Ketidakadilan sebuah Arisan

Shutterstock.com

Arisan menjadi ajang perekat tali persaudaraan di tengah-tengah masyarakat bukanlah suatu hal yang aneh. Malah, aktivitas ini sudah dianggap sebagai sebuah keharusan bagi beberapa kalangan. Biasanya ajakan untuk ini akan datang pasca kelulusan ataupun perpisahan sebuah komunitas atau kegiatan.

Sebagai makhluk sosial, mempererat tali persaudaraan tentulah penting dan sangat dianjurkan untuk kita lakukan. Namun, apakah harus selalu berupa arisan? Bagaimana jika salah satu teman kita bukanlah orang yang mampu untuk itu, apakah dia tidak berhak untuk juga ikut mempererat hubungannya dengan kita? Tolong jangan jawab kalau orang tersebut tetap bisa ikut namun di acara lain yang terpisah karena itu sama saja dengan diskriminasi.

Sekalipun kita asumsikan semua teman kita adalah orang yang mampu, tetap saja uang yang kita setorkan untuk arisan tiap putarannya itu tidak akan menjadi aset baik bagi kita karena uang tersebut tidak bertumbuh.

Mari kita hitung-hitungan. Anggap ada sebuah komunitas arisan konvensional (arisan biasa) yang secara keseluruhan beranggotakan 12 orang. Iuran dilakukan sebulan sekali dengan nilai Rp1.000.000 setiap bulannya selama 12 bulan. Ini artinya masing-masing anggota berhak mendapatkan Rp12.000.000 pada gilirannya nanti.

Yang perlu diketahui sebelum berhitung lebih jauh, ada hal mencolok yang jarang diperhatikan dalam model arisan ini, yaitu sisi keadilannya (fairness). Maksudnya, dalam model arisan ini terdapat anggota yang diuntungkan dan yang tidak diuntungkan. Dia yang menang pertama (mendapat giliran pertama) adalah yang paling diuntungkan dan dia yang menang terakhir (mendapat giliran terakhir) adalah yang paling tidak diuntungkan. Meskipun judulnya sama-sama menang dengan nominal uang yang sama, tapi nilai riil yang didapat berbeda. Mengapa? Ini dikarenakan adanya pengaruh waktu pada nilai uang atau yang biasa kita sebut nilai waktu dari uang (time value of money).

Dengan contoh kasus di atas, nilai bersih yang bisa didapat masing-masing anggota adalah Rp11.000.000 setelah dikurangi iurannya sendiri untuk satu putaran. Tugas kita selanjutnya adalah membandingkan nilai tersebut saat diterima di putaran pertama dengan putaran terakhir. Pendekatan yang bisa kita gunakan untuk itu, yaitu:

Ingat, ada dua premis di sini: 1) Rp11 juta yang diterima di putaran pertama dan 2) Rp11 juta yang diterima di putaran terakhir. Premis pertama sudah tidak perlu lagi kita utak-atik karena Rp11 juta itu sudah menjadi PV-nya. Sekarang kita hanya perlu mencari PV uang Rp11 juta di premis kedua. Jumlah periodenya (n) sudah diketahui, yakni 12 bulan atau satu tahun. Selanjutnya, tingkat bunga (i) termudah yang bisa kita gunakan dalam hal ini adalah rata-rata inflasi, yang selama sepuluh tahun terakhir ini berkisar 6%. Dengan begitu:

Sekarang jelas sudah kalau uang Rp11 juta yang diterima di putaran pertama memiliki nilai riil yang lebih besar daripada yang diterima di putaran terakhir. Bahasa sederhananya, Rp11 juta saat ini lebih menguntungkan ketimbang Rp11 juta tahun depan. Tak heran kalau pemenang arisan pertama dikatakan sebagai yang paling diuntungkan dan yang terakhir sebagai yang paling tidak diuntungkan.

Masih belum yakin? Baiklah mari kita balik keadaannya. Mari sekarang kita carikan FV Rp11 juta pada premis pertama untuk dibandingkan dengan Rp11 juta pada premis kedua. Rumusnya masih sama, namun dengan posisi yang berbeda:

Dengan n dan i yang sama, maka:

Makin jelas kan? Secara PV, premis pertama lebih baik daripada premis kedua (Rp11.000.000 > Rp10.377.358). Begitupun secara FV, premis pertama lebih baik daripada premis kedua (Rp11.660.000 > Rp11.000.000). Inilah mengapa saya tidak suka dengan arisan. Selain karena ketidakadilan tadi, arisan juga saya pandang sama dengan utang. Bedanya, ini dikemas dengan acara-acara sosial. Satu-satunya model arisan yang saya rasa cukup adil adalah model arisan lelang, meskipun tetap saja sama-sama utang dan saya tidak suka. Semoga dengan ini teman-teman yang pernah saya tolak ajakan arisannya mengerti. Juga, semoga tulisan ini bisa menjadi pencerahan bagi teman-teman pembaca pada umumnya.

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *