Profil: Menabung & Investasi

PENGANTAR

Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas dua hal (aktivitas) yang kiranya dapat dikatakan ‘serupa tapi tak sama’. Dua aktivitas tersebut yakni menabung dan berinvestasi. Nah sebelumnya, manakah yang sudah Anda lakukan? Apakah menabung atau berinvestasi? Atau mungkin sudah melakukan keduanya? Atau malah tidak kedua-duanya? Hehehe! Saya harap tidak ada satu pun dari pembaca sekalian yang mewakili pertanyaan terakhir saya tadi.

Latar belakang yang mirip dari menabung dan berinvestasi menggugah saya untuk menjadikan keduanya sebagai topik pada tulisan kali ini. Adapun yang akan saya angkat dan tekankan pada artikel ini adalah penjelasan serta gambaran umum seputar menabung dan investasi. Tujuannya supaya pembaca dapat memahami aspek-aspek yang membedakan dan melatarbelakangi dilakukannya kedua aktivitas tersebut.

Lebih jauh, saya berharap tidak ada lagi di antara pembaca—Anda pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya—yang “buta” akan kedua aktivitas ini—terutama berinvestasi. Selain itu, nantinya, Anda diharapkan dapat memanfaatkan dengan baik dan bijak kedua aktivitas ini sesuai dengan kebutuhan demi kepentingan masa depan Anda. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menjadi pencerahan bagi Anda sekalian. Semoga!

 

MENABUNG & INVESTASI

Banyak di antara kita yang menyadari betapa pentingnya menabung. Namun sayang, tak sedikit pula yang belum sepenuhnya paham akan motif dan tujuan yang sesungguhnya ada di balik menabung itu sendiri. Lebih parahnya, masih banyak pula yang tidak bisa membedakan pengertian antara menabung dan berinvestasi. Lantas jika demikian, apakah kegiatan ‘menyimpan uang’ yang dilakukan sudah bisa dikatakan benar atau memenuhi aturan? Saya rasa tidak! Sebelum melakukan keduanya dengan benar, tentu Anda harus memahami terlebih dahulu latar belakang serta pengertian dari masing-masing aktivitas tersebut.

Secara harfiah, menabung adalah kegiatan menyimpan atau menyisihkan uang untuk dikumpulkan, baik itu dilakukan di bank, celengan, pos, ataupun tempat lainnya. Sedangkan investasi, merupakan kegiatan menanam modal (biasanya berupa uang) dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan (return) atau nilai (value) yang lebih besar—di masa yang akan datang—dari modal yang ditanamkan.

Jika hanya dilihat secara sepintas, memang latar pada kedua aktivitas tersebut sangatlah mirip. Modusnya pun sama, yakni sama-sama ‘menyimpan uang’. Namun lebih dalam, terdapat beberapa hal mendasar yang membedakan keduanya. Hal-hal utama yang membedakan menabung dengan berinvestasi antara lain:

  1. Tujuan dan kebutuhan
  2. Ekspektasi dana (demi memenuhi kebutuhan)
  3. (Jangka) Waktu
  4. Alternatif/pilihan produk

******

Tujuan dan Kebutuhan
Hakikatnya, segala yang kita lakukan sudah tentu memiliki maksud dan tujuan. Karena dengan adanya tujuan (goal) segala aktivitas yang kita lakukan akan menjadi lebih terarah. Begitupun dengan menabung dan berinvestasi, keduanya haruslah dilakukan dengan tujuan yang jelas agar dapat berjalan teratur dan terarah demi memenuhi kebutuhan yang dicita-citakan. Namun, meskipun sama-sama dikatakan memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan di masa depan, terdapat motif yang berbeda yang melatarbelakangi keduanya.

Pada menabung, motif yang menyertai biasanya didasari oleh kebutuhan yang sifatnya semu (sesaat), dan difaktori oleh adanya ketidakpastian akan suatu hal di masa depan, seperti menghadapi hal-hal yang tidak terduga (sakit, kecelakaan, dll), untuk cadangan kebutuhan, jaminan masa tua/pensiun, kebutuhan anak-anak, membeli barang, liburan, dsb.

Begitupula dengan berinvestasi, salah satu alasan dilakukannya investasi adalah terdapatnya ketidakpastian di masa depan. Namun, motivasi yang melandasi dilakukannya investasi sangatlah berbeda dengan menabung. Yang menjadi motivasi utama dalam berinvestasi adalah ekspektasi akan perubahan nilai modal yang terus berkembang setiap waktunya dan bersifat jangka panjang. Dengan demikian, investor (sebutan bagi para pemilik modal) dapat memenuhi kebutuhan yang ada dengan memanfaatkan perkembangan nilai modal yang diperoleh. Dengan kata lain, dalam keadaan normal, seorang investor dapat menggunakan keuntungannya tanpa perlu khawatir hal tersebut akan mengurangi nilai modal awalnya dikarenakan perputaran modal yang akan terus berkembang.

 

Ekspektasi Dana
Dalam kaitannya dengan ekpektasi dana, penabung biasanya mengharapkan besaran nilai yang lebih spesifik atas dana yang ingin mereka dapatkan. Mereka biasanya menentukan terlebih dahulu berapa dana yang harus mereka kumpulkan, barulah setelah itu mereka mulai menabung. Hal ini seringkali dikarenakan konsep berpikir yang mengharuskan mereka mengumpulkan uang hanya ketika mereka sadar akan adanya kebutuhan tertentu yang harus mereka penuhi.

Berbeda dengan investor yang pada umumnya tidak menentukan besaran nilai yang ingin mereka peroleh secara spesifik. Ini dikarenakan adanya ketidakpastian return (pengembalian/keuntungan) dan risk (resiko) yang selalu menyertai mereka dalam melakukan suatu investasi. Mereka umumnya tidak menjadikan apa yang ingin mereka penuhi sebagai motif dilakukannya investasi. Yang mereka tahu hanyalah reward/return yang besar dan menguntungkan. Sehingga pola berpikir yang tercipta ialah mengumpulkan uang terlebih dahulu, barulah setelah itu mereka menentukan kebutuhannya. Hmm.. Iya juga sih, kalau uangnya ada, ya…enak-enak aja mau ngapain juga. Lha kalau mau ngapa-ngapain tapi gak ada uangnya?? Hehehe! Teori high risk, high return berlaku dalam hal ini, yang mana semakin besar keuntungan yang dapat diperoleh, semakin besar pula resiko yang harus dihadapi.

 

Jangka Waktu
Barangkali ini menjadi salah satu indikator pembeda yang menarik menurut saya. Pasalnya, tidak sedikit dari mereka yang ‘mengumpulkan uang’ namun tanpa tahu berapa lama idealnya mereka harus melakukan hal tersebut—sampai tujuan mereka tercapai tentunya. Sehingga karakteristik yang ada dari menabung dan investasi pun menjadi tak jelas “wujudnya”.

Pada menabung, jangka waktu yang diperlukan sangatlah bergantung pada besaran nilai yang ingin kita capai dan juga tekad (kedisiplinan) dalam meraihnya*. Jangka waktu yang diperlukan bisa jadi sangat singkat dikala target yang ingin kita raih tidak terlalu besar jumlahnya. Pun memiliki target dengan nilai yang besar, jika dilakukan dengan penuh keseriusan serta disiplin tinggi, waktu yang diperlukan akan dengan sendirinya terminimalisir. Ini artinya, dalam hal menabung, seseorang bisa membaginya menjadi dua kategori waktu, yaitu jangka pendek dan jangka panjang.

Lain halnya dengan investasi. Aktivitas ini baru akan terasa manfaatnya jika dilakukan dalam jangka waktu yang panjang, dan sangat tidak cocok jika dilakukan dalam jangka waktu yang singkat. Hal ini dikarenakan dalam berinvestasi orientasi investor biasanya lebih kepada capital gain atau kenaikan harga yang terjadi setiap tahunnya.

*Hal ini tentu saja tidak terlepas dari pendapatan (income) yang ada.

 

Alternatif / Pilihan Produk
Suatu bisnis biasanya memiliki beberapa produk yang dapat ditawarkan kepada para pelanggannya. Produk-produk tersebut pun biasanya sudah “dicacah” ke dalam segmen yang berbeda-beda sehingga konsumen dapat memilih produk sesuai dengan selera dan kemampuannya masing-masing. Begitu pula dengan menabung dan investasi, keduanya memiliki beberapa pilihan produk yang bisa kita pilih sesuai dengan hati nurani dan kepribadian** kita.

  • Produk Tabungan
    Ketika kita memutuskan untuk menabung di bank tertentu, maka sebetulnya kita telah “membeli” produk tabungan bank tersebut. Ya! Jasa tabungan itu sendirilah yang merupakan produk dari bank yang kita gunakan. Ada pun produk bank lainnya yang sangat mirip dengan jasa tabungan yakni ‘deposito’.

Baik jasa tabungan maupun deposito keduanya sangat cocok bagi mereka yang sangat tidak menyukai ketidakpastian dan cenderung menghindari resiko dalam hidupnya. Mengapa? Ini dikarenakan pada deposito pertimbangan yang ada seperti biaya, pendapatan, profil resiko, keterampilan mengelola, dan waktu keterlibatan sangatlah sederhana. Berdasarkan aspek-aspek tersebut, saya akan coba jabarkan hal-hal yang dapat menjadi pertimbangan investor dalam memilih produk-produk di atas:

Jasa Tabungan: Biaya yang diperlukan relatif ringan dan bergantung keinginan si penabung (namun tetap mengikuti ketentuan yang berlaku). Dari segi pendapatan, produk ini terkena inflasi; dikarenakan rata-rata bunga bank berkisar 5-6%, sedangkan inflasi mencapai 7% (sumber: BPS). Dengan kata lain, uang yang kita simpan akan mengalami depresiasi dikarenakan inflasi yang ada, bukannya terapresiasi. Jasa tabungan tidak memiliki capital gain. Resiko yang ada relatif kecil. Keterampilan yang dibutuhkan yaitu pemahaman akan perhitungan bunga dan pemilihan bank yang sehat***. Tidak memerlukan waktu yang lama saat penyetoran dan penarikan.

Deposito: Memerlukan biaya materai dan penyimpanan apabila disimpan di SDB (Save Deposit Box). Pajak bunga sebesar 20%. Dengan demikian, presentase pendapatan setelah dikurangi pajak akan lebih rendah daripada presentase inflasi (terkena inflasi). Tidak memiliki capital gain. Resiko yang ada relatif kecil. Keterampilan yang dibutuhkan yaitu pemilihan bank dan membaca syarat dan ketentuan yang diberlakukan pihak bank. Tidak memerlukan waktu yang lama saat “membeli” dan pencairan.

 

  • Produk Investasi
    Tidak hanya tabungan yang memiliki beragam produk, investasi pun memiliki berbagai jenis produk yang bisa kita pilih. Berikut adalah beberapa jenis produk investasi beserta penjabaran sesuai aspek-aspek pertimbangan di atas:

Properti: Pada pembelian, terdapat biaya komisi dan pajak yang masing-masing sebesar 0,1% dan 5% (dari Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak/NJOPTKP). Sedangkan untuk penjualan, terkena biaya komisi sebesar 0,3% dan pajak 5%. Terdapat pula pajak sewa sebesar 10%. Diperlukan biaya maintainance (pemeliharaan) berkisar 0,2 – 0,5% per tahun. Dan memerlukan biaya management fee jika dititipkan pada pengelola. Relatif tidak terkena inflasi karena adanya capital gain. Pendapatan yang dapat diperoleh selain dari capital gain yakni hasil usaha apabila properti yang dimiliki disewakan atau dikontrakkan. Resiko yang ada dinilai sedang; harga beli yang terlalu tinggi, lokasi kurang strategis, adanya vandalisme atau pengrusakan oleh pihak ketiga, terjadinya bencana yang dapat merusak, dsb. Memerlukan keterampilan memilih lokasi, negosiasi harga, pemasaran (marketing), memilih pengelola (apabila ingin dititipkan pada pengelola), dan mengatur arus kas (cashflow). Memerlukan keterlibatan (waktu) selama ±1 jam/seminggu.

Reksa dana: Memerlukan biaya: pembelian atau penempatan, pencairan, dan administrasi. Pendapatan diperoleh dari nilai aktiva bersih. Bisa terkena dan terhindar inflasi, tergantung dari kenaikan nilai aktiva. Resiko sedang. Membutuhkan pemahaman akan istilah-istilah dalam reksa dana dan keterampilan dalam memilih manajer investasi dan menganalisis data historis. Membutuhkan waktu yang relatif sedikit, yaitu 1-2jam/bulan.

Saham (Surat Berharga): Biayanya meliputi: langganan internet, broker fee atau biaya untuk pialang (jika menggunakan jasa pialang), dan biaya pada saat pembelian. Pendapatan dari capital gain atau kenaikan harga saham setelah dilakukan penjualan. Selama kenaikan harga yang terjadi belum dilikuidasi, pendapatannya masih berupa unrealized gain atau pendapatan yang belum terealisasi. Selain itu terdapat pendapatan dari dividen. Resiko sedang – tinggi, tergantung dari keahlian dalam memilih saham. Butuh keterampilan dalam menganalisis harga secara teknis dan fundamental (keadaan faktual pasar), pengetahuan akan aturan mainnya; tahu kapan masuk dan keluar pasar. Waktu yang diperlukan terbagi menjadi tiga, yaitu untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Masing-masing membutuhkan waktu 1-2 jam/hari, 1-2 jam/minggu, dan 1-2 jam/bulan.

Emas (Batangan): Membutuhkan biaya untuk: pembelian, sertifikat, penyimpanan (jika dititipkan di SDB). Terdapat capital gain. Tahan inflasi (tidak terkena inflasi). Resiko sedang – tinggi, bergantung keahlian memilih waktu masuk pasar; butuh pula keterampilan menganalisis: harga berdasarkan data sejarah yang ada (teknikal), keadaan pasar global yang mungkin mempengaruhi pergerakan harga emas, dsb (fundamental). Waktu keterlibatan bergantung dari intensitas investor dalam melakukan pembelian.

**Pemilihan produk-produk tabungan atau investasi akan sangat bergantung pada karakter dan kepribadian masing-masing individu.

***Menentukan sehat atau tidaknya sebuah bank bisa dilihat dari rasio kecukupan modalnya (capital adequacy ratio/CAR). Bank Indonesia (BI) menetapkan minimum CAR bank sebesar 8%. Jika Anda mendapatkan data CAR sebuah bank di bawah ketetapan BI, sebaiknya tinggalkan bank tersebut.

 

Nah, sekarang udah bisa bedain kan, mana menabung dan mana investasi? Hehehe.. Kira-kira itulah gambaran umum tentang menabung dan investasi yang dapat saya bagikan. Sadar akan masih banyaknya kekurangan pada artikel ini, saya mohon untuk tidak “ditimpuk bata”.

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *