ANALISIS FUNDAMENTAL

Comments: 1 Comment
Upper page: FOREX - Lower pages: KORELASI FOREX & KOMODITAS

Jika sebelumnya kita hanya menyinggung fundamental secara garis besarnya saja, sekarang kita mulai masuk pada tahap yang lebih detail yaitu memahami fundamental beserta unsur-unsurnya. Tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah kita pelajari dari bab-bab terdahulu, di sini kita akan mengetahui apa itu fundamental beserta unsur-unsurnya dan juga bagaimana cara menganalisis pasar berdasarkan sudut pandang fundamental.

Seperti yang kita ketahui, fundmental adalah faktor penentu (penyebab) terjadinya pergerakan harga. (Kalau diibaratkan ke dalam chord musik, fundamental ini berperan sebagai major chord). Secara harfiah fundamental merupakan suatu pernyataan atau kebenaran umum tentang suatu hal. Namun jika diterjemahkan ke dalam konteks forex, fundamental adalah kebenaran umum akan faktor-faktor global pada suatu negara atau wilayah yang dampaknya dapat mempengaruhi pergerakan harga mata uang, baik mata uang negaranya sendiri maupun negara lain. Sedangkan analisis fundamental adalah pendekatan yang sifatnya menganalisis (atau mengamati) yang mengacu pada indikator-indikator atau faktor-faktor global suatu negara/wilayah tadi seperti: kondisi perekonomian, kebijakan moneter, kebijakan politik, keadaan geopolitis, dan lain sebagainya. Pengamatan atau analisis fundamental ini bertujuan untuk memahami keadaan ekonomi suatu negara/wilayah tertentu yang nantinya dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam memprediksi pergerakan harga mata uang negara tersebut. Walaupun di sini mengandung kata “prediksi” namun tetap tidak bisa kita sama-artikan dengan gambling. Prediksi di sini jelas berbeda maknanya dengan prediksi dalam sebuah permainan judi. (Agar tidak menyimpang dari topik pembicaraan, sila baca perbedaan trading dan gambling di sini).

 

Faktor-Faktor Fundamental

Terdapat beberapa faktor dalam fundamental seperti yang sudah disebutkan di atas. Namun, jika kita himpun semua faktor fundamental yang ada ke dalam suatu kelompok, semuanya akan terkumpul ke dalam empat kelompok/kategori besar, yakni: faktor politik, faktor keuangan, faktor eksternal, dan faktor ekonomi.

  1. Faktor Politik
    Keadaan politik suatu negara/wilayah dapat dijadikan sebagai salah satu referensi atau indikator dalam memprediksi pergerakan nilai tukar mata uang negara/wilayah tersebut. Keadaan politik seringkali mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah. (Kebijakan yang berbau politis tentunya). Kebijakan tersebut pada nantinya akan sangat mempengaruhi keadaan pasar domestik. Kebijakan tersebut pula lah yang secara tidak langsung dapat menentukan masuk/keluarnya investor, baik lokal maupun asing, dari bursa/pasar negara yang bersangkutan. Namun, adakalanya keadaan politis tidak berdampak apa-apa terhadap pergerakan nilai tukar suatu mata uang.

  1. Faktor Keuangan
    Sehat atau tidaknya keadaan pasar suatu negara bermula dari kebijakan moneter dan fiskal negara tersebut. Keadaan keuangan suatu negara akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan fiskal yang ditetapkan pemerintahnya. Kebijakan moneter dan fiskal yang tidak tepat akan berdampak signifikan terhadap keadaan ekonomi dalam negeri. Misalnya saja penetapan tingkat suku bunga (interest rate). Tingkat suku bunga suatu negara merupakan tolok ukur nilai tukar mata uang negara yang bersangkutan. Tingkat suku bunga yang tinggi biasanya akan diikuti dengan penguatan nilai tukar mata uangnya. Dalam memperhitungkan dan menetapkan tingkat suku bunga, pemerintah sudah menyertakan unsur atau variabel seperti tingkat inflasi di dalamnya. Nah, dari tingkat inflasinya saja kita sudah bisa mengetahui apakah suatu negara yang bersangkutan memiliki keadaan pasar domestik yang sehat atau tidak.

  1. Faktor Eksternal
    Barangkali, pada era-era terdahulu, faktor eksternal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang suatu negara. Namun, ketika sudah memasuki era global, yang mana para investor, fund manager, dan hadge funds tidak lagi menaruh modalnya di satu negara saja melainkan meluas hingga ke berbagai negara, faktor ini menjadi sangat mempengaruhi keadaan pasar domestik suatu negara/wilayah. Perubahan keadaan ekonomi suatu negara/wilayah dapat membawa dampak yang beragam pada negara lain. Ini dikarenakan perputaran modal, perubahan arus kas, dan perpindahan portofolio yang dilakukan para investor tadi. Di samping itu, pada era global ini, kita tidak lagi mengenal batas-batas wilayah dalam melakukan investasi, sehingga seringkali keadaan ekonomi suatu negara/wilayah yang buruk berdampak pula pada negara/wilayah lain yang masih berada satu kawasan dengan negara tersebut. Hal ini dikenal dengan istilah dampak regional (regional impact). Simple nya, dampak regional adalah dampak yang terjadi dikarenakan alokasi aset dan pemindahan portofolio yang dilakukan oleh para investor mancanegara sehingga membuat keadaan pasar negara yang bersangkutan bermasalah. Oh iya, faktor eksternal ini tidak hanya terdapat pada analisis fundamental saja lho, melainkan juga terdapat di dalam sebuah hubungan pacaran maupun pernikahan. Jiaaahahahaha! *Ngawur dikit*

  1. Faktor Ekonomi
    Indikator ini merupakan indikator terpenting dalam analisis fundamental karena indi (panggilan keren indikator) ini merupakan gambaran keseluruhan dari semua faktor fundamental yang ada. Semua faktor yang sudah disebutkan tadi akan tergambar ke dalam keadaan ekonomi suatu negara/wilayah. Selain itu, faktor ekonomi mengandung semua unsur penting dalam fundamental khususnya dari sektor ekonomi, seperti:

  2. GDP (Gross Domestic Product) atau sama artinya dengan PDB (Produk Domestik Bruto). PDB ini merupakan penjumlahan dari seluruh barang dan jasa yang berasal dari pasar domestik atau dalam negeri. Produk dan jasa ini bisa berasal dari perusahaan dalam negeri maupun asing. Selama perusahaan tersebut beroperasi di suatu wilayah negara tertentu, maka pendapatannya akan dicatat sebagai PDB negara tersebut.

    GNP (Gross National Product) atau sama dengan PNB (Produk Nasional Bruto). Berbeda dengan PDB, PNB adalah penghasilan suatu negara yang berasal dari total produk barang dan jasa yang diproduksi oleh warga negaranya baik yang berada di dalam negeri maupun yang berada di luar negeri.

    Tingkat inflasi : merupakan salah satu variabel yang digunakan dalam perhitungan tingkat suku bunga (interest rate). Inflasi itu sendiri memiliki definisi melonjaknya harga-harga barang yang sifatnya relatif lama (jangka panjang) dan efeknya dapat meluas. Itu artinya tingkat inflasi merupakan ukuran atau indikator perkembangan / pertumbuhan inflasi yang terjadi dan diukur secara periodik dalam periode waktu tertentu. Tingkat inflasi juga merupakan cerminan dari PDB dan PNB dalam nilai yang sebenarnya (riil) yang dapat digunakan sebagai salah satu indikator dalam analisis fundamental. PDB dan PNB riil ini seringkali digunakan para investor sebagai pembanding antara peluang dan resiko investasinya di mancanegara. Selain itu, ada pun indikator lain dalam tingkat inflasi yang biasanya menjadi perhatian investor, yaitu:

    • PPI (Producer Price Index) atau Indeks Harga Produksi adalah indeks yang mengukur rata-rata perubahan harga yang diterima oleh produsen domestik untuk setiap output yang dihasilkan dalam setiap tingkat proses produksi. Data PPI biasanya dihimpun dari berbagai sektor ekonomi terutama sektor manufaktur, pertambangan, dan pertanian.
    • CPI (Consumer Price Index) atau Indeks Harga Konsumen adalah indeks yang digunakan untuk menghitung perubahan harga eceran yang terjadi dari setiap barang dan jasa yang diproduksi oleh kelompok tertentu.
    • Neraca Pembayaran: Neraca yang digunakan investor untuk mengetahui posisi keuangan suatu negara, apakah negara tersebut mengalami defisit atau surplus. Neraca pembayaran ini pun terbagi ke dalam dua unsur yaitu neraca perdagangan dan neraca aliran modal.
    • Tingkat Pengangguran: Ratio antara jumlah lapangan kerja dan penduduk yang tidak/belum memiliki pekerjaan namun masih dalam usia yang produktif. Indikator ini menggambarkan kondisi riil ekonomi suatu negara. Negara dengan kondisi ekonomi yang sehat tentu memiliki tingkat pengangguran yang rendah, dan sebaliknya, jika kondisi ekonomi suatu negara tidak sehat tingkat penganggurannya pun akan cenderung tinggi.
    • Kurs Valuta Asing: Indikator ini merupakan gambaran dari stabilitas perekonomian suatu negara. Negara dengan stabilitas perekonomian yang bagus biasanya memiliki mata uang yang stabil pula pergerakannya. Dan, negara dengan stabilitas perekonomian buruk, mata uangnya cenderung bergerak tidak menentu dan cenderung melemah.
    • PSNCR (Public Sector Net Cash Requirement) atau kebutuhan tunai sektor publik, merupakan kebutuhan pemerintah dalam memenuhi keperluan belanjanya dengan cara meminjam atau hutang. Indikator ini jarang sekali diperhatikan investor karena memang sangat jarang momentum yang tercipta dari indikator ini.

Fundamental ini sebenarnya memiliki kaitan yang luas, tidak hanya dengan harga mata uang namun juga harga saham, komoditas seperti minyak, gas alam, logam mulia, emas, dll. Hanya saja karena konteks pada forex adalah mata uang maka pembahasan fundamental saya batasi kaitannya dengan mata uang saja. Hubungan forex—khususnya fundamental—dengan komoditas akan saya bahas lebih spesifik pada bab “KORELASI FOREX & KOMODITAS”.

 

Unsur-Unsur Fundamental

Faktor fundamental adalah faktor yang mendominasi terciptanya sebuah trend pergerakan mata uang. Dibandingkan faktor teknikal, faktor fundamental lebih berpengaruh terhadap pergerakan harga secara keseluruhan karena memiliki unsur-unsur ekonomi di dalamnya. Unsur-unsur ekonomi tersebut dikelompokan ke dalam kategori-kategori sebagai berikut:

  • Pertumbuhan Ekonomi (Economic Growth)
  • Kebijakan Moneter (Monetary Policy)
  • Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy)
  • Tingkat Suku Bunga (Interest Rate)
  • Tingkat Pengangguran (Unemployment Rate)
  • Neraca Perdagangan (Trade Balance)
  • Aktivitas Bisnis (Business Activities)
  • Defisit / Surplus Anggaran Belanja

Akan sangat menyita waktu jika saya tambahkan penjelasan pada masing-masing unsur di atas. Namun, pada intinya semua unsur tadi akan berujung pada tingkat kepercayaan konsumen. Konsumen di sini dapat diartikan pula sebagai investor baik lokal maupun interlokal (asing). Bagaimana bisa? Jelas bisa! Bagaimana mungkin? Jelas mungkin! Bagaimana caranya? (Nah, yang ini ga bisa dijawab singkat kayak tadi, hahaha!)

Ilustrasi: Begini, (saya ambil contoh dari kondisi fundamental Amerika Serikat) ketika investor akan menginvestasikan sebagian dananya ke dalam mata uang dolar, tentu mereka akan mengamati kondisi fundamental beserta unsur-unsurnya (seperti yang disebutkan di atas) terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Singkat cerita, ternyata anggaran belanja AS sedang mengalami masalah dan mendekati defisit karena isu hutang yang menerpa negeri paman Sam tersebut. Sebagai efek domino, aktivitas bisnis negara tersebut pun menjadi berkurang, tingkat penganggurannya melonjak tajam, neraca perdagangan menjadi negatif, tingkat inflasi tidak terkontrol, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan krisis pun tidak terelakkan. Mengamati hal tersebut, investor tadi mengurungkan niatnya untuk berinvestasi dalam bentuk dolar dikarenakan dampak yang lazimnya ditimbulkan dari serentetan masalah tadi yaitu penurunan nilai dolar. Akhirnya tingkat kepercayaan investor lain pun ikut menipis (faktor psikologis). Pemerintah yang tadinya diangkat dengan mandat meningkatkan pertumbuhan ekonomi justru menunjukan fakta yang sebaliknya. Investor menjadi skeptis akan kinerja Obama beserta jajarannya dalam mengatasi masalah ekonomi Amerika. Alhasil, banyak investor yang mengalihkan dananya ke mata uang lain yang relatif lebih stabil pada saat itu seperti euro dan poundsterling, bahkan ada pula yang mengalihkan dananya ke komoditi seperti minyak dan emas. Jika sudah begini, mau/tidak mau dolarpun pasti turun karena tingkat permintaan akan mata uang tersebut lebih rendah dari pada tingkat penawarannya. (Ingat Supply & Demand pada SANG PENGGERAK HARGA).

Sekadar ngasih tau nih, kenapa saya ambil contoh Amerika Serikat dengan isu hutangnya, itu karena ini hal kontradiktif yang menarik, menurut saya. Seperti yang diketahui banyak orang, AS adalah negara adidaya dengan kekayaan berlimpah. Memang benar jika AS adalah negara kaya, lebih tepatnya kaya akan hutang. Hihihi. Asal tahu saja, Amerika Serikat tidak akan pernah mampu membayar semua hutangnya. Mengapa? Mau tau jawabannya? Tunggu sampe saya bikin postingan khusus tentang ini yah!

*Back to the topic!*

Seperti itulah contoh kecil dari analisis fundamental. Kompleks memang, karena bagaimanapun keadaan fundamentalnya, kita tidak akan pernah tahu kapan dan berapa lama persisnya dampak dari faktor fundamental tersebut akan terjadi. Tapi paling tidak kita berusaha memahami keadaan ekonomi suatu negara terlebih dahulu sebelum melakukan aksi beli ataupun jual.

 

Analisis Fundamental Sederhana

Beruntung, sekarang kita bisa dengan mudah mendapatkan informasi yang berhubungan dengan keadaan ekonomi suatu negara dengan cara mengunjungi situs-situs berita online yang menyuguhkan jadwal dirilisnya suatu berita fundamental dan bagaimana perkiraan dampak dari berita tersebut. Ya, inilah bentuk yang lebih sederhana dari sebuah analisis fundamental, yaitu dengan cara melihat kapan dirilisnya suatu berita dan melakukan entry dengan acuan data yang diberikan oleh forecaster yang ada di setiap situs berita online.

Seperti yang sudah saya jelaskan bahwa analisis fundamental mengacu pada indikator-indikator global. Namun dalam analisis fundamental sederhana ini indikator-indikator fundamental yang sering dijadikan acuan hanyalah indikator yang berhubungan dengan ekonomi, seperti:

  • GDP (Gross Domestic Bruto)
  • Retail Sales
  • Interest Rate
  • Industrial Products
  • NFP (Non-Farm Payroll)
  • CPI (Consumer Price Index)
  • PPI (Producer Price Index)
  • PMI (Purchasing Manager Index)

Masih banyak indikator yang belum saya sebutkan. Indikator-indikator yang ada nantinya akan dituangkan ke dalam berbagai macam berita yang bisa Anda lihat di situs-situs portal berita.

Macam-macam berita tersebut secara umum dibagi ke dalam tiga jenis berita, yaitu high impact news, medium impact news, dan low impact news. High impact news adalah jenis berita yang memiliki dampak yang signifikan terhadap pergerakan harga mata uang. Contohnya adalah berita yang mengandung indikator-indikator di atas. Berita jenis ini seringkali mengundang reaksi pasar yang cepat dan dengan disertai transaksi dalam jumlah besar. Itulah sebabnya berita dengan indikator seperti NFP, CPI, dan Interest Rate ini dikatagorikan ke dalam high impact news.

Jenis berita lainnya yaitu medium impact news dan low impact news tidak terlalu memiliki peran dalam pergerakan harga mata uang. Berita dengan katagori ini biasanya hanyalah pelengkap dari berita yang sudah dirilis sebelumnya yang tergolong ke dalam high impact news. Berikut contoh memanfaatkan berita sebagai acuan trading kita.

Ini adalah gambar tabel jadwal perilisan berita yang berhubungan dengan keadaan fundamental berbagai negara. Berita dengan kategori high impact ditunjukkan dengan logo file berwarna merah, medium impact dilambangkan dengan warna orange sedangkan low impact dengan warna kuning.

Selain itu ada pula data-data lain seperti ‘actual’, ‘forecast’, dan ‘previous’. Data-data inilah yang nantinya dijadikan pertimbangan pengambilan keputusan para fundament. Data-data tersebut tidak secara sembarangan dicantumkan melainkan berdasarkan fakta yang ada dan atas pengamatan dan penilaian para ahli. Berikut saya jelaskan lebih rinci setiap kolom data yang ada.

  • Date: Tanggal berapa, hari apa, dan jam berapa berita dirilis akan ditunjukkan pada kolom ini.
  • Currency: menunjukkan mata uang yang akan terkena dampak dari perilisan berita.
  • Impact: Beberapa portal berita lain memiliki ketentuan berbeda dalam menunjukkan kategori berita yang ada. Namun dalam contoh kali ini kategori berita yang memiliki signifikansi tinggi (high) ditunjukkan dengan logo berwarna merah, medium berwarna orange, dan low berwarna kuning.
  • Detail: Penjelasan dari berita yang akan dirilis. Disini biasanya dijelaskan bagaimana dampaknya jika data yang dirilis (actual) lebih kecil atau lebih besar dari data forecast yang ada.
  • Actual: Data yang dirilis akan ditunjukkan pada kolom ini.
  • Forecast: Data yang berasal dari pengamatan dan penilaian analis.
  • Previous: Menunjukkan data pada periode sebelumnya yang berfungsi sebagai tolok ukur kinerja yang telah dilakukan selama periode terakhir.

Bermodalkan data-data tadi, Anda sudah bisa mempraktekkan trading berdasarkan analisis fundamental. Hanya saja yang perlu Anda lakukan sebelum mengambil keputusan adalah mengidentifikasi jenis berita (high/low impact) dan mengenali dampak yang lazimnya terjadi jika data actual sudah dirilis. Pada jenis berita tertentu, jika data actual yang dirilis menunjukkan peningkatan dari data sebelumnya, efek yang lazimnya terjadi adalah penguatan dari harga mata uang negara yang bersangkutan. Namun lagi-lagi beruntungnya sekarang kita tidak perlu melakukan analisis yang rumit dan njelimet seperti itu sehingga membingungkan diri sendiri. Pada gambar di bawah, contohnya. Pengelola portal berita memanjakan kita dengan analisis yang simple dan praktis. (Lihat tulisan yang dikotaki warna merah).

Masih bingung juga bagaimana cara memanfaatkan data di atas ke dalam trading? Aaacchh! Masa gini aja bingung sih? Ente lagi banyak pikiran nih kayaknya, yah? Udahlaah, yang namanya jodoh tuh di tangan Tuhan, jangan terlalu dipikirin. Nikmatin dulu aja masanya. Makan, makan sendiri. Jalan, jalan sendiri. Nyuci baju sendiri. Tidurpun sendiri. Lagian jodoh tuh dikejar bukan dipikirin! *Eh, kok jadi ngewarah ginian ya?* Hehehe, just intermezzo, bung!

Ketika data yang ada sudah semua Anda dapatkan dan sudah Anda analisis harusnya Anda sudah bisa melakukan transaksi saat itu juga, tidak peduli analisis tadi Anda lakukan sendiri ataupun Anda dapat dari sebuah portal berita. Pada contoh di atas misalnya. Anda mendapatkan analisis sederhana berupa keterangan efek yang lazimnya terjadi: Actual < Forecast = Good for Currency. Jika diartikan kurang lebih seperti ini bunyinya: jika data aktual yang dirilis lebih kecil atau rendah dari data berdasarkan prediksi analis maka akan berdampak baik terhadap mata uang. “Berdampak baik” di sini sering diartikan juga bullish oleh para trader. Dari situ, Anda sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri serta memutuskan posisi apa yang sebaiknya Anda ambil. Jika Anda yakin dengan analisis yang disuguhi oleh situs berita tadi maka posisi buy lah yang seharusnya Anda ambil. Namun jika Anda ragu, Anda bisa menghindari momen ini dan mencari waktu lain yang Anda rasa tepat untuk bertrading. PERHATIAN, posisi buy pada contoh tadi artinya Anda melakukan pembelian pada mata uang negara yang bersangkutan yaitu poundsterling (GBP) dikarenakan efek yang lazimnya terjadi adalah penguatan mata uangnya atau bullish. Itu artinya Anda harus memperhatikan pair yang akan Anda transaksikan terlebih dahulu. Anda pun harus memperhatikan posisi si GBP, apakah ia sebagai base-currency ataukah counter-currency. Jika ia base-currency (seperti GBPUSD misalnya) maka buy menjadi pilihan tepat untuk Anda ambil. Namun jika ia sebagai counter-currency, buy tidak bisa Anda pilih. Mengapa? Jalan cerita akan berbeda jika ternyata pair yang akan Anda transaksikan memiliki GBP sebagai counter-currency. Euro terhadap poundsterling (EURGBP), misalnya. Efek yang akan dihasilkan berita tadi bisa saja tidak berdampak apa-apa (tidak bullish tidak pula bearish) terhadap pair ini dikarenakan mata uang pada pair ini keduanya berasal dari kawasan yang sama–yakni Eropa–sehingga keadaan fundamentalnya pun cenderung sama.

Ayo..ayo.. Gimana? Udah pada paham belom? Saya maklumi deeeh kalau masih ada di antara kalian yang belum betul-betul memahaminya. Memang analisis fundamental ini memiliki kompleksitas yang lebih tinggi ketimbang jenis analisis lain. Namun, saya pikir (setelah saya amati dan pahami tentunya) ini adalah cara yang paling efektif bagi Anda dalam memahami seluk-beluk forex trading. Analisis fundamental mengajarkan kita untuk melihat segala permasalahan dari sudut pandang yang luas. Selain itu, cara ini dapat pula mempertajam wawasan dan pola pikir Anda ke depannya.

Sebagai seorang trader Anda diharapkan bisa menjelaskan gejolak pasar tidak hanya berdasarkan sebuah grafik dan chart, tapi Anda juga harus bisa menjelaskan alasan mendasar tentang apa penyebabnya dan bagaimana semua itu bisa terjadi. Paling tidak, dari penjelasan di atas tadi, Anda sudah bisa mendapat gambaran tentang dinamika trading dari sudut pandang fundamental. Jangan sampe ada kejadian Anda ditanya lalu menjawab “itu semua kehendak Tuhan” karena saking ga taunya mau ngejelasin apa. Hehehe! Saran saya, perbanyak membaca artikel yang berbau ekonomi terutama yang menjelaskan tentang keadaan pasar global. Jika hal ini Anda lakukan dengan rajin, segala permasalahan mendasar mengenai ekonomi global dengan sendirinya Anda pahami. Percaya atau tidak, itu semua akan membantu Anda meraih profit. Ingat moto blog ini: tidak hanya profit, melainkan profit yang optimal!



Share this

1 Comment - Leave a comment

Leave a comment


Welcome , today is Thursday, October 2, 2014