Raja Mansa Musa, Raja Salman, dan Inflasi

Ilustrasi Raja Mansa Musa (Pinterest.com)

Kedatangan Raja Salman ke Indonesia beberapa waktu lalu membuat heboh masyarakat. Bukan hanya soal momen bersejarahnya, tapi juga soal bawaannya. Sang penjaga dua kota suci umat Islam itu membawa rombongan yang jumlahnya tidak main-main, hingga 1500 orang. Beliau juga membawa uang hingga ratusan triliun rupiah untuk ditanamkan di sini. Belum lagi soal akomodasi liburannya di Nusa Dua, Bali yang tentu memerlukan kocek tambahan yang tak kecil angkanya. Ini betul-betul mengingatkan saya pada kisah seorang raja dari Mali bernama Mansa Musa.

Kisahnya mirip, dimana Raja Mansa Musa ingin bertolak dari negaranya menuju Mekah. Bedanya, kunjungan Raja Musa bertujuan untuk ibadah, yakni Ibadah Haji. Transportasi yang ia gunakan pun bukan pesawat Boeing 747 Jumbo Jet, melainkan hanya dengan unta. Maklum saja, beliau hidup di abad ke-14, zaman dimana pesawat belum diciptakan. Eits, tapi jangan sekali-kali Anda pikir perjalanannya tak menghebohkan. Malah perjalanannya lebih menghebohkan dari kunjungan Raja Salman ke Indonesia, saya kira, dimana terdapat puluhan ribu prajurit dan warga sipil yang menyertai sang raja.

Yang lebih hebohnya lagi, rombongan tersebut membawa emas dalam jumlah yang masif, yang para antropolog yakini paling sedikitnya ada 100 unta yang masing-masingnya membawa 300 pon emas. Belum lagi ditambah 500 budak yang membawa perlengkapan pribadi sang raja yang juga berlapis emas. Tidak perlulah kita tambah lagi dengan kabar istri-istrinya yang juga ikut serta dengan perhiasan-perhiasan emasnya, kalau tidak ingin puyeng memikirkannya.

Sebelum tiba di Mekah, Raja Musa sempat singgah sejenak di Kairo, Mesir. Persinggahannya ini menjadi berkah tersendiri bagi penduduk Kairo saat itu dan dengan cepat menjadi buah bibir penduduk negeri-negeri di kawasan Arab. Bagaimana tidak, sang raja banyak membangun rumah, masjid, memborong berbagai macam suvenir, menyedekahkan emas-emasnya kepada kaum fakir, dan menghadiahi ribuan gram emas kepada Sultan Mesir. Begitupun ketika di Mekah dan juga Madinah, ia telah mengeluarkan banyak uang untuk berbagai macam hal serupa. Mirip dengan apa yang dilakukan Raja Salman dan rombongannya ketika berkunjung ke sini, kan?

Satu hal yang selalu membuat saya berandai-andai dari kunjungan Raja Salman, bukan hanya saat ke Indonesia namun juga ke negara-negara Asia lainnya itu, adalah dampaknya terhadap perekonomian. Akankah dampaknya sama seperti kunjungan Raja Musa ke Mesir dahulu kala? Kalau keroyalan Raja Musa berujung chaotic pada perekonomian Mesir, khususnya Kairo, bagaimana dengan Raja Salman dan rombongannya di Indonesia, Malaysia, Jepang, dan juga Tiongkok?

Ngomong-ngomong, chaotic seperti apa yang dimaksud? Tiga bulan lamanya Raja Musa singgah di Kairo. Ternyata, apa yang ia lakukan selama persinggahannya itu membangkitkan semangat oportunistis para pedagang di sana. Banyak pedagang yang menaikkan harga barangnya begitu saja, menciptakan ketimpangan penawaran dan permintaan yang mengakibatkan inflasi. Hiperinflasi lebih tepatnya. Tak hanya itu, keroyalan Raja Musa juga mengundang penduduk lain di luar Kairo untuk ikut merasakan cipratan dari uang yang tiba-tiba berlimpah dalam sirkulasi perekonomian Kairo. Ini bukan hanya menambah buruk kondisi inflasi namun juga membuat perekonomian daerah lain mati karena semua perdagangan tertuju pada Kairo.

Hingga ibadah hajinya selesai, perekonomian Kairo belum juga membaik. Hal ini memaksa sang raja dari negeri yang kaya akan garam dan emas itu untuk mengambil langkah besar sebelum kembali pulang, yakni meminjam emas yang ada sebanyak-banyaknya dari penduduk Kairo dengan bunga tinggi. Hal ini dilakukan agar jumlah uang (yang saat itu berupa emas) berkurang signifikan dari peredaran sehingga inflasi dapat tertekan (langkah ini kemudian dicontoh bank-bank sentral saat ini). Upayanya pun berhasil meskipun butuh hitungan tahun untuk mengembalikan perekonomian Kairo seperti semula. Ini kemudian membuatnya tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya orang yang dapat mengendalikan inflasi dengan tangannya sendiri. Bukan hanya itu, dengan keberhasilannya membangun peradaban di Mali pasca tamasya hajinya, ia pun dinobatkan sebagai manusia paling kaya yang pernah ada dalam sejarah, jauh mengungguli Bill Gates.

Untungnya, apa yang dilakukan Raja Salman tidak sama percis dengan Raja Musa. Mereka memang sama-sama membawa jumlah rombongan dan uang yang sangat banyak, namun cara mengeluarkannya berbeda. Kalau dulu Raja Musa mengeluarkan uangnya begitu saja, Raja Salman menyalurkannya kepada pemerintah dalam bentuk investasi sehingga terkontrol peruntukan dan peredarannya. Namun begitu, kemungkinan akan terkereknya inflasi seperti cerita di atas tetap terbuka kalau saja Raja Salman beserta rombongannya singgah lebih lama dan terus membagi-bagikan fulus serta memborong barang-barang yang ada, seperti halnya yang mereka lakukan saat berlibur di Bali. Barangkali, hal yang demikian itu lebih cocok untuk Jepang yang memang sedang bergulat dengan deflasi.
____________

Referensi: “Mansa Musa And The Empire of Mali” -Oliver P. James, 2013

Berikan Komentar