Kenapa Emas dan Perak Diterima sebagai Uang? Ini Jawaban Versi Ilmuwan!

Emas dan uang kertas (openwallpaper.info)
Emas dan uang kertas (openwallpaper.info)

Pernah bertanya-tanya mengapa emas dan perak memiliki nilai ekonomis sehingga diterima sebagai uang? Tenang, Anda bukan satu-satunya orang yang mengalaminya (minimal saya yang menemani — sama-sama penasaran). Keberadaan nilai pada kedua logam ini memang menjadi tanda tanya bagi sebagian masyarakat khususnya mereka yang menaruh perhatian pada sejarah perkembangannya. Kita tahu betapa emas dan perak menjadi barang yang banyak dicari di dunia ini. Kita juga tahu bagaimana keduanya menjadi simbol dari suatu kejayaan, patron dalam suatu kiasan, dan bahkan (pernah menjadi) ukuran dalam sebuah sistem keuangan. Namun, tahukah Anda tentang asal-mula nilai atau harga yang tersemat pada dua logam berkode dagang XAU dan XAG tersebut? Saya pribadi baru menemukan pencerahan terkait hal ini (bagaimana awal-mulanya emas dan perak dianggap berharga sehingga diterima sebagai uang oleh masyarakat seantero jagat), meskipun sudah banyak buku yang saya koleksi. Beruntung saya melihat acara bertemakan bisnis yang disiarkan sebuah jaringan TV Inggris beberapa waktu lalu. Dalam acara siaran ulang itu, Prof. Andrea Sella yang menjadi narasumber menjelaskannya secara ilmiah.

“Pertama-tama, mari kita lihat dengan seksama tabel periodik ini,” buka profesor kimia dari salah satu universitas di London itu sembari menunjukkan tabel periodik berukuran besar miliknya. “Beberapa unsur,” lanjutnya, “tak perlu dijelaskan panjang-lebar untuk kita abaikan sebagai benda yang bisa dijadikan uang.”

Tabel periodik unsur-unsur kimia
Tabel periodik unsur-unsur kimia

Ia menjelaskan bahwa beberapa unsur atau elemen seperti pada kelompok halogen dan gas sangat tidak mungkin digunakan sebagai uang karena unsur-unsur tersebut tidak dapat digenggam jika tidak menggunakan alat tampung. “Orang-orang tidak akan pernah menganggap kelompok unsur ini praktis apabila dipergunakan sebagai uang.” Di samping itu, kelompok ini juga sangat tidak menarik mengingat mereka tidak memiliki warna, terlebih dua di antara unsur yang ada — merkuri dan bromin — beracun. Dengan dasar ini, ia pun memvonis hal yang sama pada kelompok unsur metaloid yang di dalamnya terdapat arsenik.

Andrea kemudian mengajak pemirsa mengalihkan perhatiannya pada bagian kiri tabel dimana terdapat hidrogen, kelompok unsur logam alkali dan logam alkali tanah. Dengan penuh keyakinan ia mengatakan kalau kelompok-kelompok tersebut juga bisa kita eliminasi sebagai alternatif uang.

“Hidrogen (bersama oksigen, nitrogen, karbon, belerang, fosfor, dan selenium) adalah unsur nonlogam yang tak mungkin kita jadikan uang. Begitupun unsur-unsur pada kelompok logam alkali dan alkali tanah, mereka tidak akan pernah kita perhitungkan (sebagai uang) karena mereka terlalu reaktif. Siapa yang mau menerima uang yang sewaktu-waktu bisa mendesas dan meledak?”

Perlakuan yang sama ia tujukan pada kelompok unsur lantanida dan aktinida. Ia menjelaskan kelompok-kelompok ini tidak memenuhi kriteria sebagai alat tukar lantaran lantanida kurang langka dan penggunaannya lebih cocok untuk industri sehingga nilai ekonomisnya kecil apabila tidak digunakan dalam jumlah yang banyak. Sementara aktinida adalah radioaktif yang dapat memicu terjadinya kanker. Jika ini dijadikan uang, saya yakin nilainya akan terus merosot, bukan karena pasokannya yang meningkat melainkan permintaannya yang terus menghilang — penggunanya koit.

Maka tinggallah kita pada bagian tengah tabel. Seperti yang diperlihatkan gambar di atas, di bagian tengah tabel terdapat kelompok unsur logam transisi dan pasca transisi yang di antaranya ada perak dan emas. “namun tak satu pun (dalam kelompok-kelompok itu) yang memiliki prospek cerah sebagai uang, selain emas dan perak,” tegas sang profesor kemudian.

Andrea merinci betapa unsur-unsur tersebut memiliki kelemahan yang cukup serius. Ambil contoh, titanium dan zirkonium. Unsur-unsur ini, memang, kuat dan tahan lama namun sulit untuk dileburkan sehingga mengekstrak logam-logam ini dari bijihnya pun merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Begitupun dengan alumunium yang selain sulit diekstrak juga terlalu tipis untuk sebuah uang. “Unsur-unsur yang lainnya (dalam kelompok logam) sangat mudah berkarat dan teroksidasi sehingga bukanlah sebuah ide yang bagus apabila kita menggunakan uang yang bisa menyusutkan nilainya sendiri,” katanya.

Lalu, apa saja yang tersisa?
Dari kesemua unsur yang ada, Andrea sengaja menyisihkan delapan unsur — platinum, paladium, rodium, iridium, osmium, rutenium, emas dan perak — untuk dibahas belakangan. Alasannya karena unsur-unsur tersebut lebih menarik dibanding yang lainnya. Secara kimiawi, mereka adalah unsur logam mulia (noble metals) yang dapat berdiri sendiri dan hampir tidak bereaksi dengan unsur lainnya. Selain itu, dalam konteks perdagangan, unsur-unsur ini juga termasuk ke dalam daftar logam mulia (precious metals) yang banyak dicari.

Timbul pertanyaan kemudian, mengapa hanya emas dan perak yang dipakai sebagai uang? Bukankah logam-logam yang lainnya, katakanlah platinum dan rodium, juga memenuhi kriteria — sebagai barang berharga dan langka — untuk dijadikan alat tukar ataupun uang?

Andrea justru menganggap kelangkaannya itulah yang menyebabkan logam-logam tersebut tidak (bisa) dipergunakan sebagai uang. Keberadaannya yang sangat langka menjadikan mereka barang yang mahal dan tidak andal (reliable) dalam transaksi skala kecil, terkecuali orang-orang mau menerimanya dalam bentuk yang sangat kecil, yang berarti sangat berisiko untuk hilang. “Logam-logam tersebut juga sulit untuk diekstrak karena memiliki titik lebur yang tinggi,” tambah sang profesor.

Dengan demikian tersisalah emas dan perak. Keduanya pun merupakan barang langka namun tidak teramat langka. Dibandingkan logam mulia lainnya, emas dan perak memiliki titik lebur yang relatif rendah sehingga mudah diubah ke dalam bentuk koin, batangan, maupun perhiasan. Yang paling penting, secara kimiawi, keduanya stabil, tahan lama, dan tidak berbahaya.

Sumber: BBC World News TV

Berikan Komentar