Delapan Siasat agar Anda Lebih Hemat dan Tidak Membuang-buang Uang

huffingtonpost.com

Biaya hidup yang terus meningkat nampaknya adalah suatu keniscayaan yang tak terelakkan. Oleh karenanya, memahami bagaimana cara mengelola keuangan dengan sebaik-baiknya menjadi suatu keharusan bagi siapapun yang ingin tetap eksis dalam kehidupan. Intinya, seseorang harus bisa memposisikan dirinya pada kondisi dimana uang yang ia keluarkan tidak lebih besar daripada uang yang ia hasilkan. Sederhananya, pengeluaran harus lebih kecil daripada penghasilan. Atau bisa juga penghasilan harus lebih besar daripada pengeluaran. Terserah saja, tergantung dari sisi mana orang tersebut memfokuskan.

Akan tetapi, tidak bisa dimungkiri kalau pos-pos pengeluaranlah yang sering kali menjadi tantangan terbesar kita. Sebesar apapun penghasilan kita, tak akan ada artinya kalau dibarengi dengan pengeluaran yang sama pula besarnya. Sebabnya, tidak terlalu penting seberapa penghasilan kita. Yang paling penting, seberapa yang bisa kita sisakan pada akhirnya.

Tak mengherankan jika kemudian pos-pos pengeluaranlah yang menjadi sasaran untuk dievaluasi. Menariknya, banyak pengeluaran yang sifatnya tricky dan sebetulnya bisa kita akali. Saya bisa katakan hal ini sudah teruji, meskipun baru pada diri saya pribadi. Anda tertarik mencobanya sendiri? Silakan coba delapan siasat berikut ini:
 

1. Bawa Uang Pecahan Besar

Setahun belakangan ini, saya sibuk dengan sebuah praduga kalau sifat boros saya disebabkan, salah satunya, oleh terlalu banyak/seringnya saya membawa uang pecahan kecil. Saya ingin membuktikan kebenarannya dengan mengubah kebiasaan isi dompet saya itu, yang biasanya banyak uang recehan, dengan uang pecahan besar (Rp50.000 dan Rp100.000). Percaya atau tidak, hasilnya memang positif alias terbukti benar. Data pada aplikasi pencatatan keuangan yang saya gunakan menunjukkan kalau di tahun yang bersangkutan pengeluaran saya jauh lebih irit. Awalnya saya ragu, masa iya hal seperti ini bisa mengubah prilaku konsumtif seseorang. Namun, hasil riset dari satu universitas di Inggris menghilangkan keraguan saya itu.
 

2. Manfaatkan Sinar Matahari

Bukan panel surya yang akan saya bahas. Lagian, saya belum pernah menggunakan panel surya, jadi saya tidak tahu seberapa besar penghematan yang bisa dilakukan dari alat tersebut. Yang saya sudah lakukan adalah mengganti atap rumah saya dengan atap transparan yang dapat membawa masuk sinar matahari, khususnya untuk ruangan yang memang kurang terjangkau sinar. Dengan demikian, orang-orang di rumah tidak perlu lagi menyalakan lampu saat siang hari. Alhasil, biaya listrik pun jadi lebih kecil. Ventilasi udara terbuka juga sangat membantu dalam hal ini.
 

3. Cat Cerah Tembok Rumah

Yang ini sebagai pelengkap dari siasat nomor 2. Selain membuat ruangan lebih terang tanpa lampu, cat tembok cerah, utamanya putih, dikatakan dapat meredam suhu udara. Sehingga, rumah akan lebih sejuk yang pada akhirnya mengurangi biaya listrik untuk berbagai alat pendingin udara.
 

4. Bersihkan Peramban dan Buat Akun Baru sebelum Belanja Online

Harus saya akui, saya banyak terbantu dengan yang satu ini. Bermula dari lupa password saat ingin berbelanja pakaian online di salah satu marketplace fashion ternama, saya memutuskan secara spontan untuk membuat akun baru. Tidak lama setelahnya, saya mendapatkan email kalau saya berhak atas diskon sebesar Rp75.000 untuk pembelian pertama saya. Saya pun tidak menyia-nyiakannya. Keesokan harinya, saya mencoba lagi membuat akun baru dari perangkat yang sama dengan harapan dapat potongan yang sama. Awalnya tidak berhasil. Namun, setelah saya bersihkan cache peramban (browser) saya, saya kembali mendapatkan diskon tersebut. Saya tidak tahu apakah ini bisa dimanfaatkan di marketplace lain (saya belum mencobanya). Yang jelas, di marketplace yang saya maksud ini, cara ini berfungsi. Saya tidak ingin mengiklankannya, jadi, silakan cari sendiri ya marketplace yang dimaksud.
 

5. Manfaatkan Uang Recehan Logam untuk Membeli BBM

Ketika mendapatkan kembalian uang receh pecahan ratusan perak, jangan buru-buru berpikir untuk menyingkirkannya dari genggaman. Amankan saja dulu. Jangan dibuang atau jangan pula Anda simpan sembarangan hingga nantinya Anda lupa dan tidak peduli. Bagaimanapun recehnya, uang tersebut masih punya nilai dan masih berlaku. Taruhlah di suatu wadah untuk ditabung. Atau jika Anda merasa tidak betah menabungnya, gunakanlah untuk kepentingan sosial seperti kotak amal, pengemis, pengamen, ataupun “Pak Ogah”. Atau jika tidak tega juga, gunakan saja untuk membeli BBM kendaraan Anda. Uang-uang itu akan bermanfaat untuk menutupi selisih yang dapat saja terjadi saat kita mengisi BBM.

Seorang teman yang bekerja sebagai staf operator di sebuah SPBU pernah berkata kalau jalannya argo tidak selalu sesuai dengan BBM yang dikeluarkan. Kandungan angin menjadi salah satu penyebabnya, katanya. Belum lagi dengan rumor-rumor miring lainnya seputar pengisian BBM. Jadi, gunakan saja untuk membeli BBM. Tidak perlu merasa aneh atau tidak enak dengan si operator jika kita ingin mengisi BBM senilai Rp100.700. Toh, harga BBM itu sendiri juga sering kali seperti itu, kan?
 

6. Maksimalkan Penggunaan Perlengkapan Mandi

Ini juga sering jadi sumber pemborosan. Bagi yang perlengkapan mandinya masih disediakan orangtua, mungkin tidak akan terasa demikian. Tapi tidak bagi mereka yang harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Pasta gigi, sabun cair, dan sampo boleh saja sudah menipis, namun pastikan dulu sampai mereka benar-benar “habis” sebelum Anda menggantinya dengan yang baru. Saya beri tanda kutip pada kata habis karena pengertiannya tidak saya batasi pada kuantitasnya saja, melainkan pula utilitas/kegunaannya. Sabun dan sampo, misalnya, kita bisa menambahkan sedikit air dan mengocoknya agar bisa digunakan kembali sampai wanginya benar-benar hilang, kan?
 

7. Jangan Buru-Buru Membeli Buku Bacaan

Jika sedang ingin membaca atau mempelajari sesuatu hal yang baru, janganlah terburu-buru pergi ke toko buku. Mengapa? Pertama, internet sering kali sudah menyediakannya secara gratis untuk kita sekarang ini. Tinggal bagaimana cara kita mencarinya saja (Google is your friend!). Kedua, pergi ke toko buku biasanya malah lebih memakan biaya. Bagi yang hobi membaca, toko buku menjadi salah satu ujian berat dalam hidupnya. Bisa-bisa, buku yang dibawa pulang tidak seperti yang direncanakan. Atau malah bisa saja membeli buku yang dimaksud dengan tambahan buku-buku lainnya yang juga menarik sampulnya.
 

8. Berhenti Merokok

Yang terakhir ini saya khususkan bagi kalian, wahai para perokok. Tidak perlulah kita membahas halal/haramnya hukum rokok. Tidak perlulah juga kita membahas dampak buruk medisnya. Saya tahu itu semua tidak akan berpengaruh banyak. Tapi mari kita bahas sisi finansialnya saja. Jika kalian ingin berhemat jutaan rupiah setiap tahunnya, berhentilah merokok! Jika kalian berkomitmen untuk rutin berkurban kambing kelas A setiap tahunnya, berhentilah merokok! Jika kalian berkomitmen membangun portofolio investasi bernilai jutaan rupiah setiap tahunnya, berhentilah merokok!

Tidak peduli seberapa besar penghasilan kalian sehingga kalian tidak merasa terbebani sama sekali dengan sebungkus rokok seharga Rp15.000 setiap harinya, berhentilah! Alihkanlah pengeluaran itu untuk hal-hal yang saya sebutkan tadi. Alihkanlah ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Jadilah orang yang lebih bermanfaat bagi sekeliling kalian. Jangan sampai kalian baru terpikir untuk berhenti merokok ketika hal-hal yang tidak diingankan terjadi pada kalian. Sekali lagi, berhentilah merokok!

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *