun sayang, itu tadi hanya pengandaian. Konyol, saya mengandaikan Amerika mampu melunasi hutang yang tak mungkin terlunasi. #PepatahNgutang

Perlu diingat, semua keadaan di atas tak bersifat mutlak. Saya hanya menjelaskan dari apa yang biasanya terjadi. Pada situasi tertentu, bisa saja korelasi tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya karena berbagai faktor yang kompleks.

 

Emas & Forex
Masih ada yang gak tau emas? Harusnya sih udah gak ada lah ya. Orang kayak gitu mestinya udah punah dari peradaban. Hahaha! Iya-iya, just kidding lagi kok..

Secara harfiah, emas adalah benda padat yang warnanya berkilau (agak kekuning-kuningan) dan memiliki nilai tinggi dengan berbagai satuan berat. Secara definitif, emas merupakan salah satu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol ‘Au’ (berasal dari bahasa latin Aurum) dan bernomor atom 79 dan tercatat dengan kode ISO ‘XAU’. (Di forex biasanya ditampilkan dengan nama XAUUSD). Emas termasuk ke dalam jenis komoditas berbentuk logam yang sering digunakan untuk keperluan investasi. Logam ini dapat pula digunakan sebagai alat pembayaran dalam bidang moneter dengan satuan bulion atau batangan emas dalam berbagai satuan berat seperti gram sampai kilogram. Pada perdagangan di bursa komoditas dunia, satuan yang digunakan untuk perdagangan emas adalah troy ounce (toz) dan dicantumkan dalam mata uang dolar Amerika. Selain itu, emas pun sering digunakan sebagai bahan baku perhiasan, elektronik, dan pembuatan uang logam dalam bentuk koin. Namun, uang logam (koin) yang beredar di dunia ini khususnya di Indonesia, bukan merupakan emas murni melainkan emas yang dicampur dengan kandungan logam lain. Adapun koin emas yang tidak sama dengan uang namun dapat diperdagangkan seperti Krugerrand. Krugerrand diproduksi oleh perusahaan tambang asal Afrika Selatan, South African Mint Company. Koin Krugerrang menjadi pelopor terciptanya koin-koin emas yang lain dan harga koin emas ini biasanya mengacu pada perdagangan emas di bursa komoditas.

Sejarah Singkat Perdagangan Emas
Pada awal ditemukannya (awal abad ke-18), emas belum dijadikan sebagai alat tukar ataupun perdagangan. Baru pada saat peneliti asal Ural, Rusia, menemukan hasil yang menakjubkan tentang kandungan yang ada di dalamnya, emas menjadi perhatian banyak orang. Saking banyaknya yang mengincar emas, sampai pada pertengahan abad ke-19 emas resmi dijadikan sebagai mata uang. Pasca dijadikannya emas sebagai mata uang, banyak negara yang mulai memproduksi emas secara masal seperti Inggris, Swiss, dan Rusia namun penggunaan emas sebagai mata uang dinilai tidak likuid pada saat itu sehingga terjadi pergantian mata uang dari emas menjadi uang sebagai alat tukar yang sah. Bergantinya emas menjadi uang sebagai mata uang bukan berarti membenamkan emas sebagai benda yang paling dicari pada saat itu, justru emas menjadi lebih diminati. Mendapati kondisi seperti itu, keluarlah ketentuan yang mengatur perdagangan emas. Perdagangan emas secara resmi dilakukan pertama kali di London dan Zurich yang sampai saat ini menjadi basis atau bursa perdagangan komoditi emas (spot gold) terbesar di dunia.

Korelasi Emas dan Forex
Emas sebagai hasil tambang yang tidak dapat diperbaharui menjadi salah satu komoditi yang pergerakannya paling “seksi” dalam satu dekade terakhir ini (selain minyak tentunya). Pergerakan emas dalam sepuluh tahun terakhir terlihat mengalami pertumbuhan signifikan dan tidak menemui pergerakan korektif yang berarti dalam kelangsungannya. Harga emas yang terus meningkat membawakan berkah tersendiri bagi negara penghasilnya. Negara-negara kaya bahan tambang seperti Australia, China, dan Indonesia menjadi sebagian negara yang merasakan hasilnya. Indonesia termasuk negara yang kaya akan hasil tambangnya seperti batu bara, bijih besi, emas, dll, namun dalam hal kepemilikan emas dunia, Indonesia masih tertinggal jauh di bawah Amerika. Kepemilikan emas Amerika yang tersimpan di bank dunia mencapai 8.333,5 ton sedangkan Indonesia hanya 73,1 ton. Walaupun begitu, Amerika bukan negara yang memiliki cadangan emas paling banyak. Dalam hal cadangan emas, Amerika masih kalah dengan Indonesia. Cadangan emas yang dimiliki Indonesia sangat luar biasa melimpah dan termasuk dalam lima negara dengan cadangan emas terbanyak, sampai-sampai Amerika pun mengirim utusannya untuk menambang emas di tanah air. Just intermezzo, ada yang tahu apa perusahaan asal AS yang menambang emas di negara kita? Bagi yang gak tau, buru-buru beli TV ya! Perusahaan tersebut adalah PT. Freeport dan PT. Newmont. Perusahaan penjajah ini hampir menguasai seluruh potensi emas yang ada di negeri kita ini. Miris! Rakyat yang seharusnya bisa lebih sejahtera dengan menikmati hasil alamnya sendiri justru terbengkalai hanya karena kepentingan sebagian kelompok. Ckckck! Egois banget sih, yah? Padahal kalau dihitung-hitung, penghasilan bersih Freeport dan Newmont bisa mensejahterakan seluruh keluarga yang ada di pulau Jawa lho, bahkan mungkin seluruh nusantara. (Terkait hal ini akan saya coba posting di tulisan yang lain).

Kembali ke negara penghasil emas. Negara penghasil emas terbesar (dalam jumlah) masih dipegang oleh Afrika Selatan dan Australia. Negeri benua hitam itu mampu memproduksi emas mencapai 400 ton per tahun dan tercatat memiliki cadangan emas yang mencapai 6.000 ton. Australia menduduki posisi ke-2 dengan memproduksi 300 ton emas per tahun dan memiliki cadangan emas sebesar 5.800 ton. Silahkan lihat data di bawah ini:

Rank NEGARA Metrik Ton
1 Afrika Selatan* 6.000
2 Australia 5.800
3 Rusia* 5.000
4 Indonesia* 3.500
5 Amerika Serikat 3.000
6 Brazil 2.000
7 Cili 2.000
8 China 1.900
9 Uzbekistan 1.700
10 Ghana 1.600

Nb: *Data ini dinilai masih kurang valid karena ada beberapa negara seperti Afrika Selatan, Indonesia, dan Rusia yang tidak transparan dalam menyerahkan laporan basis emas yang dimilikinya. Analis memperkirakan Afrika Selatan mempunyai basis yang mengandung lebih dari 15.000 metrik ton emas sedangkan Indonesia disinyalir memiliki cadangan emas melebihi 4.000 ton. (Sumber: EIA)

Dari sekian banyak negara yang tercatat di atas, hanya Australia dan Afrika Selatan (Afsel) yang sebagian besar PDB-nya ditopang oleh sektor komoditas khususnya emas. Maka tidaklah mengherankan begitu harga emas naik, mata uang dari negara-negara ini pun akan turut menguat terhadap mata uang lain khususnya dolar Amerika (USD). Begitupula sebaliknya, ketika harga emas merosot, mata uang negara-negara ini akan cenderung melemah terhadap USD. Dengan kata lain, mata uang negara-negara ini memiliki korelasi positif terhadap pergerakan harga emas. Meski demikian, pergerakan harga mata uang mereka tak berarti sama percis dengan pergerakan harga emas. Setiap mata uang tadi memiliki reaksi yang berbeda dalam merespon gejolak emas di bursa berjangka. Respon tersebut bergantung pada porsi kontribusi emas terhadap produk domestik bruto (PDB) negaranya. Negara dengan kontribusi emas lebih besar dalam PDB-nya akan merasakan volatilitas yang tinggi pula pada pergerakan harga mata uangnya. Lalu bagaimana dengan korelasi U.S. dollar terhadap emas ini? Seperti biasa, sebelum saya bahas, silahkan perhatikan gambar di bawah ini dan bandingkan! (Jangan lanjut ke paragraf selanjutnya kalau belum memahami gambar ini!)

Pergerakan emas pertengahan tahun 2011

Pergerakan dolar Australia terhadap dolar Amerika

USD terhadap ZAR (Rand Afrika Selatan)

Udah paham? Kalau belum, lihat lagi! Kalau sudah, jangan lupa disiram ya! Eh? Biasaa, intermezzo, bro! Hehehe. Biar gak terlalu serius aja, ya kan? Sambil becanda aja belom tentu ngarti, apalagi serius?Hehehehe!

Perhatikan grafik harga emas (GOLD) dan AUDUSD, secara keseluruhan (dilihat dari pojok kiri ke pojok kanan) kedua linier ini menunjukkan trend bullish atau naik. Pada AUDUSD, pergerakan naik tersebut berarti menguatnya AUD (Australia Dollar) terhadap USD (U.S. Dollar) atau bisa diartikan sebaliknya: USD melemah terhadap AUD. Ingat, ini adalah perdagangan dua arah, apapun yang terjadi terhadap ‘X’ maka boleh dilakukan pula terhadap ‘Y’, begitupula sebaliknya, yang dilakukan terhadap ‘Y’ boleh kita lakukan pula kepada ‘X’. Tuh, sekalian gue ingetin matematika SMA nya. Kesimpulannya, AUDUSD memiliki korelasi positif terhadap pergerakan harga emas.

Sementara pada USDZAR, grafik menunjukkan pergerakan harga yang berlawanan: emas naik sedangkan USDZAR turun. Nah, jangan bingung, ini sama kasusnya dengan apa yang baru saja kita bahas di korelasi minyak dan dolar tadi. Sebelum menerjemahkan, Anda harus memperhatikan posisi yang ditempati oleh setiap mata uang pada pair yang bersangkutan. Dalam hal USDZAR ini, USD berperan sebagai base-currency yang artinya apa yang sedang terjadi pada grafik menunjukkan keadaan yang sebenarnya dari mata uang base-currency tersebut. Kalau begitu, jelas, penurunan USDZAR ini dapat diartikan sebagai pelemahan dari mata uang USD. Dari sini Anda sudah bisa menerjemahkan sendiri bahwa ZAR (South Africa Rand) sebagai counter-currency mengalami penguatan nilai tukar terhadap lawannya yaitu USD. Tentu saja, karena ZAR adalah mata uang yang berasal dari negara yang perekonomiannya ditopang oleh perdagangan emas maka apapun yang terjadi pada harga emas akan berbanding lurus terhadap mata uang ZAR. Kesimpulannya, korelasi yang terdapat pada emas dan USDZAR adalah korelasi negatif karena ketika harga emas naik, USDZAR bergerak turun dan dapat dipastikan ketika emas turun, USDZAR akan bergerak naik seperti yang sudah dijelaskan tadi.

Mekanisme seperti apa yang menyebabkan korelasi itu terjadi? Sama seperti halnya minyak dan dolar tadi, dikarenakan faktor fundamental berupa isu yang berkembang di masyarakat. Isu-isu tersebut nantinya dapat menyebabkan arus masuk atau keluarnya dana ke sebuah negara. Krisis hutang Amerika misalnya, isu ini menjadi isu terhangat yang menyebabkan merosotnya dolar pada awal tahun 2011 lalu. Diawali dengan perilisan data ekonomi yang memburuk seperti ketenagakerjaan, pengangguran, pertumbuhan ekonomi, dsb, membuat publik khawatir akan ketidakpastian dananya yang disimpan dalam bentuk dolar. Ditambah lagi pidato presiden Barack Obama yang mengindikasikan adanya kesulitan pemerintah dalam menuntaskan tugasnya. Sontak saja ketika itu dolar langsung merosot tajam sampai lebih dari 30% karena derasnya capital outflow yang terjadi. Ini, kurang lebih sama seperti yang sudah saya jabarkan pada “ANALISIS FUNDAMENTAL” namun konteks kita kali ini tidak hanya pada dolar melainkan efeknya terhadap emas.

Sampai pada saat bab ini ditulis, emas pada faktanya memiliki pertumbuhan yang lebih dari 550% dalam dasawarsa terakhir ini. Pertumbuhan emas yang signifikan bukan hanya didorong oleh nilai investasi yang dimilikinya tapi juga ia sering dijadikan objek ‘safe haven’ ketika pasar mengalami ‘risk aversion’. (Safe haven bisa diartikan sebagai evakuasi darurat sedangkan risk aversion adalah kondisi dimana pasar mengalami ketidakpastian). Pelaku pasar kerapkali memindahkan dananya ke dalam bentuk emas ketika terjadi ketidakpastian pasar. Selama ketidakpastian tersebut, emas jadi kebanjiran permintaan dikarenakan sebagian pelaku pasar yang memindahkan dananya tadi ingin tetap mendapatkan keuntungan selagi mereka tidak memegang dolar sebagai investasinya. Dari situ terwujudlah apa yang ada dalam hukum permintaan, ketika permintaan tinggi harga-harga akan naik dan ini yang akan terjadi pada emas ketika mengalami bajir permintaan akibat safe haven tadi. Alasan utama yang menjadikan emas sebagai objek safe haven adalah pertumbuhannya yang tak pernah lesu. Investor pastinya sudah menganalisis secara teknikal tentang pergerakan harga emas dan mendapati pergerakannya yang tak sedikitpun dipengaruhi trend bearish. Alhasil, para investor pun tanpa ragu memutasi dana yang mereka miliki ke dalam emas. Mungkin yang ada dipikiran mereka: dari pada gue gak untung sama sekali mendingan gue nginvest di emas, bisa ditendang nih kalo gue gak bawa uang. (Istrinya sering nyanyi lagu “Tak Bawa Uang, Abang Ku Tendang” nih kayaknya). Hahaha! Akan lebih disayang pasangan kalau Anda bisa membawa pulang yang kayak ginian nih:

Seperti itulah mekanisme yang terjadi pada korelasi emas dan dolar. Mungkin salah satu dari kalian ada yang bertanya, mengapa saya selalu mengangkat dolar Amerika sebagai pembanding? Jawabannya sederhana aja, karena dolar Amerika merupakan satuan mata uang dunia. Berbagai transaksi yang terjadi di dunia ini menggunakan dolar sebagai standar pembayarannya sehingga tidak heran kalau dolar menjadi mata uang yang paling peka terhadap segala permasalahan global. Misalnya, ketika Indonesia melakukan perdagangan baja dengan India, mereka tidak perlu lagi memikirkan akan menggunakan rupiah atau rupee sebagai alat pembayarnya karena sudah ada ketentuan standar mata uang yaitu dolar AS. Mengenai mengapa dan darimana munculnya ketentuan dolar sebagai standar mata uang dunia, coba Anda tanyakan langsung pada keluarga Rothchild dan jaringannya. #Lho?

Yang jelas, dari apa yang sudah kita bahas di bab ini, kita dapat menyimpulkan bahwa dolar dan komoditas memiliki kaitan yang sangat erat dan selalu dapat mempengaruhi satu sama lainnya. Setiap yang memiliki hubungan terhadap suatu linier, ia akan selalu terpengaruh oleh keadaan linier tersebut. Seperti itulah korelasi, seperti hatiku yang berkorelasi positif dengan hatimu. #Eeeaaa