Jangan Mau Dibodohi Perhitungan THR ini!

Meme Perhitungan THR

Apakah Anda sudah pernah mendengar perumpamaan Tunjangan Hari Raya (THR) seperti pada gambar di atas? Lalu, apakah Anda termasuk yang percaya begitu saja pada perumpamaan tersebut? Semoga saja tidak, ya. Seperti halnya teka-teki matematika yang pernah saya bagikan dulu, ini adalah isu klasik, yang seharusnya tidak dibiarkan lama-lama “berkeliaran” di tengah masyarakat.

Dimana Salahnya?
Kekeliruan yang mengelabui di sini terletak pada penyetaraan jumlah minggunya dalam sebulan. Sangat tidak wajar kalau satu bulan kita setarakan begitu saja dengan empat minggu atau 28 hari, sementara faktanya sebagian besar bulan memiliki 30 / 31 hari atau setara dengan 4,28 / 4,43 minggu.

*Kecuali Februari

Jika dihitung, akan ada 52,07 minggu dalam setahun atau rata-rata 4,34 minggu dalam sebulan. Katakanlah kita gunakan pembulatan, dimana satu tahun terdiri dari 52 minggu saja, hasil yang akan kita peroleh untuk satu bulannya pun tidak akan jauh berbeda, yakni 4,33 minggu. Inilah kuncinya. Si pembuat perumpamaan di atas dengan seenaknya saja menggunakan empat minggu sebagai pembaginya, bukannya 4,33 minggu. Padahal jika perumpamaan di atas kita substitusikan penyebutnya dengan angka 4,33, hasil yang muncul akan signifikan berbeda. Mari kita bandingkan:

Jauh berbeda, kan? Dengan begini, jelas tidak salah jika mereka, para pekerja, bergembira setelah mendapatkan THR karena memang itu adalah hak mereka di luar upah, bukan sama sekali bagian dari upah/gaji mereka yang ditahan dan diakumulasikan setiap bulannya oleh kantor, seperti yang dikatakan pembual di atas.

Berikan Komentar