Menerka Asa Emas di Tahun Kuda 2014

Tahun 2013 telah berlalu. Tahun itu menjadi tahun yang kelabu bagi emas karena alih-alih “memancarkan kilaunya”, Si Kuning (julukan untuk emas) justru “memudar”. Di tahun itu pula emas mengalami koreksi harga yang sangat dalam, bahkan yang paling dalam sepanjang masa, yakni mencapai 30% (year-to-date), sampai akhirnya ditutup di kisaran US$1,204 per troy ons, atau disimpulkan melemah 28% (year-on-year). Kondisi ini menjadi penurunan tahunan (annual loss) pertama dalam 12 tahun terakhir dan sekaligus menjadi rekor terburuk yang pernah ada dalam sejarah harga emas.

Ulasan
Sejatinya ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi penurunan harga emas sepanjang tahun lalu, namun kelihatannya fokus pasar lebih mengerucut pada dua permasalahan utama, yaitu: pengetatan kebijakan moneter (tapering off) dan perbaikan ekonomi negara-negara maju khususnya Amerika Serikat (AS).

Secara umum, sinyalemen pengetatan moneter oleh bank sentral AS (The Federal Reserver/The Fed) dinilai cukup mengejutkan. Di tengah-tengah kondisi ekonomi AS yang belum sepenuhnya pulih, tepatnya pertengahan Mei 2013, gubernur The Fed saat itu—Ben S. Bernanke—mengatakan akan menjalankan pengetatan tersebut lebih cepat dari apa yang telah ia perkirakan sendiri sebelumnya. Ini dikatakan mengejutkan karena beberapa prasyarat kala itu masih jauh dari kata “terpenuhi”, seperti: tingkat pengangguran—yang masih tinggi—dan tingkat inflasi—yang belum mencapai target. Sontak saja hal ini memicu terjadinya aksi spekulatif oleh para pemilik modal untuk sesegera mungkin mengalihkan asetnya ke dalam mata uang negeri adidaya tersebut. Kondisi yang demikian pada akhirnya berimbas pada harga-harga komoditas, khususnya emas—yang memang dari sebelumnya pun sudah diterpa sentimen negatif.

Sekedar mengulas, sebelum isu pengetatan moneter ini muncul emas sudah tertekan oleh rilis data dari International Monetary Fund (IMF) dan World Gold Council (WGC) yang mengatakan bahwa tren permintaan emas sampai akhir tahun 2012—mencakup seluruh aspek termasuk keperluan investasi, teknologi, dan perhiasan—menurun 4% dibanding tahun sebelumnya menjadi 4.405,5 ton, sementara pasokannya relatif tetap di level 4.453,3 ton. Selain itu emas pun tertekan faktor psikologis yang sebabkan oleh aksi segelintir orang yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam pasar keuangan, seperti: George Soros, John Paulson, dan Daniel Loeb. Mereka dikabarkan telah menjual hampir seluruh kepemilikannya di perusahaan berbasis emas dikarenakan alasan yang tidak begitu jelas.

Tak hanya itu, di tahun lalu emas pun kurang mendapatkan dukungan dari segi teknikal. Sebagaimana sudah penulis analisis pada artikel terdahulu, emas telah menembus batas-batas bawah (support levels) yang secara psikologis akan semakin mendorong komoditas itu untuk terus bergerak turun mendekati support berikutnya. Terlebih jika yang ditembus adalah level support dengan kategori kuat (strong), maka akan lebih sulit bagi emas untuk bisa kembali bergerak naik melewati level tersebut.
 

Asa Emas di Tahun 2014

Lantas, bagaimana peluang emas di tahun 2014? Untuk bisa menjelaskannya perlu dirumuskan kembali isu-isu yang masih—atau masih akan—menjadi fokus pasar di Tahun Kuda ini. Setidaknya beberapa fokus masih akan menjadi sorotan para pelaku pasar di tahun ini, antara lain: rilis data terkait tren permintaan emas dunia, kebijakan bank sentral negara-negara utama, dan stabilitas ekonomi global.

Tren Permintaan Emas Dunia
Rilis data terbaru dari WGC terkait tren permintaan emas tahun 2013 menyimpulkan, permintaan emas secara global masih mengalami kontraksi sebesar 15% dibanding tahun sebelumnya, menjadi 3.756 ton. Sejalan dengan itu, sepanjang tahun 2013 pasokan emas pun tercatat mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 4.340 ton.

Gambar 1. Sumber data: www.gold.org

Menilik data di atas, kiranya wajar jika permintaan emas mengalami penurunan. Seperti yang sudah disinggung di atas, isu pengetatan moneter oleh The Fed mampu menciptakan opini terkait perbaikan ekonomi AS yang seakan sudah di depan mata. Hal ini membuat para pelaku pasar lebih senang menjadikan dolar AS sebagai safe haven-nya ketimbang emas. Selama ini persepsi pasar dalam memandang pelindung aset atau safe haven memang lebih didominasi oleh dua hal tersebut (dolar AS dan emas –red), dimana jika perekonomian AS dianggap lebih prospektif maka investor akan lebih senang memegang dolar ketimbang aset lainnya, khususnya emas, begitupun sebaliknya, ketika investor menganggap perekonomian AS sedang dalam kondisi yang tidak stabil, atau bahkan resesi, investor berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke emas sebagai bentuk perlindungan dan penghindaran risiko (risk averse). Oleh karenanya tidak mengherankan apabila emas dikatakan sebagai “safe haven tandingan” atas dolar AS. Pergerakan emas yang berbanding terbalik (inverse correlated) dengan dolar AS pun seakan semakin menguatkan pendapat tersebut.

Kembali pada data dari WGC, meskipun secara total permintaan emas mengalami kontraksi, WGC mencatat terjadi lonjakan permintaan yang cukup signifikan dalam hal emas perhiasan dan batangan ataupun koin (sekedar info, WGC menggunakan variabel perhiasan, teknologi, batangan dan koin, produk turunan/ETF, serta pembelian oleh bank sentral dalam menghitung total permintaan emas). Catatan WGC menyebutkan, permintaan dunia terhadap emas untuk perhiasan selama tahun 2013 meningkat 17% di banding tahun sebelumnya menjadi 2.209 ton, dan untuk emas batangan ataupun koin terjadi peningkatan 28% menjadi 1.654 ton. Ini merupakan lonjakan terbesar yang pernah ada sejak WGC pertama kali merilis data permintaan emas pada 1992, dan China serta India tercatat menjadi negara dengan sumbangsih permintaan emas terbesar.

Apa yang bisa diterjemahkan dari data di atas barangkali adalah, banyak investor, khususnya di China dan India, yang mulai menyadari akan murahnya harga emas dan mulai mengakumulasinya untuk dijadikan sebagai pelindung aset mereka. Ini dapat dilihat dari permintaan emas batangan yang melonjak cukup signifikan. Selain itu kisaran harga yang dimiliki emas selama beberapa bulan terakhir pun dapat menjadi sentimen positif. Lihat saja pergerakan emas yang hanya bulak-balik di kisaran US$1,200-1,260 per troy ons. Harga tersebut adalah kisaran yang dinilai fair untuk membeli karena hampir setara dengan rata-rata biaya produksi emas yang berkisar US$1,150-1,180 per troy ons (sumber: CNBC). Secara nalar, jika harga emas terus turun melebihi kisaran biaya produksinya, akan ada banyak perusahaan tambang emas yang merugi dan mungkin saja menghentikan produksinya, dan jika ini terjadi, pasokan emas akan semakin berkurang, komoditas itu pun akan semakin langka. Kembali pada teori dasar: suatu barang yang semakin langka, harganya akan cenderung semakin mahal. Barangkali itulah yang dicerna para investor di China dan India.

Di lain sisi, kabar akan diteruskannya larangan impor emas oleh India cukup menjadi perhatian. Pelaku pasar khawatir akan semakin langkanya emas jika negara berpenduduk 1,3 milyar jiwa itu menghentikan impornya. Hal tersebut akan berujung pada disparitas pasokan dan permintaan emas, yang mana pasokan yang lebih kecil dari permintaan akan membuat harga emas melambung. Sebagaimana diberitakan, India menanggapi kebijakan yang dilakukan The Fed—yang mengetatkan stimulus—dengan menghentikan impor emasnya. Hal ini dilakukan guna menjaga stabilitas mata uangnya sekaligus perekonomiannya.

Kebijakan Bank Sentral & Stabilitas Ekonomi Global
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun kebijakan bank sentral negara-negara utama berpeluang menjadi market mover bagi pasar emas. Bedanya, jika ditahun-tahun sebelumnya hampir semua negara utama kompak melakukan pelonggaran, tahun ini kemungkinannya akan banyak bank sentral yang mengeluarkan kebijakan yang tujuannya bertolak belakang satu sama lain. Hal ini jelas akan menjadikan pasar emas semakin berdinamika.

Lantas, bagaimana dampak dari kebijakan yang variatif tersebut terhadap nasib emas? Untuk hal ini, penulis haqqul yaqin tidak seorang pun dapat menebaknya dengan akurat. Hanya saja pengalaman dapat menjadi penuntun bagi para pelaku pasar dalam menentukan sikap. Ambil contoh ketika banyak negara, dipimpin AS, melakukan pelonggaran moneter (quantitative easing) pascakrisis 2008 dengan cara menekan suku bunga acuan (interest rate) serendah-rendahnya dan mencetak uang sebanyak-banyaknya. Tak membutuhkan waktu lama, pasar mencerna kondisi tersebut sebagai langkah yang dapat menggerus nilai mata uang, terutama dolar AS, dikarenakan stoknya yang berlebihan (inflasi). Alhasil, instrumen keuangan seperti pasar mata uang dan saham negara yang bersangkutan mengalami aliran modal keluar yang cukup besar karena para investor beramai-ramai mengalokasikan dana mereka ke pasar komoditi seperti emas untuk melindungi aset mereka.

Tahun ini sekiranya memang akan menjadi tahun yang berat bagi emas karena isu kebijakan pengetatan moneter dari AS mampu membuat modal yang ada kembali ke pasar uang dan saham. Persepsi pasar adalah, dilakukannya pengetatan moneter didasarkan pada perekonomian AS yang sudah membaik, paling tidak berdasarkan indikator yang diinginkan gubernur bank sentral AS—tingkat pengangguran rendah dan inflasi di atas 2%. Meskipun demikian, beberapa hal perlu dikritisi. Pertama, pada saat diwacanakannya pengetatan, perekonomian AS sungguh belum menunjukkan perbaikan, bahkan beberapa analis menilai kondisi tersebut masih sangat jauh dari target bank sentral. Kedua, bahkan ketika telah dilakukannya pengetatan, tepatnya pada Desember 2013, beberapa di antara prasyarat yang diinginkan bank sentral masih belum terpenuhi—kinerja sektor perumahan yang masih buruk, pengangguran masih tinggi, dan tingkat inflasi yang masih belum menyentuh 2%. Ketiga, wacana penghentian stimulus dinilai sangat sulit untuk dilakukan. Para analis menilai AS sudah sangat ketergantungan dengan stimulus sehingga jika itu dihentikan justru akan membuat kepanikan, yang tidak hanya akan terjadi di AS melainkan pula di berbagai penjuru negara.

Skenario terburuk yang mungkin dihadapi dunia global saat ini memang adalah penghentian stimulus oleh The Fed. Bank sentral negara-negara yang terikat dengan dolar AS dalam menjalankan roda moneternya pun mau tidak mau harus menyesuaikan kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian negaranya. Perubahan kebijakan moneter tersebut nantinya akan berdampak besar pada stabilitas ekonomi global, yang mana jika ekonomi global stabil pasar uang dan saham akan lebih diminati, dan jika tidak, dana dipastikan akan lari dari instrumen keuangan tersebut untuk nantinya beralih ke instrumen yang mampu menjadi pelindung nilai aset bagi para investor.
 

Studi Teknikal

Seperti biasanya, menganalisis emas tidak akan lengkap jika tidak dibarengi dengan analisis teknikal. Oleh karenanya, juga untuk mencari posisi-posisi yang ideal dalam berinvestasi emas, mari kita lakukan studi teknikal pada grafik komoditi berkode XAU ini.

Gambar 2. Skenario pergerakan harga emas menggunakan Fibonacci Retracement dan Exponential Moving Averages. Klik kanan pada gambar, lalu klik “open in a new tab” untuk melihat gambar secara lebih jelas.

Seperti terlihat pada grafik di atas, penulis hanya menggunakan dua jenis alat bantu dalam membuat skenario pergerakan harga emas ke depan, yakni: Fibonacci Retracement (fibo) dan Exponential Moving Average (EMA). Kedua alat bantu tersebut berfungsi untuk menentukan batasan-batasan (support/S & resistance/R) yang mungkin akan disentuh emas di waktu-waktu mendatang.

Dalam kasus ini, terlihat emas baru saja menembus batas psikologis di level $1,300 (S1) beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 14 Februari 2013 (saat tulisan ini disusun, emas bertengger di level $1,318). Meskipun masih belum terlalu solid untuk dapat dikatakan menembus, namun level ini menjadi level tertinggi yang pernah disentuh emas selama empat bulan terakhir. Pandangan penulis, $1,260-1,300 merupakan level yang krusial bagi emas untuk jangka pendek karena beberapa kali emas terlihat berusaha menembus level tersebut namun selalu gagal (pullback). Selain itu, penilaian penulis didasari pada garis EMA berwarna merah yang mulai pecah/tertembus (broken) beberapa waktu silam. Seperti yang bisa dilihat, garis EMA merah berkali-kali menjadi penghalang bagi emas untuk bergerak naik sehingga level tersebut layak disebut strong resistance (karena sudah tertembus, sekarang menjadi strong support) untuk jangka pendek.

Selanjutnya, emas berpeluang untuk terus bergerak naik menuju target terdekat (R1) di level $1,390, dengan syarat komoditi ini mampu mempertahankan posisinya di atas level $1,300 dalam beberapa hari ke depan (paling tidak sampai candle baru di grafik mingguan terbentuk atau terkonfirmasi menembus). Jika tidak, perlu diwaspadai karena potensi emas untuk kembali bergerak ke level terrendah sembilan bulan di $1,180 (S2) cukup besar. S2 menjadi strong support bagi emas jangka panjang karena level ini berkali-kali mampu menahan laju penurunan emas dan dianggap sebagai batas yang setara dengan rata-rata biaya produksi emas global, seperti yang sudah disinggung sebelumnya.

NB: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan dari institusi-institusi tertentu. Segala pendapat yang dikemukakan bukanlah merupakan rekomendasi dalam menentukan posisi, baik itu jual ataupun beli. Segala keputusan investasi beserta risikonya dengan hormat penulis serahkan sepenuhnya kepada pembaca.

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.