Belajar Saham (II): Mekanisme Perdagangan dan Pembentukan Harga

Gambar: Flickr

Guna melengkapi konsep pemahaman dalam berinvestasi saham, penting bagi para investor untuk mengetahui mekanisme-mekanisme yang ada di dalamnya. Harapannya, investor mampu menjelaskan tak hanya soal apa itu saham melainkan pula bagaimana ia diperdagangkan dan bagaimana harga saham dapat terbentuk. Oleh karenanya ulasan kali ini akan difokuskan pada dua permasalahan utama, yaitu: mekanisme perdagangan dan mekanisme pembentukan harga.

Mekanisme Perdagangan Saham
Sebagaimana diketahui, salah satu cara menghimpun dana bagi perusahaan adalah dengan melepas atau menjual saham. Penjualan saham pun bisa dilakukan dengan berbagai cara namun yang paling populer adalah melalui pasar perdana (primary market) atau yang biasa disebut penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).

Pasar perdana adalah pasar dimana saham (atau efek lainnya) diperdagangkan pertama kali sebelum nantinya diperdagangkan di pasar sekunder. Dalam pasar perdana, perdagangan yang terjadi bersifat satu arah (hanya ada transaksi beli dengan pihak penjamin emisi) dan ditentukan pada harga yang tetap (fixed) sesuai yang telah disepakati dengan penjamin emisi. Permintaan yang melampaui (oversubscribed) atau pun yang tak mencapai target penawaran (undersubscribed) merupakan situasi yang biasa terjadi di pasar perdana. Akan tetapi, situasi tersebut tidak akan langsung mempengaruhi harga karena memang hukum penawaran-permintaan (supply-demand) belum memainkan perannya sebagai pembentuk harga dalam pasar ini.

Setelah proses pada pasar perdana terpenuhi, perdagangan selanjutnya bisa diteruskan melalui pasar sekunder (secondary market), dimana aksi jual-beli terjadi setiap harinya. Jika pada pasar perdana investor hanya berurusan dengan penjamin emisi (underwritter) maka pada pasar sekunder investor bisa melakukan perdagangan dengan investor lainnya (tidak lagi bersifat satu arah). Hukum permintaan-penawaran pun mulai berperan dalam hal ini. Harga saham yang booming ketika mulai diperjualbelikan di pasar sekunder biasanya ditandai dengan situasi kelebihan permintaan pada saat penawaran perdana. Sebaliknya, saham biasanya melempem jika permintaan pada saat penawaran perdana tidak memuaskan atau bahkan tidak memenuhi target.

Di Indonesia, perdagangan saham bisa dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat tulisan ini disusun, setidaknya sudah ada 486 emiten yang melantai di BEI, yang semuanya terbagi ke dalam sepuluh sektor, dimana kinerja keseluruhannya diukur dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Mekanisme Pembentukan Harga
Harga saham bisa berubah-ubah setiap harinya. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan harga saham sepenuhnya diserahkan kepada dinamika pasar. Dinamika seperti apa? Tentu saja suatu keadaan yang dapat mempengaruhi banyaknya penawaran dan permintaan akan saham tersebut. Sebagaimana diketahui, ekonomi “pasar” menyuguhkan doktrin penawaran dan permintaan (supply & demand) dalam pembentukan harga barang.

Memahami doktrin di atas tidaklah sulit. Kita hanya tinggal menerjemahkannya secara sederhana: permintaan yang lebih banyak daripada penawaran akan membuat harga saham naik, sedangkan permintaan yang lebih sedikit daripada penawaran akan membuat harga saham turun. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apa sebetulnya yang mempengaruhi banyaknya permintaan dan penawaran tersebut? Inilah yang sulit dimengerti. Dalam dunia saham, faktor-faktor permintaan dan penawaran, sebagaimana dijelaskan dalam disiplin ilmu ekonomi, tidak selalu bisa menjadi jawaban yang valid atas pertanyaan tadi. Terdapat dimensi lain dalam hal ini.

Setiap investor tentu memiliki pertimbangannya sendiri-sendiri dalam memperdagangkan saham. Pertimbangan tersebut mencakup berbagai hal, mulai dari strategi sampai dengan “kata hati”. Investor sejati sudah tentu memiliki strategi (berupa analisis: teknikal maupun fundamental). Lain dengan spekulan, yang mungkin lebih menitikberatkan kepada hal yang sifatnya menerka-nerka atau ikut-ikutan (klenikal). Pertimbangan-pertimbangan inilah yang membuat pasar saham berdinamika. Selanjutnya, pasar akan “merekam” dinamika yang ada secara akumulatif, yang nantinya menjadi penentu arah pergerakan harga saham.

Kesimpulannya, penawaran dan permintaan memang betul menentukan harga. Hanya saja sulit untuk menerangkan apa yang sebetulnya memicu penawaran dan permintaan tersebut. Namun paling tidak, terdapat dua bentuk analisis (seperti yang disinggung di atas) yang bisa kita gunakan untuk mempelajari sifat dan karakteristik pasar saham. Semoga di kesempatan berikutnya kita bisa membahas analisis tersebut secara lebih spesifik.

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *