Inikah Saatnya Membeli Emas?

Sejak dahulu, membeli emas dianggap sebagai salah satu cara efektif untuk melestarikan kekayaan. Bukan hanya karena kilaunya yang mempesona, pertumbuhan nilainya pun menjadi alasan di balik perburuan emas yang dilakukan oleh para pemilik modal. Oleh sebab pertumbuhannya yang signifikan, emas hampir selalu menjadi prioritas investor dalam berinvestasi. Selain itu, membeli emas pun kerap dijadikan ajang safe haven atau diversifikasi aset ketika pasar (market) sedang mengalami ketidakpastian (risk averse). Namun demikian, sebetulnya kapan sih waktu yang tepat untuk masuk ke pasar emas (baca: beli emas)?

Pada dasarnya, kapan pun kita memutuskan untuk membeli emas itu tidaklah menjadi persoalan, dikarenakan jika mengacu pada perkembangan yang ada, emas memiliki riwayat pergerakan (perkembangan harga) yang mendukung sehingga probabilitas dan kecenderungannya untuk terus bergerak naik sangatlah tinggi. Sebagai informasi, harga emas pada tahun 1980 berkisar Rp20.000/gr, dan sekarang mencapai Rp500.000/gr. Ini artinya, hanya dengan melakukan pengamatan kuantitatif pun kita sudah bisa menilai bagaimana performa emas dari waktu ke waktu.

Akan tetapi, untuk mendapatkan harga yang ideal dari emas yang akan dibeli, trader maupun investor tidak bisa mengesampingkan kajian atau pengamatan pasar yang ada. Kajian atau pengamatan yang lebih dikenal dengan analisis ini menjadi hal yang wajib dilakukan jika investor ingin mendapatkan pendapatan yang optimal atau bahkan maksimal. Bagaimana tidak, bahkan untuk mengetahui posisi yang ideal dan melakukan aksi beli pun investor terlebih dahulu harus melihat chart pergerakan harga emas dan setelah itu menganalisisnya (baca ANALISIS TEKNIKAL). Sedangkan untuk mengetahui kondisi makro yang/mungkin terjadi pada pasar emas itu sendiri, investor pun harus terus mengikuti perkembangan fundamental dari segala bidang yang mungkin saja mempengaruhi—baik secara langsung maupun tidak—pergerakan harga emas (baca ANALISIS FUNDAMENTAL).

PS: Pembelian emas yang dimaksud di sini merupakan simplifikasi, tidak mempedulikan apakah itu ‘beli’ emas spot, perhiasan, ataupun online trading.

 

OUTLOOK EMAS

Sejak penutupan tahun 2011 hingga tulisan ini dibuat, harga emas telah mencatatkan penguatan sebesar 98 pips menjadi $1.642 per troy ons atau menguat sebesar 6,3%. Fakta tersebut menunjukkan bahwa emas masih menjadi pilihan para pelaku pasar global dalam melakukan investasi. Terlebih jika melihat pergerakan emas yang mampu rally dari level penutupan tahun 2011 (di kisaran $1.544,20 per troy ons) hingga mencapai level $1.783 per troy ons, yang mana level tersebut merupakan level harga tertinggi yang pernah dicapai selama kuartal pertama 2012.

Mengutip data selaras dari World Gold Council (WGC), dalam laporannya dijelaskan bahwa permintaan emas sepanjang tahun 2011 mengalami peningkatan 0,4% (YoY) dengan volume total melebihi 4.067 ton. Tingkat permintaan tersebut sekaligus tercatat sebagai tingkat permintaan tertinggi sejak tahun 1997, yang berarti pula permintaan akan emas masih berada di teritori positif alias trend naik. Sebagai tambahan, dari peningkatan permintaan yang terjadi tersebut, presentase peningkatan terbesar datang dari permintaan emas batangan dan koin yang memberi kontribusi hingga 24% dibanding tahun sebelumnya menjadi 1.486,7 ton. Lalu, WGC pun mencatat peningkatan permintaan emas untuk keperluan investasi sebesar 5% dari tahun sebelumnya menjadi 1.640,7 ton.

Data lain yang juga mendukung adalah laporan WGC tentang penurunan tingkat pasokan emas sebesar 4% menjadi 3.994 ton di tahun 2011. Lalu kenaikan pun terlihat pada tingkat produksi emas dari pertambangan, yaitu sebesar 4% dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk tingkat suplai (supply) emas mengalami penurunan 2% hingga menjadi 1.612 ton. Jika kita kaitkan keadaan seperti ini dengan teori ekonomi (suplai turun dan permintaan naik), selazimnya emas akan mengalami kenaikan harga.

Aksi yang dilakukan sejumlah bank sentral beberapa negara juga sepertinya akan menopang peningkatan harga emas di masa mendatang. Federal Reserve (The Fed) misalnya, bank sentral AS ini secara resmi mengumumkan akan mempertahankan tingkat bunga rendah hingga akhir 2014 serta membuka peluang untuk berbagai langkah pelonggaran kuantitatif ketiga. Diikuti European Central Bank (ECB) yang juga melakukan pelonggaran likuiditas dan berencana memangkas tingkat suku bunga bank (interest rate) kawasan tersebut. Selain itu, langkah yang sama pun diambil oleh Bank of England (BoE) yang melakukan pelonggaran likuiditas perbankan serta melakukan penambahan nilai aset hingga mencapai 50 miliar poundsterling. Langkah-langkah yang diambil beberapa bank sentral tersebut identik dengan melimpahnya dana dengan biaya murah, yang tentunya akan dimanfaatkan oleh para pelaku pasar global untuk membeli atau berinvestasi pada instrumen yang mampu memberikan imbal hasil tinggi seperti emas.

Namun di balik itu semua, nampaknya emas pun tidak serta merta terbebas dari pengaruh krisis yang melanda kawasan eropa belakangan ini. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang disebabkan krisis tersebut sedikit banyak menahan laju pertumbuhan emas. Hal ini bisa dilihat dari pergerakan emas yang hanya terkonsolidasi di kisaran sempit ($1.630 – $1.700an) dalam kurun waktu yang cukup lama.

Bila dilihat dari sisi fundamental dan psikologisnya, krisis yang melanda zona eropa sudah tentu akan membuat pelaku pasar global pesimis terhadap perekonomian kawasan itu. Krisis yang diawali dengan memburuknya perekonomian Irlandia, kemudian disusul Yunani, Portugal, Italia, bahkan Spanyol ini akan melemahkan daya ekonomi masing-masing negara yang berujung pada melemahnya daya beli Eropa sebagai kawasan yang menaungi beberapa negara anggota termasuk negara-negara yang tadi disebutkan. Pelemahan ekonomi seperti ini seringkali dipicu oleh pelemahan nilai tukar mata uang yang disebabkan arus modal / dana yang seharusnya masuk untuk menopang pertumbuhan ekonomi justru “lari” keluar dan menjauh karena aksi menghindari resiko (risk avoid) oleh investor.

Timbul pertanyaan, kemana selanjutnya dana tersebut? Seperti yang sudah-sudah—dan masih kaitannya dengan faktor psikologis, investor akan mengalihkan dananya ke negara yang dinilainya memiliki kondisi perekonomian yang lebih stabil. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk mengamankan aset mereka dari keterpurukan suatu negara atau kawasan yang dilanda krisis.

Dalam kasus ini, investor nampaknya lebih senang untuk melirik Amerika Serikat (AS) dan dolarnya sebagai safe haven ketimbang emas. Alasannya adalah perilisan data-data ekonomi AS yang terus mengarah ke arah yang positif belakangan ini, seperti penurunan tingkat pengangguran, data ketenagakerjaan dan iklim bisnis yang membaik, dll. Wajar saja jika hal ini kemudian membuat laju pertumbuhan emas sedikit meredup, karena pada dasarnya emas dan dolar memiliki korelasi negatif satu sama lainnya. (Menyangkut hal ini, selengkapnya silahkan baca KORELASI FOREX & KOMODITAS).

Namun demikian, AS pun sebetulnya masih belum terlepas dari beberapa masalah yang melanda negeri adi daya tersebut. Seperti isu hutang misalnya. Hutang AS yang mencapai 95% dari total PDB-nya hampir—bahkan—dipastikan mustahil untuk terbayarkan, kecuali negara tersebut mengalami mati suri alias tidak melakukan kegiatan ekonomi apapun selama satu tahun. Isu lain yang berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian AS yakni ketegangan politik di Timur Tengah. Konflik antara AS dan Iran menjadi contoh empiris dalam hal ini. Ketegangan yang ada belakangan terbukti dapat membuat harga minyak melonjak. Jika isu-isu ini kembali mencuat, dapat dipastikan investor akan sesegera mungkin menyelamatkan dana mereka ke instrumen yang dapat tetap memberikan kontribusi profit di tengah ketidakpastian pasar yang terjadi, seperti emas.

 

STUDI TEKNIKAL EMAS

Jika mengacu pada chart, pergerakan emas secara jelas masih didominasi trend bullish (up-trend) dan sama sekali tidak menemui perlawanan yang berarti dari trend bearish (down trend). Meredupnya emas dinilai wajar dan hanya sebagai korektif sehat sebagai bentuk dari dinamika pasar yang sebenarnya. Gambar 1. menunjukkan kondisi aktual yang terjadi pada pergerakan harga emas.

Gambar 1. Grafik pergerakan emas mingguan (weekly charts).

Berdasarkan analisis grafik di atas, pergerakan harga emas memiliki kecenderungan untuk terus bergerak naik yang sangat tinggi. Hal ini dapat kita lihat dari tertahannya harga yang berulang kali ketika menyentuh atau mendekati garis putih yang dikenal sebagai garis trend (trendline). Sebagaimana yang diketahui, trendline selain untuk menunjukkan kecenderungan pergerakan harga, ia pun dapat menjadi batas tahanan yang sangat penting untuk kelanjutan pergerakan harga selanjutnya (silahkan baca SUPPORT & RESISTANCE).

Melihat kondisi teknikal yang seperti ini, rasanya emas memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk terus bergerak naik dalam beberapa minggu ke depan. Penurunan yang terjadi belakangan ini bisa kita jadikan momentum untuk mulai masuk secara perlahan ke pasar. Batasan-batasan yang ada pun bisa kita jadikan sebagai pemandu dan penentu langkah yang selanjutnya akan diambil.

Dalam hal ini, emas yang bertengger di level $1642 per troy ons memiliki potensi untuk bergerak naik dan turun yang sama kuat. Pergerakan turun akan membawa emas pada trendline sebagai level tahanan terdekat. Jika trendline tertembus maka emas akan menguji level $1564 per troy ons sebagai penahan bawah atau dikenal sebagai support. Namun jika ternyata emas kembali tertahan trendline, potensi untuk memantul hingga level $1758 per troy ons sangatlah besar, walaupun dalam perjalanannya mungkin akan diwarnai fluktuasi. Level $1758 disebut sebagai level ‘penahan atas’ atau resistance, yang jika tertembus emas akan menuju target selanjutnya di level $1800 per troy ons. Selanjutnya jika level $1800 pun berhasil ditembus, yang akan menjadi target pergerakan emas selanjutnya adalah level $1881, yang merupakan level penutupan tertinggi yang pernah dicatat emas dalam sejarah.

8 Komentar

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *