Falasi soal Emas ala Warren Buffett

http://www.michaelrlewis.org

Tulisan ini datang dari sebuah polemik di sebuah grup WhatsApp yang saya ikuti dan ini menjadi yang kesekian kalinya saya ikut berpolemik melalui sebuah tulisan. Tapi, ini tidak saya tujukan khusus untuk menanggapi individu-individu yang berpolemik di situ (saya tidak tertarik dengan debat kusir). Saya lebih senang menanggapi langsung pada akar polemik tersebut, meskipun itu berarti harus berbeda pendapat untuk yang kesekian kalinya dengan orang yang saya hormati dan memang terhormat di bidangnya. Tak tanggung-tanggung, kali ini saya harus berbeda pendapat dengan orang terkaya ke-2 dunia, Warren Buffett.

Rasanya sudah tidak perlu lagi saya terangkan siapa beliau itu. Anda pun pasti sudah tahu, kan? Sepak terjangnya di pasar keuangan yang digeluti sejak usianya masih muda membawakan legitimasi kepadanya sebagai salah satu investor paling kakap yang pernah ada di abad ke-20. Hal ini terlihat dari prestisenya sejak bertahun-tahun silam yang selalu masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia versi majalah Forbes.

Sejujurnya, beliau ini salah satu inspirasi saya. Banyak ilmu yang saya ambil dari beliau, terutama dalam berinvestasi, meskipun hanya lewat buku. Ucapan-ucapannya terkait investasi sangatlah bersahaja dan bijak, yang lantas membuat banyak orang (termasuk saya) menjunjungnya sebagai nasihat. Salah satu ucapannya yang paling menginspirasi saya adalah price is what you pay, value is what you get (harga adalah apa yang kau bayar, nilai adalah apa yang kau dapat).

Ucapannya itu sangat memperjelas cakrawala saya bahwasanya dalam berinvestasi, nilai adalah yang utama. Maksudnya, kita tidak seharusnya membeli saham yang nilainya lebih rendah daripada harganya. Itu baru satu hal. Masih banyak hikmah yang bisa kita petik dari ucapannya tersebut, yang tentu tak bisa saya bahas di sini. Yang jelas, terlepas dari statusnya sebagai orang terkaya ke-2 di dunia, berbagai hal yang terlontar dari mulut beliau memang patut kita anggap sebagai nasihat atau wejangan (terkecuali soal emas, saya pikir).
 

Kata Buffett soal Emas

Sayangnya, wibawa sang tokoh sedikit rusak di mata saya setelah saya melihat rekaman pandangannya soal emas dalam acara bertajuk bisnis yang disiarkan jaringan TV Amerika Serikat (AS), CNBC. Entah kapan acara itu berlangsung, yang jelas dalam rekaman tersebut pandangan beliau terkesan antipatif dan tendensius — sangat tidak arif diutarakan seseorang yang memposisikan dirinya sebagai investor, apalagi investor yang mengedepankan nilai-nilai kewajaran (baca: value investor) seperti beliau.

Setelah saya telusuri, ternyata itu bukanlah pertama kalinya ia menunjukkan sikap seperti itu soal emas. Ia tercatat sudah berulang kali melakukannya, bahkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Hasil penelusuran saya menunjukkan kalau tahun 1998 adalah tahun dimana ia pertama kali melontarkan pandangan antipatifnya itu. Berikut rangkumannya, mulai dari ketika ia menjadi pembicara di Harvard tahun 1998 (#1):

It gets dug out of the ground in Africa, or somewhere else. Then we melt it down, dig another hole, bury it again and pay people to stand around guarding it. It has no utility. Anyone watching from Mars would be scratching their head.

Emas dikeruk dari tanah di Afrika atau tempat lainnya. Kemudian kita meleburkannya, mengeruk lubang yang lain, membenamkannya lagi, lalu membayar orang untuk menjaganya. Emas tidak memiliki kegunaan. Siapapun yang melihatnya dari Mars akan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Di majalah Fortune tahun 2012, ia mengutip pernyataan senada yang sebelumnya telah ia buat dalam surat tahunan untuk para pemegang saham Berkshire Hathaway (#2):

Gold will never produce anything, but that are purchased in the buyer’s hope that someone else — who also knows that the assets will be forever unproductive — will pay more for them in the future. Tulips, of all things, briefly became a favorite of such buyers in the 17th century. This type of investment requires an expanding pool of buyers, who, in turn, are enticed because they believe the buying pool will expand still further. Owners are not inspired by what the asset itself can produce — it will remain lifeless forever — but rather by the belief that others will desire it even more avidly in the future.

Emas takkan menghasilkan apapun, tapi diperjual-belikan karena si pembeli berharap orang lain — yang sebenarnya pun tahu aset itu takkan menghasilkan apapun — akan membayar lebih untuknya di masa depan. Bunga tulip, apapun jenisnya, hanya sesaat menjadi favorit para pembeli pada abad ke-17 [merujuk pada fenomena Tulipomania di Eropa pada masa itu]. Jenis investasi ini membutuhkan kumpulan pembeli yang terus bertambah, yang, juga akan, tertarik untuk membeli karena mereka anggap kumpulan pembelinya akan terus bertambah. Para pemilik emas tidak tergugah dengan apa yang aset itu bisa hasilkan — dia tetap takkan menghasilkan apapun selamanya — tapi lebih karena keyakinan bahwa orang lain akan lebih berhasrat memilikinya di masa depan.

Dia bahkan beranalogi dalam tulisannya itu (#3):

Today the world’s gold stock is about 170,000 metric tons. If all of this gold were melded together, it would form a cube of about 68 feet per side. (Picture it fitting comfortably within a baseball infield.) At $1,750 per ounce – gold’s price as I write this – its value would be about $9.6 trillion. Call this cube pile A.

Let’s now create a pile B costing an equal amount. For that, we could buy all U.S. cropland (400 million acres with output of about $200 billion annually), plus 16 ExxonMobils (the world’s most profitable company, one earning more than $40 billion annually). After these purchases, we would have about $1 trillion left over for walking-around money (no sense feeling strapped after this buying binge). Can you imagine an investor with $9.6 trillion selecting pile A over pile B?

A century from now the 400 million acres of farmland will have produced staggering amounts of corn, wheat, cotton, and other crops — and will continue to produce that valuable bounty, whatever the currency may be. ExxonMobil will probably have delivered trillions of dollars in dividends to its owners and will also hold assets worth many more trillions (and, remember, you get 16 Exxons). The 170,000 tons of gold will be unchanged in size and still incapable of producing anything. You can fondle the cube, but it will not respond.

Saat ini, persediaan emas dunia sekitar 170.000 metrik ton. Jika semua emas ini disatukan, akan terbentuk sebuah kubus dengan ukuran 68 kaki di setiap sisinya. (Hampir seukuran lapangan kasti tertutup). Pada harga $1,750 per troy ons — harga emas saat saya membuat tulisan ini — nilainya akan setara dengan $9.6 triliun. Sebut ini opsi A.

Mari sekarang kita buat opsi B dengan nilai yang sama. Untuk itu, kita bisa membeli semua lahan pertanian AS (400 juta hektar dengan hasil produksi sekitar $200 miliar per tahun), ditambah 16 perusahaan ExxonMobil (perusahaan paling menguntungkan di dunia, dengan pendapatan lebih dari $40 miliar per tahun). Setelahnya, kita akan punya sisa sekitar $1 triliun untuk berjalan-jalan (tidak akan ada perasaan terkekang dengan pembelian ini). Bisa Anda bayangkan seorang investor dengan modal $9.6 triliun lebih memilih opsi A ketimbang opsi B?

Satu abad berikutnya, 400 juta hektar lahan pertanian akan menghasilkan nilai yang tak terbayangkan dari jagung, gandum, kapas, dan hasil panen lainnya — dan akan terus memproduksi hasil yang berharga itu, tidak peduli seperti apa nilai tukarnya nanti. ExxonMobil kemungkinan akan memberikan triliunan dolar dalam bentuk dividen kepada para pemegang sahamnya dan juga akan menguasai aset-aset bernilai lebih (dan, ingat, Anda dapat 16 perusahaan Exxon). 170.000 ton emas tidak akan berubah bentuknya dan tetap tidak mampu menghasilkan apapun. Anda bisa memanjakan kubus itu, tapi dia takkan menanggapi.

Yang teranyar adalah saat beliau menjadi narasumber di CNBC tahun 2012, yangmana videonya menjadi viral di kalangan pelaku pasar keuangan hingga saat ini (transkripnya bisa Anda lihat di sini). Saat ditanya bagaimana pandangannya tentang prospek emas, beliau menjawab dengan skeptis dan membandingkannya dengan kinerja saham perusahaan yang kini ia kendalikan, Berkshire Hathaway. Ia berujar (#4):

When we took over Berkshire, it was selling at $15 a share and gold was selling at $20 an ounce. Gold is now $1,300 and Berkshire is $215,000. Or you can take a broader example. If you buy an ounce of gold today and you hold it at hundred years, you can go to it every day and you could coo to it and fondle it and a hundred years from now, you’ll have one ounce of gold and it won’t have done anything for you in between…You could buy the Dow Jones Industrial Average for $66 at the start of 1900. At the end of the century, it was $11,400, and you would also have gotten dividends for a hundred years. So a decent productive asset will kill an unproductive asset.

Ketika kami mengambil alih Berkshire, harga sahamnya $15 per lembar dan harga emas $20 per troy ons. Sekarang harga emas $1,300 per ons dan Berkshire $215,000 per lembar saham. Atau Anda bisa mengambil contoh yang lebih menarik. Jika Anda membeli satu ons emas hari ini dan Anda menyimpannya selama ratusan tahun, Anda akan tetap memiliki satu ons emas selama itu dan itu takkan memberikan Anda hasil apapun. Anda bisa membeli Indeks Dow Jones seharga $66 pada awal tahun 1900. Di penghujung abadnya, harganya $11,400, dan Anda juga akan mendapatkan dividen selama seratus tahun. Jadi, aset yang produktif akan membinasakan aset yang tidak produktif.

Dan ketika sang pembawa acara bertanya tentang nasib para investor emas, Buffett menjawab (#5):

Incidentally, they’re right to be afraid of paper money. Their basic premise that paper money around the world is going to be worthless and less over time is absolutely correct. They have the correct basic premise. They should run from paper money. But where they run to is the mistake.

Kebetulan, ketakutan mereka akan uang kertas itu benar. Dasar pemikiran mereka bahwa uang kertas di seluruh dunia akan terus tergerus nilainya dari waktu ke waktu sangatlah tepat. Mereka punya dasar pemikiran yang tepat. Sudah seharusnya mereka beralih dari uang kertas. Namun kemana mereka beralih itulah kesalahannya.

 

Sesat Pikir si Bijak dari Omaha

Dari awal saya mengikuti acara tersebut, saya tidak melihat adanya upaya dari sang narasumber untuk membuat pandangannya itu lebih berimbang, boro-boro mengoreksi pandangan-pandangannya di masa lalu. Perlu saya tegaskan sebelumnya, seorang investor yang diundang menjadi pembicara atau narasumber seharusnya mampu memberikan opini-opini yang arif, yang tidak tendensius atau malah menyudutkan pihak-pihak tertentu. Jangan karena pandangannya terhadap suatu dimensi berbeda, lantas mengolok-olok dimensi tersebut. Itu sangatlah tidak elok. Terlebih dalam dunia keuangan, yang notabene penuh ketidakpastian, yang tak seorang pun tahu bagaimana nasibnya di masa depan. Maka, bersikap tendensius terhadap suatu dimensi sangatlah tidak dapat dibenarkan.

Tentu saja saya pun tidak bermaksud tendensius terhadap suatu dimensi dengan mengkritisi pandangan-pandangan Buffett itu. Saya hanya berusaha untuk objektif melihat segala persoalan tanpa ingin sedikit pun memihak apalagi mendiskreditkan pihak-pihak terkait. Saya juga hanya ingin meluruskan sesuatu yang menurut pemahaman saya kurang tepat agar tidak menimbulkan kesesatan berpikir (falasi) baru, paling tidak pada pembaca yang awam — yang mungkin juga sudah mendengar akan hal ini. Bukankah apa yang saya lakukan ini termasuk bagian dari idealisme investor yang selalu disarankan dan dicontohkan oleh Buffett sendiri?

Baiklah, mari kita telaah satu per satu argumen-argumen Buffett di atas. Argumen pertamanya (#1) benar-benar membuat saya tidak mengerti mengapa investor sekaliber beliau bisa melontarkan kalimat sedemikian rupa. Ya memang seperti itu aktivitas dalam memproduksi emas. Namun berbicara emas tidak memiliki kegunaan selagi terdapat banyak overhead dalam proses produksinya, terlalu sembrono saya kira.

Emas adalah sebuah industri yang menyerap lapangan pekerjaan. Atau singkatnya: emas menghasilkan lapangan pekerjaan. Dengan fakta ini, bukankah sangat jelas mengatakan kalau emas tidak memiliki kegunaan adalah sebuah falasi? Jika ada yang masih sulit menerima ini, silakan pikirkan tentang Freeport yang mengeruk emas kita.

Di samping itu, sepertinya ia lupa (saya gunakan asumsi sopan) dengan hakikat emas yang sebenarnya. Biar saya perjelas. Jauh sebelum uang kertas muncul ke permukaan, emas sudah lebih dulu ada dan dipergunakan sebagai alat tukar. Pun bahkan hingga usia Buffett memasuki masa kepala empat (40 tahun, dimana kesuksesannya semakin mendulang), sesungguhnya emas masih menjadi alat penyangga perdagangan yang menyertai segala aktivitasnya.

Sedikit mengulas, dari tahun 1900 sampai dengan 1971 emas merupakan bagian dari sistem moneter AS. Kala itu dolar yang ada masih disangga oleh si logam kuning. Ya, setiap dolar yang dicetak pada masa itu diukur dengan jumlah emas yang ada di brankas bank sentralnya (sistem ini disebut Standar Emas atau Gold Standard). Dengan kata lain, emas adalah dolar pada saat itu. Dengan segala keuntungan yang Buffett dapatkan dari dolar yang ia investasikan dulu, apakah pantas jika kemudian ia menyebut emas tidak berguna?

Dan ingat, ia adalah pemilik Berkshire Hathaway yang merupakan induk dari empat perusahaan perhiasan, yakni Ben Bridge Jeweler, Borsheims Fine Jewelry, Richline Group, dan Helzberg Diamonds. Tiga di antaranya memproduksi perhiasan-perhiasan dari emas seperti kalung, gelang, anting, cincin, dan lain sebagainya. Maka sebetulnya ia telah mematahkan argumennya sendiri bahwasanya emas memang berguna dan dapat menghasilkan.

Terlebih, yang seharusnya juga ia ingat adalah, selama masa itu (periode 1900 – 1971 -red) emas bernilai tetap (fixed) di kisaran $20-$30 dan bukan merupakan alat investasi. Masyarakat AS bahkan tidak diperbolehkan membeli emas melebihi nilai setara $100 saat itu sampai Presiden Gerald Ford mencabut larangan tersebut di tahun 1974. Sementara Buffett mengambil alih Berkshire Hathaway pada tahun 1962 (saat emas bernilai $30 hingga satu dekade selanjutnya), bagaimana mungkin ia dengan gamblangnya membandingkan kinerja emas dengan perusahaannya itu sejak saat ia mengakuisisinya (#4)?

Meskipun memang faktanya kinerja emas kalah dari Berkshire Hathaway pada sebagian besar perspektif, itu tidak membuat pendapat Buffett bisa begitu saja diterima. Bagaimanapun, dalam perspektif atau timeframe yang lebih sempit, kinerja emas masih lebih baik daripada perusahaan besutannya tersebut (lihat grafik di bawah).

Kinerja emas vs. Berkshire Hathaway (BRK. A) dalam 15 tahun terakhir.
Kinerja emas vs. Berkshire Hathaway (BRK. A) dalam 15 tahun terakhir.

Pembaca yang jeli mungkin akan melontarkan kritik atas data di atas bahwa saya tidak fair dengan menentukan timeframe yang memang mendukung pendapat saya secara sepihak. Tidak masalah, memang itulah poinnya. Saya hanya ingin menyampaikan kritik yang sama pada “si bijak dari Omaha” atas pendapatnya itu.

Emas adalah Emas dan Akan Tetap Seperti Itu
Lalu, menyamakan emas dengan bunga tulip (#2) sangatlah tidak tepat dan, lagi-lagi, sembrono. Jelas-jelasan karakteristik keduanya berbeda, bahkan jika hanya bicara pada kelas komoditas sekalipun. Tak perlulah bicara kelas alat tukar atau uang karena sebuah benda harus memenuhi tiga aspek penting untuk itu, yakni quality, reliability, dan durability. Dan emas adalah satu-satunya benda yang dapat memenuhi ketiga aspek itu secara sekaligus. Itulah mengapa emas masih diterima hingga saat ini.

Saya juga tidak mengerti dengan jalan pikir Buffett yang membandingkan prospek emas dengan ExxonMobils (#3). Dia bilang ketimbang menyimpan kubus emas besar bernilai triliunan dolar, lebih baik nilai tersebut dipakai untuk membeli lahan pertanian dan belasan perusahaan ExxonMobils. Alasannya, perusahaan tersebut berpotensi terus memberikan dividen hingga 100 tahun ke depan.

Pemikiran beliau itu cukup membuat saya berpikir keras. Apakah ini pertanda kalau ia sudah tahu bakal seperti apa dinamika industri minyak 100 tahun ke depan? Apakah ExxonMobils masih akan tetap menguntungkan atau bahkan eksis nantinya? Apa jangan-jangan teori peak oil itu memang hanya bualan? Jawaban pertanyaan-pertanyaan ini mestinya adalah iya jika pemikirannya itu tidak ingin disebut falasi. Kalau tidak, julukan “The Oracle from Omaha” mungkin tak akan pantas lagi ia sandang. Bagaimanapun, kritiknya adalah tidak ada satu manusia pun yang tahu kondisi di masa depan. Paling tidak itulah pendirian pribadi saya. Meskipun ia punya julukan “the oracle” (yang dapat pula diartikan peramal), tetap saja ia hanya makhluk ciptaan.

Lagi pula, banyak faktor yang membuat emas kemungkinan tetap akan terus digemari. Yang utama adalah karena sifatnya sebagai safe haven. Artinya, emas adalah alat yang mampu melindungi kekayaan pemiliknya dari inflasi. Ia juga bisa menjadi “bantalan” tatkala dunia dilanda krisis keuangan. Bahkan bukan hanya individu, instansi sekelas bank sentral pun masih gemar menyimpan emas.

Mereka (bank-bank sentral -red) tahu mereka butuh sebuah bantalan apabila krisis datang sewaktu-waktu, dan satu-satunya benda yang bisa mereka andalkan adalah emas. Itulah mengapa emas yang mereka simpan disebut dengan cadangan (reserve). Bahkan The Fed — bank sentral negara dimana Buffett tinggal — menjadi salah satu yang paling rajin mengoleksi dan paling banyak memiliki emas. Mestinya ia bisa lebih mempermasalahkan hal tersebut ketimbang kemana orang-orang mengalihkan dan melindungi kekayaannya (#5).

Yang paling utama dari yang utama adalah, hakikat emas sebagai uang. Sangat tidak mudah, bahkan mustahil saya kira, menghilangkan persepsi itu dari benak masyarakat dunia mengingat penggunaannya sebagai uang sudah ada sejak zaman batu. Apalagi emas dan perak sering disebut dalam berbagai kitab seperti Al-Quran dan Alkitab, yang seolah menjadi jaminan akan eksistensi dan kegunaannya di masa yang akan datang. Malah dalam Islam ada hadist yang berbunyi:

Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain dinar (emas) dan dirham (perak).

-Masnad Imam Ahmad Ibn Hanbal

Meski begitu, Buffett tetap seorang yang memukau bagi saya. Saya terpukau dengan tindakannya yang banyak tidak sejalan dengan perkataannya. Salah satunya seperti yang sudah saya singgung di atas, yangmana ia mengatakan emas tidak berguna meskipun ia berinvestasi besar pada perusahaan-perusahaan yang sumber pendapatannya berasal dari emas. Saya juga terpukau dengan surat tahunannya yang penuh berisikan nada skeptis terhadap emas meskipun beberapa hari setelahnya ia kembali mengakuisisi perusahaan tambang emas.

Barangkali inilah bukti dari perkataan beliau kalau idealisme itu memang penting bagi seorang investor. Ketika ada hal-hal yang di luar kebiasaan atau diberitakan secara tidak berimbang, idealisme mampu menuntun mereka untuk mengambil sikap yang sesuai dengan pemahamannya yang disandarkan pada ilmu. Saya tidak menyangka kalau ternyata wejangan beliau itu justru akan saya gunakan untuk mengkonter perkataan beliau sendiri.

Pada akhirnya, saya harus mengajak Anda, pembaca yang terhormat, untuk juga bisa memiliki idealisme dalam berinvestasi. Jikapun ingin sebatas mengikuti panutan Anda yang notabene hanya manusia biasa, maka ikutilah apa yang ia kerjakan, bukan yang ia katakan. Kalau tidak, Anda akan “tergoreng” oleh bandar atau investor-investor kakap yang memang hobinya seperti itu.

2 Komentar

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *