Esensi Konflik Israel-Palestina dari Sisi Geopolitik & Ekonomi

ytimg.com

Sedikit melenceng dari konteks pada tulisan-tulisan terdahulu, kali ini saya fokuskan tulisan saya pada peristiwa yang terjadi di daerah konflik, Palestina. Sebagaimana sebuah propaganda bekerja, dalam artikel ini saya pun memiliki hal-hal terselubung untuk disampaikan kepada khalayak. Katanya terselubung, kok disampaikan terang-terangan?

Namun, tidak seperti propaganda pada umumnya, hal-hal yang ingin saya sampaikan tidaklah bersifat offensive melainkan hanya defensive, yakni meluruskan pemahaman yang selama ini berkembang terkait fenomena yang terjadi di Timur Tengah sana, khususnya Palestina dan Israel. Ya! Ini merupakan prinsip dasar dunia perpropagandaan; propaganda harus dilawan dengan propaganda. Sebelum membahas secara detil apa yang sebenarnya terjadi di Palestina dan Israel, ada baiknya saya menyampaikan fakta terkait dua negara tersebut terlebih dahulu.

 

Sejarah Singkat Berdirinya Negara Israel

Tidak bisa dipungkiri bahwa Israel merupakan negara yang dibalut dengan segudang kontroversi dan konspirasi dalam pendiriannya. Mereka (Israel-red) menduduki tanah sengketa yang mereka rebut dari penduduk aslinya, Palestina.

Awalnya, dunia tidak mengenal kata Israel sebagai nama sebuah negara yang berdaulat1). Sampai suatu saat kaum yahudi bersiasat untuk menduduki tanah yang mereka yakini sebagai tanah leluhur mereka. Aqidah atau keyakinan tersebutlah yang mendorong mereka melakukan segala cara untuk dapat menjadikan Palestina sebagai tempat tinggal mereka.

Termasuk di antara salah satu cara tersebut ialah berkonspirasi dengan sejumlah negara di Eropa dan Amerika. Mereka bermaksud memecah belah kekhilafahan Ustmaniyah yang kala itu menjadi penghalang utama kaum yahudi dalam melancarkan aksinya.

Khilafah Ustmaniyah dengan pemimpinnya Sultan Abdul Hamid merupakan penjaga setia bangsa Palestina. Mereka (para khilafah) berulangkali melakukan perlawanan dan mengusir bangsa-bangsa Eropa yang berusaha merebut kekuasaan di Palestina. Sampai pada akhirnya kaum yahudi dengan sekumpulan gerakan bawah tanah mereka, salah satunya Freemasonry, berhasil menaklukan kejayaan Sultan Abdul Hamid.

Sejak saat itu, pada kisaran tahun 1917, kaum yahudi lainnya mulai berbondong-bondong bermigrasi ke tanah Palestina dan mendirikan tempat tinggal di sana. Kaum yahudi semakin percaya diri setelah Inggris—sebagai negara yang turut membantu menaklukan bani Ustmaniyah pada Perang Dunia I—mengeluarkan mandat terkait eksistensi kaum yahudi pada Konferensi San Remo di tahun 1920.

Pascapendudukan bani Israil di Palestina, masih sering terjadi perselisihan antara penduduk asli Palestina dengan kaum imigran tersebut. Sampai suatu ketika (1947) PBB dengan sewenang-wenang membagi negara tersebut menjadi dua bagian. Resolusi PBB tersebutlah yang menjadi cikal bakal pembentukan negara yahudi yang saat ini dikenal dengan sebutan Israel.

1)Kedaulatan Israel sebagai negara tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari negara-negara di dunia. Beberapa negara khususnya negara yang mayoritas penduduknya beragama islam seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dll, tidak mengakui kedaulatan tersebut.

 

Motif Geopolitik dan Ekonomi

Perselisihan yang terjadi antara Israel dan Palestina memang tidak secara eksplisit terkait faktor akidah, namun tidak menutup kemungkinan kondisi-kondisi yang saat ini dijadikan kedok suatu saat akan secara jelas mengarah kepada akidah yang akan berujung pada perang agama. Terlepas dari kaitannya dengan akidah, rasanya patut pula kita telusuri motif lain yang ada di balik perselisihan dua negara yang dalam Al-Quran dikatakan akan terus berseteru hingga akhir zaman (hari kiamat) ini.

Peningkatan eskalasi ketegangan di Jalur Gaza yang terjadi belakangan ini menjadi tak jelas penyebabnya karena masing-masing pihak, baik Israel maupun Hamas, saling mengklaim bahwa diri mereka hanya melakukan upaya bela diri atas serangan yang dilancarkan satu sama lainnya. Persoalan seakan menjadi semakin pelik karena masing-masing pihak menolak menghentikan serangan sebelum ada yang bersedia melakukannya terlebih dahulu. Kondisi tersebut tentu akan berdampak pada perluasan konflik yang tidak mungkin tidak menimbulkan korban jiwa dari pihak sipil. Namun, bukan itu (siapa yang menyerang dan diserang) sebetulnya substansi yang terdapat pada konflik ini, melainkan pesan politik yang hendak disampaikan salah satu pihak, yakni Israel, kepada dunia internasional, yaitu eksistensi.

Secara geopolitis, Israel memiliki keterkaitan yang erat dengan Amerika Serikat. Israel menjadi negara yang strategis untuk dijadikan instrumen bagi Amerika dalam melaksanakan segala kebijakannya di Timur Tengah. Mungkin yang akan menjadi pertanyaan adalah mengapa mesti Israel yang dijadikan alat oleh Amerika? Ini dikarenakan hubungan yang telah terjalin sejak lama antara Amerika dengan kaum yahudi, bahkan sejak sebelum didirikannya negara Israel sekali pun. Selain itu, baik Amerika maupun kaum yahudi itu sendiri, sama-sama merupakan bekas tawanan Inggris pada era abad ke-17. Sehingga tak heran kalau Amerika dan Israel terlihat seperti kakak dan adik yang saling mendukung satu sama lainnya.

Kembali pada persoalan konflik Israel-Palestina. Jika ditilik lebih dalam, jelas sekali terdapat target-target yang hendak dicapai negara kakak-beradik tersebut dalam konflik ini, dan masing-masing memiliki targetan-targetannya tersendiri. Meskipun hanya berupa hipotesis atau opini dari sebuah produk analisis, khalayak patut tahu apa saja sebenarnya yang hendak dicapai Israel dan Amerika dalam konflik ini.

 

Target Israel
Paling tidak, ada tiga target utama yang hendak dicapai Israel dalam pertempuran dengan Hamas di Jalur Gaza, yakni:

1) Mempersulit proses kemerdekaan Palestina. Dengan dilatarbelakangi peperangan, Israel berusaha mendapatkan simpati dunia internasional dengan dalih bahwa negaranya menjadi korban atas serangan roket yang diluncurkan Hamas. Dengan demikian, dan masih sesuai harapan Israel, publik dunia internasional akan menjustifikasi perlu dilakukannya pelucutan senjata Hamas sehingga Israel dapat terbebas dari serangan roket. Sejalan dengan itu, publik dunia internasional akan dikuasai opini buruk tentang Hamas yang mengakibatkan mereka mempertimbangkan kembali kemerdekaan Palestina.

2) Mendominasi kawasan. Dengan menghancurkan basis-basis Hamas, Israel akan secara tidak langsung meningkatkan hegemoninya di kawasan. Ini pun sangat dimungkinkan ditujukan terhadap Iran yang mereka anggap sebagai ancaman karena pengembangan senjata nuklirnya. Selama ini Hamas dikenal sebagai tangan kanan Iran dalam membendung dominasi Israel di kawasan.

3) Legitimasi. Jika berhasil menghabisi Hamas, Israel akan dapat menguasai dan mengendalikan Jalur Gaza sepenuhnya, serta memastikan tidak ada lagi barang yang masuk ke Gaza dari perbatasan Mesir yang dapat membahayakan warganya, mengingat selama ini Israel mencurigai Mesir berkongkalikong dengan Iran dan Hamas dalam mensuplai persenjataan. Dengan begitu Israel akan mendapat legitimasi atau pengakuan dari negara-negara internasional khususnya di kawasan.

 

Target Amerika
Sedangkan yang mungkin menjadi target Amerika di balik konflik ini, antara lain:

1) Menggagalkan kemerdekaan Palestina. Sama halnya dengan Israel, Amerika sebetulnya tidak merestui Palestina menjadi anggota tetap dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dengan kata lain, Amerika tidak mendukung kemerdekaan yang diidam-idamkan rakyat Palestina. Namun, cara yang dilakukan Amerika terbilang cerdik karena tidak secara langsung menyatakan ketidaksetujuannya melainkan dengan memanfaatkan permusuhan Israel dan Palestina.

“Rengekan” Israel yang mengklaim negaranya menjadi korban serangan roket Hamas akan dengan otomatis menciptakan opini buruk terhadap Palestina di mata publik internasional, suatu hal yang akan mengakibatkan Palestina lebih sulit untuk merdeka. Dengan demikian, kegagalan Palestina untuk merdeka seakan-akan bukan menjadi tanggung jawab Amerika, melainkan karena adanya empati dunia terhadap Israel. Sepertinya Obama sangat tidak ingin mengotori janjinya saat masih berkampanye. Sekedar info, Obama pernah mengatakan akan mengupayakan yang terbaik bagi kemerdekaan Palestina ketika Ia sedang memperebutkan kursi kepresidenan melawan rivalnya saat itu, John McCain.

2) Melenyapkan pengaruh Iran di Palestina sepertinya menjadi harga mati bagi Amerika Serikat. Pasalnya, selama ini mereka tidak bisa secara leluasa mengusik program nuklir Iran dikarenakan masih adanya perlawanan dari Hamas kepada instrumen kebijakan mereka, Mendinat Israel. Amerika berdalih mereka sangat khawatir program nuklir yang dijalankan negeri Mullah tersebut akan mengancam warga dunia. Namun, beberapa pengamat politik mengatakan kekhawatiran Amerika tersebut sebenarnya lebih ditujukan kepada warga Israel dan Amerika. Bahkan ada ahli teori yang mengatakan, upaya Amerika dan Israel menghentikan program nuklir Iran itu sebagai bentuk mendiskreditkan Iran sekaligus untuk mengalihkan perhatian dunia internasional dari program nuklir yang sebenarnya pula sedang dibangun Israel.

3) Terakhir merupakan target ekonomis dan mungkin menjadi yang utama dari yang paling utama. Sebagaimana seorang kakak yang ingin menjaga adiknya, Amerika pun bermaksud menjaga eksistensi Israel di Timur Tengah. Amerika sangat bergantung pada minyak yang sebagian besar didatangkan dari kawasan Arab tersebut. Dengan eksistensi Israel, Amerika akan lebih mudah menguasai sumber-sumber minyak di Timur Tengah khususnya di Mesir, Yordania, dan Libanon. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menggerakkan industri bisnis mereka. Amerika akan sangat bersyukur apabila upayanya tersebut tidak mendapat kendala dari Hamas, terlebih jika mereka mampu menaklukkan dan menguasai sumber minyak yang ada di perut bumi musuh abadinya, Negara Republik Islam Iran.

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *